Yehezkiel 3:22-27 Tentang "Sikap hati dalam memberitakan firman Tuhan" Seri Nabi Besar by Febrian

02 Januari 2026

Image by freepik.com

Yehezkiel 3:22-27 Tentang "Sikap hati dalam memberitakan firman Tuhan" Seri Nabi Besar

Yehezkiel menjadi bisu

Maka di sana kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia berfirman kepadaku: 

"Bangunlah dan pergilah ke lembah, di sana Aku akan berbicara dengan engkau." 

Aku bangun dan pergi ke lembah; sesungguhnya di sana kelihatan kemuliaan TUHAN seperti kemuliaan yang telah kulihat di tepi sungai Kebar, dan aku sujud. 

Tetapi masuklah Roh ke dalam aku dan ditegakkannya aku, lalu Ia berbicara dengan aku, kata-Nya: 

"Pergilah pulang, kurunglah dirimu di dalam rumahmu. 

1. Dan engkau, anak manusia, sesungguhnya, engkau akan diikat dengan tali dan akan dibelenggu, sehingga engkau tidak bisa keluar masuk di tengah-tengah mereka. 

2. Dan Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langitmu, sehingga engkau menjadi bisu dan tidak akan menempelak mereka, sebab mereka adalah kaum pemberontak. 

Tetapi kalau Aku berbicara dengan engkau, Aku akan membuka mulutmu dan engkau akan mengatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. 

Orang yang mau mendengar, biarlah ia mendengar; dan orang yang mau membiarkan, baiklah membiarkan, sebab mereka adalah kaum pemberontak."

Jadi Allah membuat Nabi Yehezkiel tidak bisa keluar masuk ke antara orang Israel apalagi menegur mereka. Sebelum genap waktunya tiba menurut Tuhan, maka Nabi Yehezkiel harus menahan diri dari menegur mereka. Mengapa? Allah ingin membiarkan bangsa Israel itu mengikuti kemauan hati mereka, bukan karena ketakutan akan teguran Yehezkiel yang bisa jadi diucapkan karena kekesalan hatinya, sehingga merusak rancangan Allah. 

Hingga waktunya genap dan Allah mengizinkan Nabi Yehezkiel menegur bangsa Israel,  maka akan terpisahkan langsung, siapa orang yang mau mendengar, dan mana yang termasuk kaum pemberontak yang tidak mau mendengar firman Allah. Allah pasti akan setia dan adil bagi orang yang mau mendengar teguran-Nya, sebaliknya yang menolak akan langsung menerima hukuman-Nya.

Diketahui dari sejarah, bahwa kebisuan Yehezkiel itu berlanjut selama sekitar tujuh setengah tahun hingga kejatuhan Yerusalem (Yeh 24:27; 33:22).

Yehezkiel 24:27

Pada hari itu mulutmu akan terbuka dan engkau akan berbicara kepada orang yang terluput itu dan tidak lagi tetap bisu. Dengan demikian engkau menjadi lambang bagi mereka dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN."

Yehezkiel 33:22 

Maka kekuasaan TUHAN meliputi aku pada malam sebelum kedatangan orang yang terluput itu dan TUHAN membuka mulutku pada saat menjelang kedatangan orang yang terluput itu pada pagi hari. Mulutku sudah terbuka dan aku tidak bisu lagi.

Terlihat dari firman Tuhan di atas, bahwa selama sekitar 7 tahun, Yehezkiel harus menjadi bisu. Tujuannya adalah pada waktunya tiba nabi Yehezkiel dibuka mulutnya oleh Tuhan (Yehezkiel 33:22), maka ia pasti akan lebih berhati-hati mengucapkan "hanya" Firman Tuhan yang ia dengar, tidak ditambah-tambahi ucapannya sendiri yang Mungkin lahir dari kemarahannya. 

Ingatlah Musa yang pernah bersalah di hadapan Allah waktu memukul batu dengan kemarahannya. peristiwa Musa bersalah di hadapan Allah karena memukul batu dengan kemarahannya tercatat dalam Bilangan 20:7-12. 

Bilangan 20:7-12

TUHAN berfirman kepada Musa: 

"Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." 

Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. 

Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 

Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 

"Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."

Dalam perikop ini, TUHAN memerintahkan Musa untuk berbicara kepada batu di depan mata bangsa Israel agar air keluar. Namun Musa, karena kemarahannya terhadap sungut-sungut bangsa itu, justru memukul batu tersebut dengan tongkatnya dua kali. Air memang keluar, tetapi tindakan Musa tidak memuliakan Allah sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Akibat ketidaktaatan ini, TUHAN menyatakan bahwa Musa dan Harun tidak akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Dengan demikian, inti kesalahan Musa bukan semata-mata karena ia memukul batu, melainkan karena ketidaktaatan yang lahir dari kemarahan, sehingga kepemimpinan rohani yang seharusnya mencerminkan kekudusan Allah menjadi ternodai di hadapan umat.

Berdasarkan peristiwa ini, dapat dipahami bahwa Allah mencegah terulangnya kesalahan serupa pada diri Yehezkiel. Allah memberikan rasa takut yang kudus kepadanya, khususnya terkait penggunaan mulut dan sikap hatinya terhadap bangsa Israel, dengan cara membuat Yehezkiel menjadi bisu. Tindakan ini bukan hukuman semata, melainkan sarana didikan ilahi agar Yehezkiel menyampaikan firman Tuhan secara murni, tepat, dan sepenuhnya berada di bawah kedaulatan Allah.

Jika kita refleksikan keadaan tersebut di atas dalam kehidupan kita di zaman sekarang ini, maka pelajaran apa yang bisa kita dapatkan? 

Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus, bila firman Tuhan kepada Nabi Yehezkiel 3:22–27 kaitannya dengan peristiwa Musa di Bilangan 20, muncul satu pelajaran rohani yang sangat relevan bagi kehidupan orang percaya di zaman sekarang, khususnya bagi mereka yang memegang tanggung jawab rohani, kepemimpinan, atau pengaruh terhadap orang lain.

Dalam Yehezkiel 3:22–27, Allah membatasi kebebasan Yehezkiel untuk berbicara. Ia dibuat bisu dan hanya boleh berbicara ketika Tuhan sendiri membuka mulutnya. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya peduli pada isi pesan yang disampaikan, tetapi juga pada waktu, sikap batin, dan motivasi orang yang menyampaikan pesan tersebut. Pengalaman Musa memperlihatkan bahwa kemarahan, kekecewaan, atau kelelahan batin dapat membuat seorang pemimpin rohani bertindak melampaui kehendak Allah, meskipun secara lahiriah hasilnya tampak benar. Air tetap keluar dari batu, tetapi kekudusan Allah tidak dimuliakan.

Refleksi bagi kehidupan masa kini adalah bahwa ketaatan kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh emosi, tekanan sosial, atau rasa frustrasi. Dalam pelayanan, dalam keluarga, maupun dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat melakukan hal yang “benar” secara hasil, tetapi keliru secara sikap dan ketaatan. Allah menghendaki hati yang tunduk, bukan sekadar tindakan yang berhasil. Karena itu, belajar diam, menahan diri, dan menunggu kehendak Allah sering kali sama pentingnya dengan berbicara atau bertindak.

Pelajaran lain yang penting adalah bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan setiap saat. Yehezkiel mengajarkan bahwa berbicara atas dorongan emosi pribadi, sekalipun niatnya baik, dapat membawa konsekuensi rohani. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh opini, pengendalian lidah dan sikap menjadi wujud nyata dari takut akan Allah. Diam pada waktu yang ditentukan Allah bukan kelemahan, melainkan ketaatan.

Akhirnya, refleksi ini menegaskan bahwa Allah lebih mengutamakan pembentukan karakter daripada efektivitas sesaat. Ia rela “membatasi” hamba-Nya demi menjaga kemurnian pesan dan kekudusan nama-Nya. Bagi orang percaya masa kini, ini mengingatkan bahwa hidup yang berkenan kepada Allah dibangun bukan hanya dari apa yang dikatakan dan dilakukan, tetapi dari sejauh mana seluruh hidup berada di bawah kendali dan kehendak-Nya.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua dengan firman Tuhan di atas.

Tetapi dengan teguh berpegang
kepada kebenaran di dalam kasih,
kita bertumbuh di dalam segala hal
ke arah Dia, Kristus.

Efesus 4:15 (TB)

Amin.

Komentar