Yehezkiel 25 tentang "Bangsa-bangsa yang dimurkai Allah" Seri Nabi Besar by Febrian
18 Januari 2026
Yehezkiel 25 tentang "Bangsa-bangsa yang dimurkai Allah" Seri Nabi Besar
Yehezkiel 25 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Dari ayat bacaan di atas dapat kita pelajari sebagai berikut:
Yehezkiel 25 secara khusus memuat nubuatan penghukuman terhadap bangsa-bangsa tetangga Yehuda, termasuk Amon, Moab, Edom, dan Filistin.
1. Murka Allah atas bani Amon
Yehezkiel 25:1–7
Bagian pertama Allah berbicara tentang bani Amon. Secara sejarah, bani Amon adalah keturunan Lot dan hidup di sebelah timur Israel. Hubungan Amon dengan Israel sejak awal sudah tegang. Dalam masa kehancuran Yerusalem tahun 586 SM, bani Amon tidak bersikap netral.
Mereka bersukacita ketika Bait Suci Allah dihancurkan, ketika tanah Israel menjadi sunyi, dan ketika Yehuda dibuang. Mereka menepuk tangan dan menghentakkan kaki sebagai tanda ejekan. Dalam budaya Timur Dekat kuno, tindakan tersebut adalah bentuk dari suatu penghinaan terbuka dari bangsa Amon. Jadi Pesan Allah jelas: Amon dihukum bukan karena sekadar berbeda bangsa, tetapi karena mengejek hal yang kudus dan menikmati penderitaan umat Allah.
Allah menyatakan bahwa mereka akan diserahkan kepada “orang-orang dari Timur”, yaitu kemungkinan besar adalah bangsa-bangsa nomaden yang akan menghancurkan stabilitas mereka.
Bagi kita di zaman sekarang, ketahuilah bahwa jangan sampai kita mengejek iman, penderitaan, atau kejatuhan rohani orang lain. Mengapa? Karena itu adalah pelanggaran dan kejahatan besar di mata Allah. Ketika manusia menertawakan apa yang Allah kuduskan, sebetulnya ia sedang menempatkan dirinya sendiri untuk berhadapan langsung dengan Allah.
2. Murka Allah atas orang Moab
Yehezkiel 25:8-11
Beginilah firman Tuhan ALLAH:
"Oleh karena Moab
Moab adalah keturunan Lot Saudara Abraham, jadi sebetulnya juga saudara jauh dari bangsa Israel. Namun dalam perjalanan sejarahnya, mereka memiliki sejarah panjang permusuhan dengan Israel.
Dosa utama Moab dalam pasal ini, adalah sikap mereka yang berkata, “Sesungguhnya kaum Yehuda itu sama saja seperti bangsa-bangsa lain.” Artinya, Moab menganggap tidak berartinya perjanjian antara Allah dengan Israel. Moab meremehkan umat pilihan Allah dan menyamakan mereka dengan bangsa-bangsa penyembah berhala.
Pesan Allah di sini sangat penting, yaitu bahwa murka-Nya berawal dari kejahatan Moab secara moral, tetapi juga karena meremehkan karya dan kedaulatan Allah bagi bangsa Israel. Hukuman Allah adalah, bahwa kota-kota Moab akan dibuka dan mereka akan diserahkan kepada bangsa Timur.
Jadi hal yang dapat kita pelajari adalah, bahwa ketika seseorang berkata bahwa iman, kebenaran, dan kekudusan tidak ada bedanya dengan nilai dunia, itu bukan sekadar merupakan pendapat, melainkan sikap hati yang merendahkan karya Allah. Waspadalah itu adalah termasuk penghinaan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
3. Murka Allah atas orang Edom
Yehezkiel 25:12–14
Nubuatan melawan orang Edom
Beginilah firman Tuhan ALLAH:
"Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka, oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH,
Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Edom dan melenyapkan dari padanya manusia dan binatang dan Aku membuatnya menjadi reruntuhan; dari Teman sampai Dedan mereka akan mati rebah oleh pedang.
Aku akan melakukan pembalasan-Ku terhadap Edom dengan tangan umat-Ku Israel. Dan mereka akan memperlakukan Edom selaras dengan murka-Ku dan amarah-Ku, dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah yang membalas, demikianlah firman Tuhan ALLAH."
Dalam Yehezkiel 25:12–14, Allah berbicara tentang Edom. Murka Tuhan muncul bukan sekadar karena Edom adalah bangsa asing, tetapi karena tindakan pembalasan dendam yang penuh kebencian terhadap Yehuda. Edom adalah keturunan Esau, saudara Yakub, sehingga relasi mereka bukan relasi bangsa asing murni, melainkan “saudara yang bermusuhan”. Ketika Yerusalem jatuh ke tangan Babel pada tahun 586 SM, Edom tidak menolong, bahkan bersukacita, mengejek, dan ikut menjarah. Hal ini dicatat pula dalam Mazmur 137:7 dan Obaja 1:10–14. Dosa Edom bukan hanya kekerasan, tetapi sukacita atas penderitaan saudara sendiri. Karena itu Allah menyatakan bahwa pembalasan akan datang, bahkan melalui tangan umat-Nya sendiri. Ini menunjukkan bahwa murka Allah bukan reaksi emosional, melainkan keadilan perjanjian.
4. Murka Allah atas orang Filistin
Yehezkiel 25:15–17
Beginilah firman Tuhan ALLAH:
"Oleh karena orang Filistin
Bangsa Filistin memiliki sejarah permusuhan panjang dengan Israel, sejak zaman Hakim-hakim hingga kerajaan Daud. Permusuhan ini bukan konflik satu generasi, tetapi kebencian turun-temurun. Ketika Israel jatuh, orang Filistin melihatnya sebagai kesempatan untuk melampiaskan dendam lama. Firman Tuhan menekankan bahwa mereka membalas “dengan kegembiraan atas kecelakaan Israel”, artinya penderitaan Israel menjadi hiburan bagi mereka.
Di mata Allah, perbuatan itu adalah kejahatan moral yang serius. Maka Allah menyatakan pembalasan yang keras, agar mereka “mengetahui bahwa Akulah TUHAN”. Dalam Alkitab, frasa ini berarti pengenalan akan Allah melalui penghakiman, bukan sekadar informasi, tetapi pengalaman pahit akan keadilan-Nya.
Kesimpulan Yehezkiel 25
Jadi kita bisa menarik kesimpulan mengenai Yehezkiel 25, yaitu bahwa Allah bukan hanya Allahnya orang Israel saja, melainkan Allah atas seluruh bangsa di dunia ini, tidak dibatasi etnis, warna kulit, latar belakang sejarah dsb. Allah menghakimi berdasarkan sikap hati dan tindakan moral.
Keempat bangsa di atas dihukum karena mereka bersukacita atas kejahatan, mereka meremehkan hal yang kudus, memelihara dendam, serta menolak kedaulatan Allah. Nabi Yeremia mencatat, bahwa kejatuhan Israel bukan atas inisiatif bangsa lain yang berkuasa atas mereka, melainkan atas seizing Allah. Jadi Bangsa-bangsa itu tidak bisa bertindak sewenang-wenang atas bangsa Israel. Allah tetap berdaulat, adil, dan melihat semua sikap hati dari bangsa-bangsa di dunia ini.
Hal tersebut di atas, telah dibahas oleh para teolog terkemuka dunia:
Daniel I. Block, Ph.D., dalam bukunya The Book of Ezekiel: Chapters 1–24 (New International Commentary on the Old Testament, 1997), menegaskan bahwa nubuatan terhadap bangsa-bangsa ini menunjukkan bahwa “sikap menikmati penderitaan umat Allah adalah bentuk pemberontakan terhadap Allah sendiri.”
Walther Zimmerli, Th.D., dalam Ezekiel 1 (Hermeneia Commentary, 1979), menjelaskan bahwa dosa bangsa-bangsa ini bersifat teologis, bukan hanya politis, karena mereka menolak pengakuan bahwa TUHAN adalah Allah yang hidup.
John B. Taylor, Ph.D., dalam Ezekiel: An Introduction and Commentary (Tyndale Old Testament Commentary, 1969), menekankan bahwa Yehezkiel 25 adalah Allah menolak kesombongan yang dianggap wajar karena dilakukan ramai-ramai, dan Allah juga menolak kebencian yang sudah menjadi pola hidup, budaya, atau sistem yang diwariskan dan dianggap normal.
Leslie C. Allen, Ph.D., dalam Ezekiel 20–48 (Word Biblical Commentary, 1994), menyatakan bahwa pasal ini menunjukkan pola konsisten: Allah menghakimi bangsa yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai keuntungan moral atau politik.
Dengan demikian Allah mengajar kita, bahwa Allah melihat lebih dalam suatu kejadian dari hanya peristiwa lahiriah, dengan menilik ke dalam hati, motivasi, dan respon seseorang terhadap suatu peristiwa yang membutuhkan keadilan dan membela orang yang menderita.
Bagi orang percaya di zaman ini, pasal ini mengingatkan agar tidak ikut arus dunia yang menikmati kejatuhan orang lain, tidak meremehkan kebenaran Allah, dan tidak hidup dalam dendam. Allah tetap Allah yang adil, dan pada waktunya setiap bangsa, sistem, dan pribadi akan mengetahui bahwa Dialah TUHAN.
TUHAN membenci mata yang sombong,
lidah yang berdusta,
dan tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah;
hati yang merancang kejahatan.
Amsal 6:16–18
Amin.

Komentar
Posting Komentar