Yehezkiel 3:16-21 tentang "Tugas penggembalaan" Seri Nabi Besar

1 Januari 2025 HAPPY NEW YEAR!!

Yehezkiel 3:16-21 tentang "Tugas penggembalaan" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Allah menghendaki bangsa Israel bertobat dari jalannya yang jahat, dengan mengangkat Nabi Yehezkiel sebagai Penjaga Israel. Kiranya Tuhan Yesus memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya bagi kita untuk dapat memahami maksud dan pesan Tuhan bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Yehezkiel 3:16-21

TUHAN menunjuk Yehezkiel menjadi penjaga Israel

Sesudah tujuh hari, TUHAN berkata kepadaku, 

"Hai manusia fana, engkau Kuangkat menjadi penjaga bangsa Israel. Sampaikanlah kepada mereka peringatan yang Kuberikan ini. 

1. Orang jahat mati tapi tidak ditegur - Yehezkiel dituntut

Jika Aku memberitahukan bahwa seorang penjahat akan mati, tetapi engkau tidak memperingatkan dia supaya ia mengubah kelakuannya sehingga ia selamat, maka ia akan mati masih sebagai seorang berdosa, dan tanggung jawab atas kematiannya akan dituntut daripadamu. 

2. Orang jahat mati setelah ditegur tidak mau bertobat - Yehezkiel selamat 

Jika engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tak mau berhenti berbuat jahat, dia akan mati sebagai orang berdosa, tetapi engkau sendiri akan selamat. 

3. Orang baik mati karena tidak ditegur setelah mulai berbuat dosa  - Yehezkiel dituntut  

Kalau seorang yang baik mulai berbuat dosa, dan dia Kuhadapkan dengan bahaya, maka ia akan mati apabila engkau tidak memperingatkannya. Ia akan mati karena dosa-dosanya, dan perbuatan-perbuatannya yang baik tidak akan Kuingat. Tetapi tanggung jawab atas kematiannya itu akan Kutuntut daripadamu. 

4. Orang baik ditegur dan bertobat tidak berbuat dosa lagi - Yehezkiel dan orang itu selamat

Jika orang yang baik itu kauperingatkan supaya jangan berbuat dosa, dan ia menurut nasihatmu, maka dia tidak akan Kuhukum dan engkau akan selamat."

Nabi Yehezkiel diangkat Allah menjadi penjaga Israel, di mana tugas ini menjadi berat karena bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dan tidak mudah untuk diberitakan teguran Allah. 

Kita lihat di atas, Tuhan memberi 4 petunjuk, yaitu bagaimana sikap Yehezkiel dalam bertugas sebagai Penjaga Israel: tugasnya adalah mencari orang yang diketahui berbuat jahat, atau akan berbuat jahat. Allah akan memberitahunya, terkait siapa yang akan ditegur. 

Kategori Pertama, orang yang sudah sering berbuat jahat dan akan dijatuhi hukuman mati oleh Allah: bagaimana sikap Yehezkiel, apakah menegur nya atau tidak? Jika keburu mati sebelum diberi teguran, maka Yehezkiel dianggap bersalah. Namun, jika Yehezkiel buru-buru menegurnya, kemudian ia tidak mau bertobat juga dan akhirnya mati, maka dosanya ditanggungnya sendiri, Yehezkiel aman.

Kategori ke dua, yaitu ada seseorang yang awalnya baik, tapi ia mulai melakukan kejahatan: apakah Yehezkiel menegurnya atau tidak? Jika Yeremia tidak buru-buru menegur dan mempertobatkan orang baik maka Allah mengizinkan terjadi bahaya dan akan mati dalam keadaan berdosa. Dalam kondisi itu, Yehezkiel dianggap bersalah. Sebaliknya, jika Yehezkiel buru-buru menegurnya, namun orang baik itu tetap tidak mau bertobat dan Allah mengizinkan terjadi bahaya dan mati, maka dosanya akan ditanggungnya sendiri. Dalam kondisi itu Yehezkiel aman.

Kategori ke tiga, jika orang baik yang mulai berbuat jahat itu ditegur Yehezkiel dan mau mendengarkan nasihat dan teguran tersebut, kemudian bertobat dari jalannya yang jahat, maka orang itu tidak akan mati dan Yehezkiel aman. Ia telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai penjaga Israel. 

Apakah kita membaca Firman Tuhan itu dan tidak tergugah sedikit pun? Atau ada sedikit yang menggelitik di dalam hati pikiran kita? Apakah itu?

Ini adalah tugas seorang Gembala Jemaat! Yehezkiel menjadi penjaga Israel yang di zaman berikutnya, mengajarkan tugas dari seorang Gembala dari suatu Jemaat yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Seorang Gembala Jemaat, tugasnya adalah memelihara dan memberi makan jemaat Allah. Namun, Adakalanya jemaat Tuhan itu berbuat kejahatan dalam 3 kategori seperti di atas. Itulah saatnya seorang Gembala memberikan teguran dalam Nama Tuhan. 

Mari kita pelajari pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia ini. Pelayanan-Nya adalah teladan sempurna penggembalaan jemaat yang utuh, konkret, dan konsisten, yang menjadi dasar bagi penggembalaan gereja di segala zaman. Tuhan Yesus bukan hanya mengajar secara lisan, tetapi hadir, mengenal, menuntun, menegur, memulihkan, dan menyerahkan diri-Nya bagi domba-domba-Nya.

Pelayanan penggembalaan Tuhan Yesus dimulai dari panggilan pribadi. Ia memanggil murid-murid satu per satu, mengenal latar belakang mereka, dan mengundang mereka untuk hidup bersama-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa penggembalaan tidak dimulai dari struktur atau jabatan, melainkan dari relasi. Tuhan Yesus tidak hanya berkata “ikutlah Aku”, tetapi Ia hidup bersama mereka, makan bersama, berjalan bersama, dan membiarkan mereka menyaksikan kehidupan-Nya sehari-hari. Di sini tampak bahwa penggembalaan sejati menuntut kedekatan dan keteladanan hidup.

Selanjutnya, Tuhan Yesus memberi makan domba-domba-Nya melalui pengajaran firman. Ia mengajar di bukit, di rumah ibadat, di tepi danau, dan di rumah-rumah. Ia menyampaikan kehendak Allah dengan bahasa yang dapat dipahami oleh orang banyak melalui perumpamaan-perumpamaan. Dalam Khotbah di Bukit, misalnya, Tuhan Yesus tidak sekadar menyampaikan hukum, tetapi mengarahkan hati manusia kepada maksud Allah yang sejati. Penggembalaan melalui pengajaran ini tidak bersifat teoritis, melainkan menyentuh kehidupan nyata, seperti relasi antarmanusia, penggunaan harta, penderitaan, pengampunan, dan ketaatan.

Tuhan Yesus juga menjalankan fungsi penjagaan dan perlindungan. Ia dengan tegas menentang ajaran dan praktik yang menyesatkan umat, khususnya kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Teguran Tuhan Yesus sering kali keras, tetapi tujuannya jelas, yaitu melindungi umat dari kepemimpinan rohani yang merusak. Dalam hal ini terlihat bahwa kasih kepada jemaat tidak berarti membiarkan kesalahan, melainkan berani menyatakan kebenaran ketika kebenaran itu diselewengkan.

Penggembalaan Tuhan Yesus juga tampak jelas dalam kepedulian-Nya terhadap mereka yang tersisih dan terluka. Ia mendatangi orang sakit, orang berdosa, pemungut cukai, perempuan yang terpinggirkan, dan mereka yang dianggap najis oleh masyarakat. Tuhan Yesus tidak menunggu mereka menjadi layak, tetapi menjangkau mereka apa adanya. Namun kepedulian ini tidak berhenti pada penerimaan semata. Kepada perempuan yang berzinah, Tuhan Yesus dengan jelas menegaskan agar ia tidak berbuat dosa lagi. Hal ini menunjukkan keseimbangan penting dalam penggembalaan: menerima dengan kasih, tetapi tetap menuntun kepada pertobatan dan perubahan hidup.

Dalam proses pemuridan, Tuhan Yesus juga membiarkan murid-murid-Nya mengalami kegagalan dan belajar darinya. Petrus pernah ditegur dengan sangat keras ketika pikirannya bertentangan dengan kehendak Allah. Pada saat yang sama, Petrus juga dipulihkan setelah kejatuhannya ketika menyangkal Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak membuang murid yang jatuh, tetapi menegur, mengajar, dan memulihkan mereka. Di sini penggembalaan tampak sebagai proses jangka panjang yang menuntut kesabaran, bukan penilaian sesaat.

Puncak penggembalaan Tuhan Yesus terlihat dalam kesediaan-Nya menyerahkan nyawa-Nya. Ia menyatakan diri sebagai Gembala yang baik yang memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya. Salib bukan hanya peristiwa penebusan, tetapi juga pernyataan tertinggi dari tanggung jawab seorang gembala, yaitu menanggung akibat demi keselamatan kawanan. Melalui kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menegaskan bahwa penggembalaan-Nya tidak berakhir pada kematian, melainkan membawa kehidupan baru.

Sebelum naik ke sorga, Tuhan Yesus secara sadar meneruskan tugas penggembalaan ini kepada para murid. Perintah-Nya kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya menunjukkan bahwa apa yang Tuhan Yesus lakukan selama pelayanan-Nya di dunia harus dilanjutkan oleh gereja. Polanya tetap sama, yaitu memberi makan dengan firman, menjaga dari kesesatan, menegur dengan kasih, memulihkan yang jatuh, dan hidup sebagai teladan.

Dengan demikian, kegiatan penggembalaan Tuhan Yesus selama pelayanan-Nya di dunia bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik nyata yang utuh. Ia memimpin dengan kebenaran dan kasih, menggabungkan kelembutan dan ketegasan, serta menempatkan keselamatan jiwa sebagai tujuan utama. Inilah fondasi yang jelas dan logis bagi penggembalaan jemaat di zaman sekarang, di mana setiap gembala dipanggil untuk meneladani Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung, bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam seluruh cara hi dup dan pelayanan.

Mari kita lihat beberapa komentar dari para teolog terkenal, terkait hal itu:

John Calvin (John Calvin, Commentary on Ezekiel 20 Januari 1563) menekankan, bahwa nabi harus setia menyampaikan pesan Tuhan tanpa menahan bagian yang menyakitkan; 

Matthew Henry (Matthew Henry, Commentary on the Whole Bible, 1706) melihat fungsi penggembalaan ini meliputi memperingatkan orang jahat dan menguatkan orang benar; 

Richard Baxter (Richard Baxter, The Reformed Pastor, 1656) menekankan intensitas kunjungan dan perhatian pribadi seorang gembala; 

Mark Dever (Mark Dever, Nine Marks of a Healthy Church, Crossway, 2004) menegaskan pentingnya ajaran yang sehat dan struktur gereja yang memungkinkan penggembalaan praktis. 

Semua sumber ini menegaskan kombinasi tanggung jawab pengajaran, peringatan, dan pemulihan. 

Dasar Perjanjian Baru yang mengikat tugas ini kepada gereja adalah perintah Kristus dan aplikasi rasuli, yaitu pada waktu Yesus memerintahkan Petrus untuk “gembalakan domba-domba-Ku” sebagai tugas pastoral yang nyata setelah kebangkitan (Yohanes 21:15–17).

Berikut adalah ajaran penggembalaan dalam dunia kerasulan Rasul Paulus dan rasul-rasul di masa berikutnya, pedoman praktisnya seperti ini: 

Lukas mencatat panggilan untuk “menjaga seluruh kawanan” karena jemaat dibeli dengan darah Kristus (Kisah Para Rasul 20:28); 

Petrus menyeru para penatua untuk menggembalakan kawanan dengan kerelaan dan teladan, bukan paksa (1 Petrus 5:1–4); Efesus 4:11–12 menempatkan gembala dan pengajar sebagai pemberian Kristus untuk mematangkan jemaat; 

Titus dan Timotius dalam surat mereka Titus 1 serta 1 Timotius 3 menetapkan standar moral dan kemampuan mengajar bagi pemimpin gereja. Semua teks ini bersama-sama membentuk tugas penggembalaan yang terdiri dari: mengajar, memelihara, memperingatkan, dan memulihkan. 

Bagaimana tugas itu dijalankan secara praktis hari ini (bahasa sederhana dan runtut): 

1. Penggembalaan dimulai dengan pemberian makan rohani yang setia—pengajaran Alkitab yang jelas dan reguler; 

2. Pengawasan yang rendah hati dan teladan hidup (kehadiran dalam kehidupan orang), sehingga penggembala mengenal kondisi nyata jemaat; 

3. Ketika dosa atau ajaran salah muncul, langkahnya adalah restorasi yang bertahap dan penuh kasih: teguran pribadi secara empat mata menurut Matius 18:15–17, bila perlu libatkan saksi atau pemimpin lain, lalu prosedur jemaat untuk pemulihan; 

Paulus menekankan pemulihan dengan kelemahlembutan (Galatia 6:1) sebagai tujuan utama, bukan penghancuran. Dengan kata lain: teguran harus berorientasi memulihkan, memakai proses yang adil, dan selalu disertai doa serta introspeksi agar yang menegur tidak terseret oleh dosa yang sama. 

Konsekuensi praktis dan moral: bagi orang yang ditegur, Alkitab menyatakan bahwa menolak peringatan ilahi membawa akibat serius — dalam terminologi Yehezkiel itu disebut “mati dalam dosanya” (konsekuensi rohani dan akhirnya penghakiman jika tidak bertobat).  Bagi penggembala, jika gagal menegur berarti menanggung tanggung jawab moral dan rohani karena tidak memberi peringatan yang seharusnya; oleh karena itu penggembalaan membutuhkan keberanian moral, ketekunan, dan kesiapan menanggung akibat pelayanan demi keselamatan jiwa-jiwa. 

Refleksi penutup yang bisa dipakai untuk bahan renungan publik: tugas penggembalaan adalah panggilan yang menyatukan kebenaran dan kasih—memberi makan dengan kebenaran, menjaga dengan kerendahan hati, memperingatkan dengan keberanian, dan memulihkan dengan kelemahlembutan. 

Model Yehezkiel dan Yeremia mengingatkan bahwa menegur bukan tindakan yang mau menang sendiri atau otoriter semata, melainkan sesungguhnya adalah tindakan kasih yang bertanggung jawab, demi mencegah kehancuran rohani. Sementara itu tuntutan Kristus dan para rasul memberi pedoman praktis yang jelas bagi gereja masa kini dalam rangka melaksanakan tugas itu secara tegas namun tetap penuh kasih. 

Semoga firman ini dapat menjadi berkat buat kita semua.

Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

Amsal 27:5

Amin. 

Komentar