Yehezkiel 19-23 tentang "Ratapan dan Penghakiman atas Ketidaksetiaan Israel" Seri Nabi Besar by Febrian
16 Januari 2026
Image created by Gemini AI with Nano Banana Pro Image EngineYehezkiel 19-23 tentang "Ratapan dan Penghakiman atas Ketidaksetiaan Israel" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama 5 pasal dari Nubuatan Yehezkiel yang mengangkat tema serupa yaitu ratapan atas hukuman yang diterima oleh bangsa Israel karena kejahatan mereka. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Yehezkiel pasal 19 sampai 23 memang merupakan satu kesatuan pesan mengenai sejarah kegagalan dan penghakiman atas bangsa Israel. Tema utama yang mengikat seluruh pasal ini adalah ratapan atas ketidaksetiaan umat kepada Tuhan yang berujung pada kehancuran total.
Cerita ini dimulai di pasal 19 dengan ratapan bagi para pemimpin Israel yang digambarkan seperti singa dan pohon anggur yang tumbang, lalu berlanjut di pasal 20 dengan tinjauan sejarah panjang pemberontakan Israel sejak masa perbudakan di Mesir. Kemudian pada pasal 21 dan 22, intensitas pesan meningkat melalui simbol pedang yang terhunus dan daftar dosa moral serta sosial yang menunjukkan bahwa Yerusalem sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari hukuman.
Puncaknya ada pada pasal 23, di mana seluruh sejarah pengkhianatan itu dirangkum secara gamblang melalui alegori dua bersaudara, Ohola dan Oholiba, yang melambangkan Samaria dan Yerusalem. Jadi, meskipun cara penyampaiannya berganti-ganti mulai dari puisi, sejarah, hingga perumpamaan, tujuannya tetap satu yaitu menunjukkan bahwa hukuman yang mereka terima adalah akibat langsung dari hubungan yang mereka putus sendiri dengan Tuhan.
Bagian pertama yang mencakup pasal 19 ayat 1 sampai 14, berfokus pada ratapan atas runtuhnya kepemimpinan bangsa. Para teolog seperti Matthew Henry menyoroti bagaimana Yehezkiel menggunakan metafora singa muda dan pohon anggur untuk menggambarkan para raja Yehuda yang sombong namun akhirnya tertangkap dan tercabut. Pesan Tuhan bagi kita saat ini melalui bagian ini adalah tentang pentingnya integritas kepemimpinan. Tuhan mengingatkan bahwa bakat, kekuasaan, atau posisi yang tinggi tidak akan bisa bertahan jika tidak disertai dengan ketaatan. Ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran, kita sedang membangun kehancuran kita sendiri, sama seperti pohon anggur yang tampak kuat namun akhirnya kering dan terbakar.
Bagian kedua mencakup pasal 20 ayat 1 sampai pasal 22 ayat 31 yang mengulas tentang sejarah pemberontakan yang berulang dan datangnya keadilan Tuhan. Para ahli tafsir menekankan bahwa bagian ini adalah "sidang pengadilan" di mana Tuhan membeberkan catatan buruk Israel sejak di Mesir hingga pembuangan. Pesan Tuhan bagi pembaca saat ini adalah mengenai bahaya formalitas agama yang kosong. Seringkali kita merasa sudah beribadah namun di saat yang sama tetap memelihara dosa sosial atau ketidakjujuran, seperti yang disebutkan dalam daftar dosa di pasal 22. Melalui bagian ini, Tuhan mengingatkan bahwa Dia adalah Tuhan yang sabar, namun kesabaran-Nya bertujuan agar kita bertobat, bukan untuk dijadikan alasan untuk terus hidup dalam kesalahan.
Bagian ketiga mencakup pasal 23 ayat 1 sampai 49 yang menggambarkan pengkhianatan melalui alegori dua bersaudara, Ohola dan Oholiba. Para teolog sering menyebut bagian ini sebagai gambaran paling keras tentang ketidaksetiaan karena menggunakan bahasa yang sangat blak-blakan mengenai perzinaan rohani. Pesan Tuhan bagi kita sekarang adalah tentang eksklusivitas hubungan kita dengan-Nya. Seringkali tanpa sadar kita menjadi seperti Oholiba yang mencari keamanan dan kebahagiaan pada hal-hal duniawi—seperti kekayaan, pengakuan manusia, atau kuasa politik—daripada mengandalkan Tuhan. Tuhan mengingatkan bahwa Dia adalah pribadi yang cemburu dalam arti yang mulia; Dia menginginkan hati kita sepenuhnya karena Dia tahu bahwa hanya di dalam Dialah kita akan menemukan kepuasan yang sejati.
Keseluruhan rangkaian pasal ini membawa pesan penutup bagi pembaca masa kini bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Namun, di balik kerasnya teguran di pasal 19 hingga 23, tersirat sebuah undangan untuk kembali. Tuhan tidak membedah dosa-dosa umat-Nya hanya untuk mempermalukan mereka, melainkan untuk menunjukkan betapa jauhnya mereka telah jatuh agar mereka menyadari kebutuhan akan pemulihan. Bagi kita sekarang, ini adalah ajakan untuk memeriksa kembali ke mana arah hidup dan kesetiaan kita sebelum "pedang" konsekuensi benar-benar tiba, karena tujuan akhir Tuhan bukanlah kehancuran kita, melainkan pertobatan dan pembaruan hati yang tulus.
Kembalilah, hai anak-anak yang murtad!
Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu.
Sesungguhnya, kami
datang kepada-Mu,
sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami.
Yeremia 3:22
Amin

Komentar
Posting Komentar