Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam
Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai kisah sejarah yang
ditulis Nabi Yesaya dalam zaman raja Hizkia. Semoga kita semua bisa mendapat
berkat dari firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.
1
Pada tahun keempat belas pemerintahan Raja Hizkia, majulah Sanherib,
raja Asyur, menyerang segala kota berkubu di Yehuda, lalu merebutnya.
Raja Asyur mengutus seorang juru minuman agung dari Lakhis ke Yerusalem
kepada Raja Hizkia disertai pasukan yang besar. Ia mengambil tempat
dekat saluran kolam atas di jalan raya pada Padang Penatu.
Lalu Elyakim bin Hilkia, kepala istana, keluar menemui dia, didampingi
Sebna, sekretaris kerajaan, serta Yoah bin Asaf, bendahara
kerajaan.
Kata juru minuman agung itu kepada mereka, “Sampaikanlah kepada Hizkia:
Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Keyakinan apa yang kaupegang ini?
Kau kira ucapan bibir saja sudah merupakan siasat dan kekuatan untuk
perang! Sekarang, siapa yang engkau andalkan sehingga engkau memberontak
terhadap aku?
Wah, engkau mengandalkan Mesir, tongkat bambu yang patah itu, yang akan
menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang padanya. Begitulah
keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua yang mengandalkan dia. Atau mungkin
engkau berkata kepadaku: Kami mengandalkan TUHAN, Allah kami. Bukankah Dia
itu yang tempat-tempat pemujaan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah
disingkirkan oleh Hizkia? Bukankah ia berkata kepada Yehuda dan Yerusalem:
Di depan mezbah ini sajalah kamu harus sujud menyembah!”
Sekarang, bertaruhlah dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua
ribu ekor kuda kepadamu, asalkan dari pihakmu engkau sanggup memberikan
orang-orang yang dapat menunggangnya. Bagaimana mungkin engkau mengusir
satu orang perwira dari antara hamba tuanku yang paling kecil sekalipun?
Padahal engkau berharap kepada Mesir untuk mendapat kereta dan tentara
berkuda!
Lagi pula, apakah tanpa TUHAN aku maju melawan negeri ini untuk
memusnahkannya? TUHAN sendiri telah berfirman kepadaku: Majulah menyerang
negeri itu dan musnahkanlah itu!”
Lalu berkatalah Elyakim, Sebna, dan Yoah kepada juru minuman agung itu,
“Berbicaralah dalam bahasa Aram kepada hamba-hambamu ini, sebab kami
mengerti. Akan tetapi, janganlah berbicara dengan kami dalam bahasa Yehuda
sementara didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok.”
Namun, juru minuman agung itu berkata, “Apakah tuanku mengutus aku untuk
mengucapkan perkataan-perkataan ini hanya kepada tuanmu dan kepadamu saja?
Bukankah juga kepada orang-orang yang duduk di atas tembok, yang makan
tahinya dan minum air kencingnya sendiri bersamamu?”
Lalu juru minuman agung itu pun berdiri dan berseru dengan suara nyaring
dalam dalam bahasa Yehuda, katanya, “Dengarlah perkataan raja agung, raja
Asyur! Beginilah kata raja: Janganlah Hizkia memperdaya kamu, sebab ia
tidak sanggup melepaskan kamu! Jangan biarkan Hizkia mempengaruhi kamu
untuk mengandalkan TUHAN dengan mengatakan: TUHAN pasti akan melepaskan
kita; kota ini tidak akan diserahkan ke dalam tangan raja Asyur.”
Jangan dengarkan Hizkia, sebab beginilah kata raja Asyur: Adakanlah
perjanjian damai dengan aku dan keluarlah menemui aku, maka setiap orang
dari antaramu akan makan dari pokok anggurnya dan pohon aranya serta minum
dari sumurnya, sampai aku datang dan membawa kamu ke suatu negeri seperti
negerimu, negeri yang memiliki gandum dan air anggur, negeri yang memiliki
roti dan kebun anggur.
Jangan sampai Hizkia membujuk kamu dengan mengatakan: TUHAN akan
melepaskan kita! Apakah pernah para ilah bangsa-bangsa melepaskan
negerinya masing-masing dari tangan raja Asyur? Di manakah para ilah
negeri Hamat dan Arpad? Di manakah para ilah negeri Sefarwaim? Apakah
mereka telah melepaskan Samaria dari tanganku?
Siapakah di antara semua ilah negeri-negeri itu yang telah melepaskan
negeri mereka dari tanganku, sehingga TUHAN sanggup melepaskan Yerusalem
dari tanganku?”
Namun, semua orang diam dan tidak menjawab dia sepatah kata pun, sebab
ada perintah raja, bunyinya, “Jangan kamu menjawab dia!”
Kemudian pergilah Elyakim bin Hilkia, kepala istana, dan Sebna,
sekretaris kerajaan, dan Yoah bin Asaf, bendahara kerajaan, menghadap
Hizkia, dengan pakaian yang dikoyak, lalu memberitahukan kepada raja
perkataan juru minuman agung itu.
Tulisan ini adalah catatan paralel yang dicatat juga dalam 2 Raja-raja 18:13-37 dan 2 Tawarikh 32:1-19. Kisah ini dicatat sebagai gambaran mengenai kejadian yang menimpa kerajaan Israel di zaman pemerintahan raja Hizkia bin Ahas. Raja Hizkia adalah raja Israel yang takut akan TUHAN. Namun, sesungguhnya kesetiaan raja Hizkia pernah diuji oleh TUHAN, Allah, sebab Ia pernah berbuat dosa sehingga ia dan Yehuda tertimpa murka. Namun, ia kemudian sadar dan berbalik dari jalan yang keliru. Hingga kematiannya Hizkia diberi penghormatan di antara raja-raja Yehuda dan Israel karena kesetiaannya kepada Allah.
Jadi dari ayat bacaan di atas, dapat kita saksikan bahwa raja dan bangsa yang setia kepada Allah, mendapat cobaan dan serangan dari musuh-musuhnya. Dalam kisah di atas, Yehuda mendapat ancaman dari Sanherib raja Asyur. Mereka mengepung Yerusalem, namun Hizkia tidak hilang akal dengan melakukan berbagai tindakan pencegahan.
Sanherib mengutus juru minuman agungnya, untuk menghasut bangsa Israel dengan mengatakan bahwa Hizkia menghasut mereka tentang Allahnya. Ia bahkan mengata-ngatai TUHAN Allah Semesta Alam, yang menyebabkan-Nya murka seperti dalam Yesaya 30 (Klik di sini untuk membaca).
Hingga akhir hasutan itu, seluruh bangsa Israel tidak menjawab, karena diperintah Hizkia mereka tidak boleh menjawab sepatah kata pun. Ini mengutamakan keselamatan mereka, agar tidak salah berkata-kata di hadapan Allah.
Hari ini, kita diingatkan oleh firman Tuhan ini, bahwa setiap kita yang hidup taat dan setia kepada Allah, tidak serta merta membuat hidup kita semulus jalan tol. Kehidupan kita yang damai dan sejahtera tidak membuat iblis tenang, melainkan ia menjadi marah. Ia pasti akan merancangkan serangan dan tipu muslihat nya kepada kita.
1 Petrus 5:8
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Jadi kita senantiasa wajib untuk menjaga kehidupan kita bersih dan hidup dalam kebenaran Allah, sehingga kita tidak dapat disentuh oleh iblis. Ingatlah kisah Ayub yang diserang iblis sejadi-jadinya, ia dapat bertahan hingga akhir, hanya karena hidupnya saleh dengan pemahaman akan Allah yang berakar kuat.
Kita sebagai hamba Tuhan yang setia, wajib menjaga kelakuan kita bersih. Namun, kita juga harus siap berperang dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Baca Efesus 6:10-20.
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis
Efesus 6:11
Amin.
Komentar
Posting Komentar