Yehezkiel 33 Part 2 tentang "Teguran Allah dan respons buruk umat" Seri Nabi Besar by Febrian
23 Januari 2026
Image by Freepik.com
Yehezkiel 33 Part 2 tentang "Teguran Allah dan respons buruk umat" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Allah yang membuka mulut Nabi Yehezkiel dan tidak bisu lagi, serta bagaimana respons dari bangsa Israel setelah ditegur Allah. Kiranya Tuhan memberikan hikmat dan pengertian-Nya bagi kita semua, agar dapat memperoleh berkat dari firman Tuhan tersebut.
Yehezkiel 33:21-33
Pada tahun kesebelas sesudah pembuangan kami, dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal lima bulan itu, datanglah kepadaku seorang yang terluput
Kamu makan daging dengan darahnya, kamu melihat juga kepada berhala-berhalamu dan kamu menumpahkan darah -- apakah kamu akan tetap memiliki tanah ini? Kamu bersandar pada pedangmu, kamu melakukan kekejian dan masing-masing mencemari isteri sesamanya -- apakah kamu akan tetap memiliki tanah ini?
Demi Aku yang hidup,
- orang-orang yang tinggal pada reruntuhan-reruntuhan akan mati rebah oleh pedang, dan
- orang-orang yang di padang akan Kuberikan kepada binatang liar menjadi makanannya dan
- orang-orang yang di dalam kubu dan gua akan mati kena sampar.
Tanah ini akan Kubuat musnah dan sunyi sepi, dan kecongkakannya, yang ditimbulkan kekuatannya, akan berakhir; gunung-gunung Israel akan menjadi sunyi sepi,
Bayangkan sebuah situasi di mana sekelompok orang sedang hidup jauh sekali dari kampung halaman mereka karena dipaksa pindah ke negeri asing akibat kalah perang. Mereka hidup dalam kecemasan, kebingungan, dan harapan yang tipis.
Di tengah-tengah mereka, ada seorang tokoh bernama Yehezkiel. Ia bukan orang biasa, melainkan seorang nabi atau penyambung lidah Tuhan. Namun, ada satu hal yang sangat aneh terjadi pada Yehezkiel selama bertahun-tahun sebelum kejadian dalam tulisan itu. Tuhan membuat lidahnya kelu dan ia menjadi bisu. Ia tidak bisa berbicara seenaknya seperti orang normal dalam pergaulan sehari-hari. Ia hanya bisa membuka mulut dan bersuara jika Tuhan menitipkan pesan khusus untuk disampaikan. Jika tidak ada pesan dari Tuhan, ia akan diam seribu bahasa. Keadaan membisu ini berlangsung cukup lama, sekitar tujuh tahun. Selama masa itu, orang-orang di sekitarnya mungkin menganggapnya aneh, namun itu adalah cara Tuhan menegur umat-Nya yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat. Selama masa bisu itu, Yehezkiel sering memperagakan pesan Tuhan melalui gerakan tubuh atau tindakan simbolis, seperti bermain perang-perangan mengepung kota atau makan roti dengan cara yang tidak lazim, sebagai tanda bahwa nasib buruk akan menimpa kota kebanggaan mereka, Yerusalem.
Latar belakang dari semua ketegangan ini adalah nasib kota Yerusalem itu sendiri. Orang-orang yang dibuang ke negeri asing ini masih memiliki satu harapan besar bahwa Yerusalem tidak akan hancur. Mereka berpikir bahwa kota itu adalah kota suci, ada Bait Suci atau rumah ibadah yang megah di sana, sehingga Tuhan pasti akan melindunginya mati-matian. Mereka merasa aman dengan keyakinan palsu itu dan sering meremehkan peringatan Yehezkiel yang selalu berkata bahwa kota itu akan jatuh karena dosa-dosa penduduknya. Yehezkiel adalah nabi yang tidak populer karena beritanya selalu tentang hukuman, kehancuran, dan kabar buruk. Orang-orang lebih suka mendengar nabi palsu yang memberi angin surga bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jadi, selama bertahun-tahun, ada pertarungan batin antara harapan semu masyarakat melawan peringatan keras dari Yehezkiel yang sering kali disampaikan tanpa kata-kata karena kebisuan yang dialaminya.
Lalu tibalah momen yang dicatat dalam tulisan tersebut. Saat itu adalah tahun kesebelas sejak mereka dibuang. Jarak antara Yerusalem dan tempat pembuangan di Babel sangatlah jauh, butuh waktu berbulan-bulan untuk menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki atau naik hewan tunggangan. Pada suatu malam, Tuhan melakukan sesuatu kepada Yehezkiel. Tangan Tuhan melingkupi dia, sebuah istilah yang menggambarkan bahwa ia merasakan hadirat Tuhan yang sangat kuat, dan tiba-tiba saja ikatan yang membuat lidahnya kelu itu terlepas. Tuhan membuka mulutnya. Ia tidak lagi bisu. Ia bisa berbicara kembali dengan normal. Peristiwa sembuhnya Yehezkiel dari kebisuan ini terjadi pada malam hari, tepat beberapa jam sebelum pagi tiba. Ini adalah sebuah tanda besar, sebuah persiapan untuk sesuatu yang mengguncangkan yang akan datang besok paginya.
Keesokan paginya, datanglah seorang pelarian, seseorang yang berhasil lolos hidup-hidup dari peperangan di Yerusalem. Orang ini telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, membawa sebuah berita yang paling ditakuti oleh semua orang buangan itu. Dengan nafas terengah-engah dan wajah yang mungkin penuh debu dan kepedihan, ia berkata singkat namun menghancurkan hati bahwa kota itu sudah ditaklukkan. Yerusalem telah jatuh. Temboknya runtuh, Bait Suci dibakar, dan sisa penduduknya tewas atau ditawan. Berita ini adalah kiamat kecil bagi mental dan jiwa orang-orang buangan tersebut. Harapan terakhir mereka musnah. Keyakinan mereka bahwa Tuhan akan menjaga kota itu tanpa syarat ternyata salah. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa peringatan yang selama ini mereka abaikan ternyata benar-benar terjadi.
Tuhan merancang kejadian ini sedemikian rupa sangatlah menarik dan penuh makna. Tuhan membuka mulut Yehezkiel tepat sebelum pembawa berita itu datang untuk menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah terlambat dan Dia Maha Tahu. Jika Yehezkiel baru bisa bicara setelah orang itu datang, mungkin orang akan berpikir Yehezkiel hanya ikut-ikutan berkomentar. Tetapi karena ia disembuhkan sebelum berita itu sampai, ini menjadi bukti sah bahwa Yehezkiel adalah nabi yang benar. Kebisuannya selama tujuh tahun adalah tanda penghukuman, dan terbukanya mulutnya adalah tanda babak baru. Tuhan ingin menegaskan bahwa masa penghukuman dan peringatan keras sudah selesai karena kejadian yang ditakutkan sudah terjadi. Sekarang, Tuhan ingin memakai mulut Yehezkiel bukan lagi untuk memarahi mereka, melainkan untuk menghibur, membangun kembali, dan memberikan harapan masa depan bagi umat yang sedang hancur hatinya itu.
Dampak dari kejadian ini sangat besar bagi masyarakat saat itu. Kesombongan mereka runtuh seketika. Mereka yang tadinya keras kepala dan merasa benar sendiri, kini tertunduk malu dan sedih. Mereka sadar bahwa mereka telah salah menilai Tuhan dan salah menilai Yehezkiel. Namun, di balik kesedihan itu, ada dampak positifnya. Karena mulut Yehezkiel sudah terbuka, ia kini bebas berbicara tentang pemulihan. Sejak pasal ini dan seterusnya dalam kitab Yehezkiel, nada bicaranya berubah. Ia mulai berbicara tentang bagaimana Tuhan akan menggembalakan domba-domba-Nya yang hilang, bagaimana Tuhan akan memberikan hati yang baru, dan bagaimana tulang-tulang kering bisa hidup kembali. Jadi, jatuhnya kota itu menjadi titik balik dari kematian menuju kehidupan yang baru. Ilusi mereka harus dihancurkan supaya mereka bisa hidup dalam kebenaran yang sejati.
Refleksi sederhana bagi kehidupan kita di zaman sekarang bisa kita ambil dari peristiwa ini. Sering kali dalam hidup, kita memegang erat-erat sesuatu yang kita anggap sebagai sumber keamanan kita, entah itu tabungan, jabatan, kesehatan, atau hubungan dengan manusia, dan kita merasa Tuhan wajib menjaga itu semua. Kadang Tuhan mengizinkan hal-hal yang paling kita andalkan itu runtuh atau hilang, persis seperti jatuhnya Yerusalem. Rasanya sakit sekali dan seperti akhir dari segalanya. Namun, belajar dari kisah Yehezkiel, sering kali kehancuran itu bukanlah akhir, melainkan cara Tuhan membersihkan kita dari harapan palsu. Ketika satu pintu tertutup rapat, atau ketika "kota" kebanggaan kita runtuh, di situlah Tuhan sering kali "membuka mulut-Nya" atau memberikan pemahaman baru bagi kita. Jangan takut ketika harus kehilangan pegangan duniawi, karena sering kali setelah titik terendah itu, Tuhan justru menyiapkan rencana pemulihan yang jauh lebih indah dan memberikan harapan yang lebih nyata daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.
Setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini,
tetapi tidak melakukannya,
ia sama dengan orang bodoh.
Matius 7:26
Amin.

Komentar
Posting Komentar