Yehezkiel 26-28 tentang "Allah Melawan Kesombongan Tirus" Seri Nabi Besar by Febrian
19 Januari 2025
The recent time of the city of Tyre, LebanonYehezkiel 26-28 tentang "Allah Melawan Kesombongan Tirus" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Murka Allah yang hebat atas kerajaan Tirus yang menyombongkan dirinya di hadapan Allah. Kiranya Allah memberi hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita bisa memahami isi firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Yehezkiel 26 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Berikut ini adalah latar belakang sejarah Tirus (Tyre) yang menjelaskan mengapa Allah menyatakan murka-Nya dengan sangat keras dalam Yehezkiel 26:
Tirus adalah sebuah kota pelabuhan besar bangsa Fenisia ('Phoenicians' adalah bangsa kuno di tanah Kanaan yang sudah ada sejak Bronze Age tahun 1200an SM), yang terletak di pesisir timur Laut Tengah. Secara geografis, Tirus terdiri dari dua bagian utama, yaitu Tirus daratan (mainland Tyre) dan Tirus pulau (island Tyre), yang berjarak sekitar 800 meter dari pantai. Lokasinya berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Lebanon selatan, sekitar 80 km di selatan Beirut modern. Posisi ini sangat strategis untuk perdagangan laut internasional pada dunia kuno.
Dalam kronologi sejarah, Tirus sudah ada sejak milenium ke-3 SM dan berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan maritim Fenisia. Pada abad ke-10 SM, Tirus mencapai masa kejayaannya di bawah Raja Hiram I (±980–947 SM), yang sezaman dengan Raja Daud dan Salomo. Hiram menjalin hubungan dagang dengan Israel, bahkan membantu pembangunan Bait Suci Salomo dengan kayu aras dari Lebanon dan tenaga ahli. Pada masa ini, Tirus masih berada dalam hubungan yang relatif baik dengan Israel.
Memasuki abad ke-7 dan ke-6 SM, yaitu masa pelayanan Nabi Yehezkiel (sekitar 593–571 SM), karakter bangsa Fenisia di Tirus telah berubah secara drastis. Tirus bukan hanya kota dagang, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi internasional yang sangat makmur, kosmopolitan, dan penuh kesombongan.
Kekayaan Tirus berasal dari perdagangan logam, kain ungu mahal, emas, perak, budak, kayu aras, dan barang mewah dari seluruh Mediterania. Tirus tidak memiliki kerajaan darat yang luas, tetapi kekuatannya terletak pada armada laut dan jaringan dagang global.
Pada masa Yehezkiel, tokoh-tokoh besar yang sezaman antara lain: Raja Nebukadnezar II dari Babel (memerintah 605–562 SM), Raja Zedekia dari Yehuda (raja terakhir Yerusalem), dan para penguasa Fenisia yang memerintah Tirus secara berturut-turut, meskipun nama rajanya tidak disebutkan secara eksplisit dalam Yehezkiel 26.
Peristiwa penting yang menjadi latar belakang murka Allah adalah kehancuran Yerusalem tahun 586 SM oleh Babel. Ketika Yerusalem jatuh, Tirus tidak berdukacita, melainkan bersukacita dan mengambil keuntungan ekonomi dari kehancuran Yehuda. Yehezkiel 26:2 mencatat sikap hati Tirus dengan jelas: Tirus berkata, “Bagus! Pintu gerbang bangsa-bangsa telah terbuka bagiku; sekarang aku akan menjadi kaya, sebab Yerusalem telah menjadi reruntuhan.” Ini menunjukkan bahwa Tirus memandang kehancuran umat Allah sebagai peluang bisnis.
Dalam praktik sejarah, Tirus diduga: mengambil alih jalur perdagangan yang sebelumnya dikuasai Yerusalem, memanfaatkan pengungsi dan tawanan sebagai tenaga kerja atau komoditas dagang, menjadi bagian dari sistem perdagangan yang memperkaya diri dari penderitaan bangsa lain, dan memandang dirinya aman karena benteng lautnya yang dianggap mustahil ditaklukkan.
Berikut ini adalah pengelompokan pokok-pokok pikiran dari Yehezkiel 26–28 tentang sikap Allah terhadap Kerajaan Tirus:
1. Penghakiman ilahi atas kesombongan ekonomi dan sukacita jahat Tirus atas kejatuhan Yerusalem
Yehezkiel 26:1–6
Bagian ini membuka nubuat dengan alasan moral penghukuman Tirus. Tirus disalahkan bukan hanya karena kekayaannya, tetapi karena sikap hatinya yang bersukacita atas kehancuran umat TUHAN dan memandangnya sebagai peluang dagang. Di sini, kesombongan ekonomi ditampilkan sebagai dosa rohani.
2. Tirus sebagai kota dagang yang akan dihancurkan oleh alat penghakiman TUHAN
Yehezkiel 26:7–14
Nubuat ini menggambarkan kehancuran nyata Tirus oleh serangan bangsa-bangsa, khususnya Nebukadnezar, dengan gambaran tembok runtuh dan kota menjadi tempat menjemur jala, menegaskan bahwa kejayaan maritim dan pertahanan tidak kebal terhadap keputusan Allah.
3. Ratapan bangsa-bangsa atas runtuhnya pusat perdagangan dunia kuno
Yehezkiel 26:15–21
4. Ratapan kenabian atas kemegahan Tirus sebagai kapal megah yang karam
Yehezkiel 27:1–11
Dalam gambaran yang panjang dan puitis, Tirus dilukiskan seperti kapal yang dibuat dengan sangat sempurna, indah, kokoh, dan dikagumi banyak orang. Gambaran ini menekankan kehebatan manusia: kepandaian, seni, kemampuan teknologi, dan hubungan dagang yang luas. Namun semua kehebatan itu tetap terbatas dan tidak kekal.
5. Kemegahan Tirus dan gambaran manusia yang tidak mau tergantung pada Allah
Yehezkiel 27:12–25a
Daftar panjang bangsa dan komoditas menampilkan Tirus sebagai pusat ekonomi dunia kuno. Secara teologis, ini menunjukkan bagaimana kelimpahan dapat membangun ilusi bahwa manusia berdiri di atas sistemnya sendiri, bukan di bawah kedaulatan TUHAN.
6. Kejatuhan mendadak karena kesombongan yang berakar di hati
Yehezkiel 27:25b–36
Gambaran kapal yang karam menutup ratapan ini. Kehancuran datang bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena “hatimu meninggi karena kekayaanmu”. Penekanannya jelas: masalah utama Tirus adalah orientasi hati, bukan struktur ekonominya.
7. Teguran langsung kepada raja Tirus yang mengaku sebagai allah
Yehezkiel 28:1–10
Nubuat kini dipersempit dari kota kepada figur penguasanya. Raja Tirus ditegur karena menganggap dirinya allah. Di sini muncul tema klasik Alkitab: manusia yang melampaui batas ciptaan dan mengklaim posisi Sang Pencipta akan direndahkan.
8. Ratapan terhadap makhluk yang pernah mulia namun jatuh karena kesombongan
Yehezkiel 28:11–19
Bagian ini memakai bahasa kosmik dan Edenik, menggambarkan sosok yang penuh hikmat dan keindahan, tetapi jatuh karena kesombongan. Secara historis merujuk pada raja Tirus, namun secara teologis melampaui figur politik biasa, menyingkap pola universal kejatuhan: kemuliaan tanpa kerendahan hati berakhir dalam kehancuran.
Kesimpulan: Perbandingan antara nasib Tirus dan tujuan pemulihan umat Allah
Yehezkiel 26–28 (secara keseluruhan)
Seluruh rangkaian nubuat ini, walau berfokus pada Tirus, berfungsi sebagai cermin bagi Israel. Bangsa kafir yang sombong direndahkan, sementara umat TUHAN sedang dipurnakan melalui pembuangan. Ini menegaskan bahwa sejarah dunia berada dalam tangan Allah yang sama.
Secara keseluruhan, Yehezkiel 26–28 bukan sekadar nubuat politik, melainkan peringatan rohani tentang kekuasaan, ekonomi, dan kesombongan manusia di hadapan Allah. Tirus menjadi contoh bagaimana kejayaan duniawi, ketika dilepaskan dari takut akan TUHAN, akhirnya runtuh oleh keangkuhannya sendiri. Hal yang dimurkai Allah adalah kesombongan, ketidakpedulian moral, dan sikap memanfaatkan penderitaan orang lain.
Secara sejarah, nubuat ini tergenapi melalui kehancuran Tirus daratan oleh Nebukadnezar dan penaklukan total oleh Alexander Agung berabad kemudian. Melalui kejatuhan Tirus, Allah memperingatkan Yerusalem agar tidak menggantungkan rasa aman pada kekuatan lahiriah dan tidak merasa kebal karena status rohani. Pesan ini tetap relevan bagi dunia modern: keberhasilan tanpa takut akan Tuhan melahirkan kesombongan, dan kesombongan pada akhirnya membawa kehancuran. Yehezkiel 26 menjadi peringatan abadi agar manusia hidup rendah hati, berkeadilan, dan menyadari bahwa Allah tetap berdaulat atas sejarah dan kehidupan.
Kecongkakan mendahului kehancuran,
dan tinggi hati mendahului kejatuhan.
Manusia boleh merasa kuat dan aman,
namun Allah merendahkan yang meninggikan diri.
Amsal 16:18
Amin.

Komentar
Posting Komentar