Yehezkiel 16 Part 1 Tentang "Yerusalem mempelai Illahi" Seri Nabi Besar by Febrian

10 Januari 2026

Yehezkiel 16 Part 1 Tentang "Yerusalem mempelai Illahi" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai betapa Allah mengasihi Yerusalem yang diangkat dari bayi terbuang menjadi mempelai-Nya. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Yehezkiel 16 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Yehezkiel 16:1-14

Allah memungut Yerusalem menjadi isteri-Nya

16:1 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 

"Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem perbuatan-perbuatannya yang keji dan katakanlah: 

Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Yerusalem: 

Asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti. 

Kelahiranmu begini: 

Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin. Tidak seorangpun merasa sayang kepadamu sehingga diperbuatnya hal-hal itu kepadamu dari rasa belas kasihan; malahan engkau dibuang ke ladang, oleh karena orang pandang enteng kepadamu pada hari lahirmu. 

Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil berlumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup dan jadilah besar seperti tumbuh-tumbuhan di ladang! Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil. 

Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya. 

  • Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan 
  • Aku mengurapi engkau dengan minyak. 
  • Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera. Dan 
  • Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu. Dan 
  • Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu. 
Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. 

Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH."

Dalam Alkitab, orang Amori dan orang Heti adalah dua bangsa besar Kanaan yang menempati tanah itu sebelum kehadiran bangsa Israel. Secara historis, mereka mewakili peradaban Kanaan dengan sistem kepercayaan politeistis, praktik ibadah berhala, dan struktur sosial yang oleh Alkitab dinilai rusak secara moral. Kejadian 15:16 menyatakan bahwa “kedurjanaan orang Amori belum genap”, sebuah pernyataan teologis penting yang menunjukkan bahwa penghakiman Allah atas bangsa-bangsa Kanaan bukan tindakan mendadak, melainkan hasil dari kesabaran ilahi yang panjang terhadap dosa yang terakumulasi.

Orang Amori dalam tradisi Perjanjian Lama sering berfungsi sebagai istilah representatif bagi seluruh kebobrokan rohani Kanaan. Mereka digambarkan sebagai bangsa yang kuat, dominan, dan berakar di wilayah pegunungan, termasuk daerah yang kelak menjadi Yerusalem. Walther Zimmerli, Dr. theol., dalam Ezekiel 1: A Commentary on the Book of the Prophet Ezekiel, Chapters 1–24 (1979), menegaskan bahwa dalam literatur kenabian, “Amori” tidak hanya menunjuk etnis tertentu, melainkan berfungsi sebagai simbol teologis dari kehidupan yang telah sepenuhnya menyimpang dari kehendak Allah. Dengan kata lain, Amori adalah metafora kolektif bagi identitas yang terlepas dari perjanjian.

Orang Heti, meskipun dikenal secara historis sebagai bangsa besar di Anatolia, dalam konteks Alkitab juga hadir sebagai komunitas lokal di Kanaan. Kitab Suci menunjukkan bahwa mereka dapat hidup berdampingan dengan Israel, sebagaimana terlihat pada Uria orang Heti. Namun Ulangan 7 tetap memasukkan mereka dalam daftar bangsa yang pengaruh rohaninya berbahaya bagi Israel. Moshe Greenberg, Ph.D., dalam Ezekiel 1–20 (Anchor Bible, 1983), menjelaskan bahwa penyebutan Heti dalam teks Yehezkiel bukan bertujuan etnografis, melainkan polemis: Heti melambangkan warisan religius Kanaan yang bertentangan dengan iman kepada YHWH.

Ketika Yehezkiel 16 menyatakan kepada Yerusalem, “ayahmu adalah orang Amori dan ibumu orang Heti”, para teolog sepakat bahwa ini sama sekali bukan silsilah biologis. Daniel I. Block, Ph.D., dalam The Book of Ezekiel, Chapters 1–24 (NICOT, 1997), menekankan bahwa pernyataan ini adalah bahasa nubuat yang tajam, metaforis, dan penuh ironi. Yehezkiel sedang membongkar klaim identitas rohani Yerusalem. Kota yang membanggakan diri sebagai pewaris Abraham ternyata, dalam perilaku dan nilai hidupnya, justru mencerminkan bangsa-bangsa kafir yang dahulu mereka gantikan. Dalam teologi perjanjian, tulis Block, identitas tidak ditentukan oleh darah, melainkan oleh kesetiaan.

Dengan demikian, Yerusalem disebut “anak Amori dan Heti” bukan karena asal-usul historisnya, melainkan karena keserupaan moral dan rohaninya. Zimmerli menyebut ungkapan ini sebagai sharp polemical metaphor, sebuah metafora polemis yang disengaja untuk menghancurkan rasa aman palsu umat Allah. Greenberg menambahkan bahwa Yehezkiel memakai bahasa genealogis untuk menyatakan pewarisan karakter, bukan pewarisan genetik. Yerusalem telah “mewarisi” tabiat Amori dan Heti karena ia mengadopsi pola hidup, sistem ibadah, dan cara berpikir mereka.

Pendekatan ini sepenuhnya konsisten dengan pola kenabian Alkitab. Yesaya menyebut Yerusalem sebagai Sodom dan Gomora, bukan karena lokasi geografis, melainkan karena kesamaan dosa. Dalam logika yang sama, Yehezkiel menuduh Yerusalem telah menjadi Kanaan dalam hati, meskipun secara lahiriah ia tetap memiliki Bait Allah dan ritual keagamaan. Block secara tajam menyatakan bahwa inilah tragedi teologis terbesar: umat perjanjian dapat mempertahankan simbol iman sambil kehilangan substansinya.

Namun Yehezkiel 16 tidak berhenti pada penghakiman. Para penafsir juga sepakat bahwa penutup pasal ini menegaskan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya sendiri. Pemulihan yang dijanjikan bukan lahir dari pertobatan sempurna Yerusalem, melainkan dari komitmen Allah yang tidak berubah. Ini menegaskan bahwa sekalipun Yerusalem telah hidup sebagai “anak Amori dan Heti”, Allah tetap berdaulat untuk memulihkan identitas umat-Nya melalui anugerah. Orang Amori dan Heti di sini adalah cermin rohani untuk memperlihatkan betapa jauh Yerusalem telah melenceng dari panggilan semula, sekaligus betapa besar kasih karunia yang masih disediakan bagi pemulihan sejati.

Jadi firman Tuhan dalam Yehezkiel 16:1–14 tersebut, menggambarkan Yerusalem awalnya adalah seperti seorang bayi yang baru lahir, dibuang di tanah terbuka, tidak dibersihkan, tidak dibungkus, dan dibiarkan mati. Yerusalem yaitu tanah Yebus, tidak memiliki apa pun yang dapat dibanggakan, tidak lahir dalam keadaan mulia, tidak kuat, tidak layak, bahkan tidak diinginkan. Dalam bahasa rohani, ini adalah gambaran manusia yang tak berdaya, tanpa prestasi, tanpa kebaikan, dan tanpa masa depan, singkatnya tidak berguna.

Akan tetapi Allah berbelas kasihan karena melihat bayi Yerusalem itu. Allah tidak melihat sesuatu yang indah atau berguna, melainkan justru sedih melihat kehidupannya yang hampir padam. Kalimat kunci dalam bagian ini adalah wujud dari kasih Allah yang tidak terbatas: “Hiduplah engkau.” Jadi kehidupan yang diperoleh Yerusalem, sama sekali bukan hasil usahanya sendiri, melainkan anugerah Allah. 

Jadi Secara teologis hal tersebut mengajar kita, bahwa kehidupan, keselamatan, dan masa depan kita, sangat bergantung pada Allah, bukan dari kemampuan kita sendiri.

Efesus 2:8

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

Allah kemudian merawat bayi itu. Ia membesarkan, memelihara, dan melindunginya sampai dewasa. Semua kebutuhan dipenuhi, bukan karena bayi itu layak, tetapi karena Allah setia. Ini menggambarkan perjalanan umat Allah dalam sejarah: dipelihara, diberkati, dan dijaga, sering kali tanpa mereka sadari. Banyak berkat datang bahkan ketika manusia belum mengenal atau menghormati Allah dengan benar.

Ketika Yerusalem telah dewasa, Allah menghiasinya, memberinya pakaian yang indah, perhiasan, dan kehormatan. Dalam bahasa sederhana, Allah mengangkat yang tidak bernilai menjadi berharga. Ia mengubah yang hina menjadi mulia. Keindahan Yerusalem bukan miliknya sendiri, tetapi hasil kasih dan pemberian Allah. Ini penting, karena Alkitab mau menegaskan bahwa segala kemuliaan umat Allah selalu bersumber dari Tuhan, bukan dari diri mereka.

Puncaknya adalah gambaran dari suatu pernikahan. Allah digambarkan sebagai mempelai yang mengikat perjanjian dengan Yerusalem. Ini bukan sekadar hubungan antara Tuhan dan umat, tetapi hubungan kasih, kesetiaan, dan komitmen. Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi mengikat diri-Nya. Ia berjanji setia, mengasihi, dan melindungi.

Makna teologisnya sangat jelas dan sangat manusiawi. Allah adalah Pribadi yang mencari, mengangkat, dan mengasihi manusia yang tak berdaya. Ia tidak menunggu manusia menjadi baik terlebih dahulu. Ia memulai dari kondisi terburuk. Namun di sisi lain, gambaran ini juga membawa peringatan halus: semua keindahan, kehormatan, dan kedudukan manusia adalah titipan. Ketika manusia lupa sumbernya, keindahan itu bisa berubah menjadi kesombongan dan pengkhianatan, sebagaimana diceritakan dalam bagian selanjutnya pasal ini.

Pesan Allah bagi manusia sangat relevan dan sederhana. Hidup manusia bukan hasil usaha sendiri semata. Segala yang baik dalam hidup adalah anugerah. Karena itu, respons yang tepat bukan kesombongan, melainkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesetiaan. Allah yang mengangkat dari “tanah pembuangan” adalah Allah yang sama yang menginginkan hubungan yang setia, bukan sekadar ritual keagamaan.

Dengan gambaran ini, Yehezkiel 16:1–14 mengajarkan bahwa kasih Allah mendahului segalanya, tetapi kasih itu juga mengundang tanggung jawab: hidup yang sadar akan asal-usulnya dan setia kepada Dia yang memberi hidup.

Jadi secara kesimpulannya, firman Tuhan menyingkapkan dua kebenaran besar yang berjalan bersama, yaitu:

1. Manusia itu sepenuhnya bergantung pada Allah

Firman Tuhan tersebut di atas, dengan jujur membongkar kenyataan manusia dan umat Allah yang pada dasarnya tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan, rapuh, tak berdaya, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan Allah. Yerusalem, yang secara rohani disebut “anak Amori dan Heti”, menjadi cermin bahwa identitas umat Allah dapat rusak ketika hidup tidak lagi setia kepada perjanjian, meskipun simbol-simbol iman tetap ada. 

2. Allah ingin bersatu dengan umat-Nya

Di sisi lain, pasal ini justru menampilkan kasih Allah yang luar biasa: Allah yang melihat, memungut, menghidupkan, merawat, menghiasi, dan mengikat perjanjian dengan yang tidak layak. Semua kemuliaan, kehidupan, dan masa depan umat Allah bersumber dari anugerah-Nya semata. Karena itu, firman ini mengajak setiap orang untuk hidup dengan kesadaran akan asal-usul anugerah, memelihara kerendahan hati, dan menanggapi kasih Allah dengan kesetiaan yang sungguh, bukan dengan kesombongan rohani atau ritual kosong.

Semoga Tuhan memberikan kita pemahaman dan hikmat untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut di atas. Tuhan Yesus memberkati.

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat,
oleh karena kasih-Nya yang besar,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita,
telah menghidupkan kita bersama Kristus.

Efesus 2:4–5a (TB)

Amin.

Komentar