Yehezkiel 34 tentang "Gembala yang jahat dan Gembala Yang baik" Seri Nabi Besar by Febrian
24 Januari 2026
Image by Freepik.comYehezkiel 34 tentang "Gembala yang jahat dan Gembala Yang baik" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Gembala yang jahat dan Gembala Yang Baik. Semoga Allah memberikan hikmat dan pengertian-Nya bagi kita semua, agar dapat memperoleh berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Yehezkiel 34 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Nabi Yehezkiel menyampaikan firman Allah dalam kondisi keadaan Yerusalem saat itu telah jatuh ke tangan musuh, Bait Suci dihancurkan, sehingga umat Allah tercerai-berai ke pembuangan. Melihat keadaan ini, Allah memberi penjelasan, bahwa itu semua terjadi karena kesalahan dari para 'Gembala' yang menjadi pemimpin mereka.
Istilah “Gembala” dalam Yehezkiel 34 menunjuk pada raja-raja, imam, nabi, dan pemimpin politik Yehuda dan Israel, yaitu mereka yang diberi mandat untuk menjaga, membimbing, dan melindungi umat. Di dunia Timur Dekat Kuno pada masa itu, seorang raja sering disebut 'gembala bangsa', sehingga kecaman Allah ini terasa sangat sangat tajam menusuk.
Menurut Walther Eichrodt, DTh., dalam bukunya Ezekiel: A Commentary (1966), Isi dari Yehezkiel 34 adalah merupakan suatu “dakwaan ilahi terhadap kepemimpinan nasional Israel pada masa itu, yang dianggap gagal secara moral dan kerohanian.” Para gembala Israel digambarkan tidak memberi makan kawanan domba Allah, melainkan justru menyakiti dan membahayakan domba-domba itu sendiri. Dalam kesehariannya, mereka sering menggunakan jabatan untuk dimanfaatkan bagi keuntungan diri sendiri. Mereka tidak menguatkan yang lemah, tidak menyembuhkan yang sakit, tidak membawa pulang yang tersesat, dan tidak mencari yang hilang. Akibatnya, umat tercerai-berai dan menjadi mangsa bangsa-bangsa lain. Allah melihat kehancuran ini bukan sebagai kecelakaan sejarah, melainkan sebagai buah dari kepemimpinan yang egois dan kejam.
Daniel I. Block, Ph.D., dalam The Book of Ezekiel, Chapters 25–48 (1998), menekankan, bahwa perbedaan yang ditampilkan dalam Yehezkiel 34 adalah antara kepemimpinan manusia yang gagal dan intervensi langsung Allah. Ketika gembala-gembala itu gagal total, Allah berfirman, “Aku sendiri akan menjadi Gembala bagi domba-domba-Ku.” Ini adalah pernyataan yang sangat radikal. Allah tidak sekadar mengganti pemimpin, tetapi mengambil alih peran itu sendiri. Ia mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang luka, dan menguatkan yang lemah. Gambaran ini menunjukkan hati Allah yang berbelas kasihan, adil, dan setia pada perjanjian-Nya. Gembala yang baik, menurut standar Allah, bukan diukur dari kekuasaan atau keberhasilan politik, melainkan dari kepedulian terhadap yang lemah, keadilan terhadap yang tertindas, dan kesetiaan pada kebenaran.
Claus Westermann, DTh., dalam Ezekiel 1–24 dan pengantar teologinya (1978), menyatakan bahwa Allah membenci kepemimpinan yang menjadikan umat sebagai alat, bukan sebagai tanggung jawab. Gembala yang berkenan kepada Allah adalah mereka yang melihat diri sebagai pelayan, bukan pemilik dari suatu kawanan yang dipimpinnya. Hal terpenting dalam Yehezkiel 34 adalah janji Allah akan membangkitkan “satu gembala, yaitu hamba-Ku Daud”. Para teolog sepakat bahwa ini bukan sekadar nostalgia politik, melainkan pengharapan Mesianik tentang Kristus di masa yang akan datng.
Block (1998) dan John B. Taylor, Ph.D., dalam Ezekiel: An Introduction and Commentary (1969), menegaskan bahwa "Daud" yang disebut dalam Yehezkiel 34 tersebut di atas, sesungguhnya menggambarkan Tuhan Yesus Kristus sebagai Gembala yang Baik. Pesan utama Allah bagi Israel dan Yehuda pada zaman itu sangat jelas, yaitu bahwa kehancuran mereka bukan karena Allah lemah, melainkan karena kepemimpinan yang menyimpang, serta Allah tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya meskipun para pemimpin mereka tidak becus kerjanya. Pesan lain dari Allah adalah, bahwa pemulihan sejati hanya mungkin terjadi ketika Allah sendiri Yang memimpin dan umat-Nya hidup dalam keadilan dan kebenaran.
Dari seluruh firman Tuhan di atas, dapat kita renungkan, bahwa Allah sangat serius terhadap tanggung jawab para pimpinan, baik Gembala Jemaat suatu gereja, Kepala Keluarga, Boss suatu kantor, maupun tokoh masyarakat. Setiap bentuk kepemimpinan yang jahat dan mementingkan diri, yang mengabaikan yang lemah, serta memanipulasi kepercayaan orang lain, akan langsung merasakan penghakiman Allah.
Akan tetapi di sisi lain, firman Tuhan juga memberi penghiburan besar, yaitu bahwa ketika manusia mengalami kegagalan, Allah yang tidak pernah gagal, akan mencari, memulihkan, dan menjaga umat-Nya. Kita semua diajak untuk becermin, dan bertanya “seperti apa peran hidupku saat ini, apakah aku sedang menggembalakan dengan baik atau justru menghisap dan merugikan orang yang aku pimpin.” Firman ini menuntun pada satu kesadaran rohani yang dalam, bahwa kepemimpinan sejati selalu lahir dari hati yang tunduk kepada Allah dan rela melayani, bukan menguasai.
Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya
bagi domba-dombanya.
Ia mengenal mereka dan mereka mengenal Dia.
Yohanes 10:11
Amin.

Komentar
Posting Komentar