Yehezkiel 17 Tentang "Ketidaksetiaan Israel dan Tunas Yang ditumbuhkan Allah" Seri Nabi Besar by Febrian

13 Januari 2026

Image by freepik

Yehezkiel 17 Tentang "Ketidaksetiaan Israel dan Tunas Yang ditumbuhkan Allah" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai ketidaksetiaan Israel yang dimurkai Allah. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Yehezkiel 17:1-18

17:1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:

"Hai anak manusia, katakanlah suatu teka-teki dan ucapkanlah suatu perumpamaan kepada kaum Israel. Katakanlah: 

Beginilah firman Tuhan ALLAH:

Seekor burung rajawali yang besar dengan sayapnya yang besar dan panjang, penuh dengan bulu yang berwarna-warna datang ke gunung Libanon dan ia mengambil puncak pohon aras. 

Ia mematahkan pucuknya yang paling ujung dan dibawanya ke sebuah negeri perdagangan lalu diletakkannya dia di kota perniagaan. Ia mengambil sebuah dari taruk-taruk tanah itu dan menanamnya di ladang yang sudah sedia ditaburi; ia menempatkannya dekat air yang berlimpah-limpah seperti pohon gandarusa sehingga ia tumbuh dan menjadi pohon anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah dan cabang-cabangnya melengkung menuju burung itu dan akar-akarnya tetap di bawahnya. Demikianlah ia menjadi pohon anggur dan mengeluarkan tunas-tunas dan memancarkan taruk-taruk. 

Dalam pada itu ada juga burung rajawali besar yang lain dengan sayapnya yang besar dan bulu yang lebat. Dan sungguh, pohon anggur ini mengarahkan akar-akarnya ke burung itu dan cabang-cabangnya dijulurkannya kepadanya, supaya burung itu mengairi dia lebih baik dari bedeng di mana ia ditanam. Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus.

Katakanlah: 

Beginilah firman Tuhan ALLAH:

Apakah itu akan berhasil? Apakah orang tidak akan mencabut akar-akarnya dan menyentakkan buahnya, sehingga semua ulamnya yang baru menjadi kering? Tidak usah tangan yang kuat dan banyak orang untuk mencabut dia dengan akar-akarnya. 17:10 Lihat, ia memang ditanam, tetapi apakah ia akan memberi hasil? Apakah ia tidak akan layu kering kalau ditimpa angin timur? Ia akan layu kering di bedeng tempat tumbuhnya itu."

17:11 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:

17:12 "Katakanlah kepada kaum pemberontak: Tidakkah kamu mengetahui apa artinya ini?

Katakan: 

Lihat, raja Babel datang ke Yerusalem dan ia mengambil rajanya dan pemuka-pemukanya dan membawa mereka ke Babel baginya. Lalu ia mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja dan mengadakan perjanjian dengan dia sambil menyuruh dia bersumpah. Ia mengambil juga orang-orang berkuasa negeri itu, supaya kerajaan itu menjadi lemah dan jangan memberontak lagi, juga supaya memegang teguh perjanjian itu dan dengan demikian tetap ada. 

Tetapi orang itu memberontak kepadanya dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya ia diberi kuda dan tentara yang besar. Apakah ia akan berhasil? Apakah orang yang berbuat demikian dapat luput? Apakah orang yang mengingkari perjanjian dapat luput? 

Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia pasti mati di Babel, di tempat raja yang mengangkatnya menjadi raja. Karena ia memandang ringan kepada sumpah yang dimintakan raja itu dari padanya dan mengingkari perjanjian raja itu dengan dia. 

Dan Firaun tidak akan membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang besar dan sekumpulan banyak orang, pada waktu tembok pengepungan ditimbun dan benteng pengepungan didirikan untuk melenyapkan banyak orang. Ya, ia memandang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian. Sungguh, walaupun ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat tangan, tetapi ia melanggar semuanya itu, maka ia tidak dapat luput.

Dari perumpamaan Tuhan di atas, demikianlah yang disampaikan-Nya:

Bahwa bangsa Babel yang besar diizinkan Allah untuk menawan raja Israel dan seluruh pembesar dan rakyatnya ke kerajaannya. Di sana sebetulnya bangsa Israel akan dibentuk Allah untuk menjadi bangsa yang taat dan setia kepada Allah, dengan cara bangsa Israel harus mengikat sumpah dengan kerajaan Babel. Namun, apa yang terjadi? Raja Israel mengingkari sumpahnya dengan mengirim utusan untuk meminta bantuan dari kerajaan Mesir yang dibenci Allah. 

Maka Allah dalam murka-Nya mengatakan bahwa mereka pasti mati di tangan raja Babel, karena mereka mengingkari perjanjian nya dengan Babel. Selain itu, Firaun juga tidak akan mau membantu mereka terlibat dalam pembebasan bangsa Israel dari tangan raja Babel. Allah murka karena raja Israel yaitu Zedekia, menganggap ringan Perjanjian nya dengan raja Babel. Ini menandakan Ketidaksetiaan mereka kepada sumpah dan komitmen yang disaksikan oleh Allah sendiri. 

Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH:

Demi Aku yang hidup, Aku pasti menimpakan atas kepalanya sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di hadapan-Ku, yang diingkarinya. Aku akan memasang jaring-Ku untuk menangkap dia dan di dalam perangkap-Ku ia akan terjebak; Aku akan membawa dia ke Babel dan di sana Aku akan berperkara dengan dia, karena ia berobah setia terhadap Aku. Dan semua tentara pilihannya akan tewas dimakan pedang dan yang terluput akan dihamburkan ke semua mata angin. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya.

Murka Allah begitu besar dan Ia menyatakan akan menghukum mereka dengan keras karena Ketidaksetiaan yang mereka lakukan. Segala rancangan Allah itu sesungguhnya ingin mendewasakan mereka dan membuat mereka menjadi suatu bangsa yang kuat kokoh di tanah Babel. Bangsa Israel tidak berusaha memahami karya Allah yang sedang dilaksanakan-Nya bagi mereka, karena sebelumnya mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk dan keras hati.   

Beginilah firman Tuhan ALLAH: 

Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas; di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di bawah cabang-cabangnya. 

Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya."

Dari firman Tuhan di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran sebagai berikut:

Bahwa Allah telah menghukum orang-orang yang tidak setia dan keras hati terhadap Allah, namun Allah mengambil Tunas dari antara bangsa Israel untuk dibentuk lagi menjadi bangsa yang besar. Ibarat pohon sudah layu yang sudah kering, dibuat Allah menjadi bersemi dan menjadi besar kembali. 

Charles John Ellicott, DD (1819–1905), Uskup Gloucester dan Bristol, menulis dalam Ellicott’s Commentary for English Readers diterbitkan sekitar tahun 1882–1884, sebuah pandangannya atas Yehezkiel 17:22–24, bahwa pucuk pohon aras sebagai simbol nubuatan tentang Mesias dari garis Daud yang dipelihara langsung oleh Allah.

Matthew Henry (1662–1714), pendeta dan teolog Nonkonformis Inggris, menulis Exposition of the Old and New Testament dalam rentang waktu 1706–1710, tentang carang aras sebagai janji pemulihan ilahi yang mencapai puncaknya dalam Kristus sebagai Raja Mesianik, yang kerajaannya menjadi tempat perlindungan bagi banyak bangsa.

Carl Friedrich Keil, PhD (1807–1888), dan Franz Julius Delitzsch, PhD (1813–1890), menerbitkan Biblical Commentary on the Old Testament antara tahun 1866–1891. Komentar mereka atas kitab Yehezkiel, menegaskan bahwa pucuk yang ditanam Allah tidak terjadi hanya pada zaman tokoh sejarah pasca-pembuangan seperti Zerubabel, melainkan menunjuk kepada Mesias sejati dan pemerintahan Allah yang universal.

Komentar dari Working Preacher, yang berada di bawah Luther Seminary (St. Paul, Minnesota), merupakan refleksi akademis kontemporer yang ditulis oleh para profesor teologi Alkitab. Ulasan atas Yehezkiel 17:22–24, yaitu meskipun modern, pendekatan ini tetap sejalan dengan tradisi teologi klasik dalam menekankan inisiatif mutlak Allah dalam pemulihan dan pembalikan keadaan.

Dengan demikian, dari abad ke-18 hingga abad ke-21, terdapat kesinambungan pemahaman alkitabiah, bahwa gambaran "carang pohon Aras" dalam Yehezkiel 17 bukan sekadar perumpamaan terkait politis, melainkan penyataan kedaulatan Allah yang merendahkan yang tinggi, meninggikan yang rendah, dan menghidupkan kembali yang tampak mati - sebuah tema yang mencapai kepenuhannya dalam pengharapan Mesianik.

Jadi Allah ingin menyampaikan bahwa suatu hari bangsa Israel akan dipimpin oleh Seorang yang ditumbuhkan-Nya sendiri, menjadi Pemimpin bangsa Israel bukan hanya jasmani melainkan Israel rohani, yaitu Tuhan Yesus Kristus Raja segala raja dunia ini. 

Pesan yang disampaikan Allah, bagi kita agar kita setia pada rancangan Allah yang seringkali tidak kita pahami dan bahkan mungkin menyakitkan. Ikutilah alur perjalanan hidup yang diarahkan-Nya dengan beriman bahwa pada akhirnya pasti ada sesuatu yang indah Tuhan sediakan bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Sesungguhnya, ada seorang yang namanya Tunas;
Ia akan bertunas dari tempat-Nya
dan Ia akan membangun bait TUHAN.
Dialah yang akan membangun bait TUHAN.

Zakharia 6:12–13a

Amin.

Komentar