Yehezkiel 16 Part 1 Tentang "Yerusalem mempelai Illahi" Seri Nabi Besar by Febrian
10 Januari 2026
Yehezkiel 16 Part 1 Tentang "Yerusalem mempelai Illahi" Seri Nabi Besar
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai betapa Allah mengasihi Yerusalem yang diangkat dari bayi terbuang menjadi mempelai-Nya. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Yehezkiel 16 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Yehezkiel 16:1-14
Allah memungut Yerusalem menjadi isteri-Nya
16:1
-
Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan -
Aku mengurapi engkau dengan minyak. -
Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera. Dan -
Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu. Dan -
Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu.
Dalam Alkitab, orang Amori dan orang Heti adalah dua bangsa besar Kanaan yang menempati tanah itu sebelum kehadiran bangsa Israel. Secara historis, mereka mewakili peradaban Kanaan dengan sistem kepercayaan politeistis, praktik ibadah berhala, dan struktur sosial yang oleh Alkitab dinilai rusak secara moral. Kejadian 15:16 menyatakan bahwa “kedurjanaan orang Amori belum genap”, sebuah pernyataan teologis penting yang menunjukkan bahwa penghakiman Allah atas bangsa-bangsa Kanaan bukan tindakan mendadak, melainkan hasil dari kesabaran ilahi yang panjang terhadap dosa yang terakumulasi.
Orang Amori dalam tradisi Perjanjian Lama sering berfungsi sebagai istilah representatif bagi seluruh kebobrokan rohani Kanaan. Mereka digambarkan sebagai bangsa yang kuat, dominan, dan berakar di wilayah pegunungan, termasuk daerah yang kelak menjadi Yerusalem. Walther Zimmerli, Dr. theol., dalam Ezekiel 1: A Commentary on the Book of the Prophet Ezekiel, Chapters 1–24 (1979), menegaskan bahwa dalam literatur kenabian, “Amori” tidak hanya menunjuk etnis tertentu, melainkan berfungsi sebagai simbol teologis dari kehidupan yang telah sepenuhnya menyimpang dari kehendak Allah. Dengan kata lain, Amori adalah metafora kolektif bagi identitas yang terlepas dari perjanjian.
Orang Heti, meskipun dikenal secara historis sebagai bangsa besar di Anatolia, dalam konteks Alkitab juga hadir sebagai komunitas lokal di Kanaan. Kitab Suci menunjukkan bahwa mereka dapat hidup berdampingan dengan Israel, sebagaimana terlihat pada Uria orang Heti. Namun Ulangan 7 tetap memasukkan mereka dalam daftar bangsa yang pengaruh rohaninya berbahaya bagi Israel. Moshe Greenberg, Ph.D., dalam Ezekiel 1–20 (Anchor Bible, 1983), menjelaskan bahwa penyebutan Heti dalam teks Yehezkiel bukan bertujuan etnografis, melainkan polemis: Heti melambangkan warisan religius Kanaan yang bertentangan dengan iman kepada YHWH.
Ketika Yehezkiel 16 menyatakan kepada Yerusalem, “ayahmu adalah orang Amori dan ibumu orang Heti”, para teolog sepakat bahwa ini sama sekali bukan silsilah biologis. Daniel I. Block, Ph.D., dalam The Book of Ezekiel, Chapters 1–24 (NICOT, 1997), menekankan bahwa pernyataan ini adalah bahasa nubuat yang tajam, metaforis, dan penuh ironi. Yehezkiel sedang membongkar klaim identitas rohani Yerusalem. Kota yang membanggakan diri sebagai pewaris Abraham ternyata, dalam perilaku dan nilai hidupnya, justru mencerminkan bangsa-bangsa kafir yang dahulu mereka gantikan. Dalam teologi perjanjian, tulis Block, identitas tidak ditentukan oleh darah, melainkan oleh kesetiaan.
Dengan demikian, Yerusalem disebut “anak Amori dan Heti” bukan karena asal-usul historisnya, melainkan karena keserupaan moral dan rohaninya. Zimmerli menyebut ungkapan ini sebagai sharp polemical metaphor, sebuah metafora polemis yang disengaja untuk menghancurkan rasa aman palsu umat Allah. Greenberg menambahkan bahwa Yehezkiel memakai bahasa genealogis untuk menyatakan pewarisan karakter, bukan pewarisan genetik. Yerusalem telah “mewarisi” tabiat Amori dan Heti karena ia mengadopsi pola hidup, sistem ibadah, dan cara berpikir mereka.
Pendekatan ini sepenuhnya konsisten dengan pola kenabian Alkitab. Yesaya menyebut Yerusalem sebagai Sodom dan Gomora, bukan karena lokasi geografis, melainkan karena kesamaan dosa. Dalam logika yang sama, Yehezkiel menuduh Yerusalem telah menjadi Kanaan dalam hati, meskipun secara lahiriah ia tetap memiliki Bait Allah dan ritual keagamaan. Block secara tajam menyatakan bahwa inilah tragedi teologis terbesar: umat perjanjian dapat mempertahankan simbol iman sambil kehilangan substansinya.
Namun Yehezkiel 16 tidak berhenti pada penghakiman. Para penafsir juga sepakat bahwa penutup pasal ini menegaskan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya sendiri. Pemulihan yang dijanjikan bukan lahir dari pertobatan sempurna Yerusalem, melainkan dari komitmen Allah yang tidak berubah. Ini menegaskan bahwa sekalipun Yerusalem telah hidup sebagai “anak Amori dan Heti”, Allah tetap berdaulat untuk memulihkan identitas umat-Nya melalui anugerah. Orang Amori dan Heti di sini adalah cermin rohani untuk memperlihatkan betapa jauh Yerusalem telah melenceng dari panggilan semula, sekaligus betapa besar kasih karunia yang masih disediakan bagi pemulihan sejati.
Jadi firman Tuhan dalam Yehezkiel 16:1–14 tersebut, menggambarkan Yerusalem awalnya adalah seperti seorang bayi yang baru lahir, dibuang di tanah terbuka, tidak dibersihkan, tidak dibungkus, dan dibiarkan mati. Yerusalem yaitu tanah Yebus, tidak memiliki apa pun yang dapat dibanggakan, tidak lahir dalam keadaan mulia, tidak kuat, tidak layak, bahkan tidak diinginkan. Dalam bahasa rohani, ini adalah gambaran manusia yang tak berdaya, tanpa prestasi, tanpa kebaikan, dan tanpa masa depan, singkatnya tidak berguna.
Akan tetapi Allah berbelas kasihan karena melihat bayi Yerusalem itu. Allah tidak melihat sesuatu yang indah atau berguna, melainkan justru sedih melihat kehidupannya yang hampir padam. Kalimat kunci dalam bagian ini adalah wujud dari kasih Allah yang tidak terbatas: “Hiduplah engkau.” Jadi kehidupan yang diperoleh Yerusalem, sama sekali bukan hasil usahanya sendiri, melainkan anugerah Allah.
Allah kemudian merawat bayi itu. Ia membesarkan, memelihara, dan melindunginya sampai dewasa. Semua kebutuhan dipenuhi, bukan karena bayi itu layak, tetapi karena Allah setia. Ini menggambarkan perjalanan umat Allah dalam sejarah: dipelihara, diberkati, dan dijaga, sering kali tanpa mereka sadari. Banyak berkat datang bahkan ketika manusia belum mengenal atau menghormati Allah dengan benar.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat,
oleh karena kasih-Nya yang besar,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita,
telah menghidupkan kita bersama Kristus.
Efesus 2:4–5a (TB)
Amin.

Komentar
Posting Komentar