Yehezkiel 33 Part 1 tentang "Penugasan Yehezkiel sebagai Penjaga Manusia" Seri Nabi Besar by Febrian
22 Januari 2026
Yehezkiel 33 Part 1 tentang "Penugasan Yehezkiel sebagai Penjaga Manusia" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Allah yang menetapkan Yehezkiel sebagai Nabi Penjaga bangsa Israel agar tidak tersesat. Semoga kita semua diberi hikmat dan pengetahuan sehingga dapat memahami firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.
Yehezkiel 33:1-20 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Pada konteks Yehezkiel 33:1–20 di atas, Allah menyampaikan firman ini pada masa yang sangat genting bagi Israel. Yerusalem hampir runtuh, umat berada dalam pembuangan, dan secara rohani bangsa itu berada dalam kebingungan, keputusasaan, serta kecenderungan menyalahkan Allah. Banyak orang merasa bahwa dosa masa lalu tidak terampuni, sementara yang lain merasa aman karena status religius mereka. Dalam situasi seperti inilah Allah menetapkan Yehezkiel sebagai penjaga, bukan hanya untuk menyampaikan ancaman, tetapi juga untuk menegaskan keadilan dan belas kasihan Allah secara seimbang.
Daniel I. Block, Ph.D., profesor Perjanjian Lama, dalam bukunya The Book of Ezekiel: Chapters 25–48 (NICOT, 1998), menjelaskan bahwa Yehezkiel 33 menandai titik balik pelayanan nabi. Sebelum pasal ini, nubuat berfokus pada hukuman; setelahnya, nubuat bergerak menuju tanggung jawab moral pribadi dan harapan pemulihan. Allah berbicara demikian karena umat mulai salah memahami keadilan-Nya, seolah-olah hidup ditentukan oleh nasib kolektif semata, bukan oleh respons pribadi terhadap firman Tuhan.
Walther Zimmerli, D.Th., dalam Ezekiel: A Commentary on the Book of the Prophet Ezekiel (Hermeneia, 1983), menegaskan bahwa gambaran penjaga menekankan tanggung jawab profetik. Nabi bukan pemilik hasil, tetapi penjaga pesan. Allah berfirman keras karena kelalaian rohani, baik dari pemimpin maupun umat, membawa akibat serius di hadapan-Nya.
Terkait dengan bacaan di atas, mari kita pahami beberapa pokok pikiran, sebagai berikut:
1. Tanggung jawab penjaga
Allah menegaskan bahwa seorang penjaga wajib memperingatkan bahaya. Jika ia setia, ia bebas dari tuntutan, meskipun orang lain menolak peringatan itu. Jika ia lalai, ia ikut bertanggung jawab atas kehancuran yang terjadi.
Refleksinya dalam kehidupan masa kini adalah bahwa setiap orang yang menerima kebenaran memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikannya dengan jujur, baik sebagai orang tua, pemimpin, maupun sesama manusia, tanpa mengendalikan hasilnya.
2. Tanggung jawab pribadi di hadapan Allah
Allah menolak anggapan bahwa dosa atau kebenaran orang lain menentukan nasib seseorang. Orang benar yang jatuh dalam dosa tidak diselamatkan oleh masa lalunya, dan orang fasik yang bertobat sungguh-sungguh tidak dikurung oleh dosanya yang lama.
John Calvin, D.D., dalam Commentaries on the Prophet Ezekiel (ditulis sekitar 1565), menekankan bahwa Allah menilai manusia berdasarkan sikap hatinya yang nyata dalam ketaatan, bukan pada reputasi atau sejarah religius. Refleksinya adalah bahwa iman tidak boleh dijadikan kenangan masa lalu, melainkan harus hidup dan nyata dalam pertobatan serta ketaatan setiap hari.
3. Hati Allah yang tidak berkenan pada kematian orang fasik
Allah secara eksplisit menyatakan bahwa Ia tidak bersukacita atas kebinasaan, melainkan menghendaki pertobatan supaya manusia hidup.
Christopher J. H. Wright, Ph.D., dalam Ezekiel (The Bible Speaks Today, 2001), menjelaskan bahwa pernyataan ini membuka tabir hati Allah yang penuh belas kasihan, bahkan di tengah penghakiman. Refleksinya adalah bahwa penghakiman Allah tidak pernah terpisah dari kasih-Nya, dan panggilan bertobat selalu terbuka selama masih ada kesempatan.
4. Kesalahpahaman manusia tentang keadilan Allah
Umat menuduh tindakan Tuhan tidak adil, padahal masalahnya terletak pada cara hidup mereka sendiri. Allah menegaskan bahwa Ia menghakimi setiap orang sesuai perbuatannya. Iain M. Duguid, Ph.D., dalam Ezekiel (NIV Application Commentary, 1999), menekankan bahwa keadilan Allah bukan berubah-ubah, melainkan konsisten, sementara manusia sering menilai Allah dari sudut kepentingan pribadi. Refleksinya adalah pentingnya kerendahan hati untuk membiarkan firman Tuhan mengoreksi cara pandang kita, bukan sebaliknya.
Seluruh bagian ini menunjukkan bahwa Allah adalah adil sekaligus penuh belas kasihan. Ia menuntut tanggung jawab dari para penjaga firman, menilai setiap orang secara pribadi, membuka pintu pertobatan, dan menolak tuduhan ketidakadilan. Firman ini mengajak setiap generasi untuk hidup waspada, bertobat dengan sungguh, dan berjalan setia di hadapan Allah yang hidup.
TUHAN itu pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Ia tidak selalu menuntut,
dan tidak untuk selama-lamanya murka.
Ratapan 3:22–23
Amin.

Komentar
Posting Komentar