Yehezkiel 1-3 tentang "Pengutusan Nabi Yehezkiel" Seri Nabi Besar by Febrian

30 Desember 2025


Image by vecstock on Freepik

Yehezkiel 1-3 tentang "Pengutusan Nabi Yehezkiel" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai tulisan dari Nabi Yehezkiel yang berada dalam pembuangan di Babel. Kisahnya bertemakan Kemuliaan Allah meninggalkan Bangsa Israel. Semoga kita semua diberi hikmat dan pengetahuan sehingga dapat memahami firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Nabi Yehezkiel adalah seorang imam yang berasal dari Yerusalem, putra Busi. Ia dibawa ke pembuangan di Babel pada tahun 597 SM, bersama dengan Raja Yoyakhin dan sekitar 10.000 tawanan lainnya, sekitar sepuluh tahun sebelum kehancuran total Yerusalem. Di Babel, Yehezkiel tinggal di pemukiman pengungsi di tepi Sungai Kebar. Pelayanannya sebagai nabi dimulai sekitar tahun 593 SM, ketika ia berusia 30 tahun, lima tahun setelah pembuangannya, dan berlangsung hingga sekitar tahun 571 SM. Dengan demikian, penulisan Kitab Yehezkiel diperkirakan terjadi dalam kurun waktu 593-565 SM, selama masa pembuangan Israel. Ia adalah rekan sezaman dengan Nabi Yeremia yang masih di Yerusalem, dan Nabi Daniel yang sudah lebih dahulu di Babel. Tujuan utamanya adalah membawa bangsanya, yang hidup dalam dosa dan keputusasaan di pembuangan, kepada pertobatan, menekankan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah, dan memberikan harapan akan pemulihan di masa depan.

​Kitab Yehezkiel yang terdiri dari 48 pasal terbagi menjadi tiga tema besar secara kronologis dan logis. Bagian pertama, yang meliputi pasal 1-24, berisi nubuat-nubuat mengenai penghukuman dan kehancuran Yerusalem serta Yehuda akibat pemberontakan dan dosa mereka. Yehezkiel menerima panggilan kenabian dan penglihatan kemuliaan Tuhan (pasal 1-3) dan kemudian ia menyampaikan berbagai tanda, perumpamaan, dan nubuat tentang datangnya malapetaka atas kota suci tersebut (pasal 4-24). Bagian kedua, yaitu pasal 25-32, berisi nubuat-nubuat penghakiman Allah terhadap bangsa-bangsa di sekitar Israel, seperti Amon, Moab, Edom, Filistin, Tirus, Sidon, dan Mesir. Penghakiman atas mereka menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas seluruh bumi, bukan hanya atas Israel. Bagian ketiga, dari pasal 33-48, beralih ke berita penghiburan dan harapan bagi Israel setelah Yerusalem jatuh (yang beritanya sampai pada Yehezkiel di pasal 33). Bagian ini berbicara tentang pemulihan bangsa Israel (pasal 34-39), termasuk nubuat tulang-tulang kering yang hidup kembali (pasal 37), dan janji tentang Bait Allah serta tata ibadah yang baru di masa depan yang mulia (pasal 40-48).

​Secara keseluruhan, Kitab Yehezkiel menggambarkan perjalanan umat Allah dari kemuliaan Tuhan yang pergi meninggalkan Bait Suci karena dosa umat-Nya dan harus menghukum mereka, namun diakhiri dengan janji pemulihan dan kehadiran Tuhan kembali di tengah-tengah umat-Nya dalam Bait Suci yang baru. Tema sentral yang terus berulang adalah tentang pengakuan bahwa "mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN" (). Hal ini berlaku baik dalam hukuman, maupun dalam pemulihan, yang menegaskan kedaulatan dan kekudusan Allah di tengah segala keadaan.

Yehezkiel 1:1-3:15 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Dari bacaan di atas, kita dapat mempelajari beberapa hal sebagai berikut:

  1. Yehezkiel 1:1–3 Latar historis dan eksistensial panggilan Yehezkiel. Perikop dibuka dengan penanggalan yang sangat spesifik, menempatkan Yehezkiel sebagai imam yang hidup di tengah pembuangan Babel. Panggilan kenabian tidak terjadi di Bait Allah Yerusalem, melainkan di tepi Sungai Kebar, sebuah lokasi asing dan profan menurut persepsi Israel. Hal ini menegaskan bahwa kehadiran dan kemuliaan TUHAN tidak dibatasi oleh tanah, bait, atau sistem keagamaan nasional.
  2. Yehezkiel 1:4–14 Penyataan kemuliaan Allah melalui penglihatan ajaib. Yehezkiel melihat badai, api, cahaya, makhluk hidup, roda-roda penuh mata, dan kubah yang berkilau. Seluruh gambaran ini menekankan kebesaran, kekudusan, dan keterjangkauan Allah yang sekaligus transenden dan aktif. Allah dinyatakan sebagai Raja yang bertakhta, berdaulat atas seluruh ciptaan, bergerak bebas, dan tidak terikat ruang. Takhta Allah hadir di tengah pembuangan, menunjukkan bahwa Allah tetap memerintah meskipun Israel kehilangan kedaulatan politik dan religius.
  3. Yehezkiel 1:15–21 Respons Yehezkiel terhadap kemuliaan ilahi. Ketika Yehezkiel melihat kemuliaan TUHAN, ia jatuh tersungkur ke tanah. Sikap ini menggambarkan jarak ontologis antara Sang Pencipta dan manusia fana. Panggilan kenabian selalu diawali dengan kerendahan diri total di hadapan kekudusan Allah, bukan dengan kepercayaan diri atau otoritas pribadi.
  4. Yehezkiel 1:22–28 Penugasan Yehezkiel sebagai nabi bagi bangsa yang memberontak. Allah memanggil Yehezkiel sebagai “manusia fana” dan mengutusnya kepada Israel yang keras kepala. Fokus utama panggilan ini bukan pada keberhasilan atau penerimaan pesan, melainkan pada ketaatan menyampaikan firman. Keberadaan nabi menjadi kesaksian bahwa Allah masih berbicara dan menuntut pertanggungjawaban umat-Nya.
  5. Yehezkiel 2:1–5 Yehezkiel dikuatkan Allah untuk menghadapi penolakan. Allah menegaskan bahwa Yehezkiel akan menghadapi perlawanan, penghinaan, dan penolakan, tetapi ia tidak boleh takut. Allah menjanjikan keteguhan batin, ketahanan moral, dan kekuatan rohani yang setara dengan kerasnya perlawanan umat. Panggilan ilahi selalu disertai dengan perlengkapan ilahi.
  6. Yehezkiel 2:6–7 Memakan gulungan kitab. Perintah untuk memakan gulungan kitab melambangkan bahwa pesan Allah harus dihayati sepenuhnya sebelum disampaikan. Firman yang berisi ratapan dan keluh kesah terasa manis di mulut Yehezkiel, menandakan bahwa ketaatan kepada Allah tetap membawa kepuasan rohani, meskipun isi pesan itu berat dan menyakitkan bagi pendengar.
  7. Yehezkiel 2:8–3:3 Penugasan Yehezkiel kepada ke tanah pembuangan. Setelah menerima dan menginternalisasi firman, Yehezkiel diutus secara konkret kepada komunitas Israel di pembuangan. Ia dipanggil untuk berbicara atas nama Allah kepada bangsanya sendiri, bukan kepada bangsa asing, meskipun justru bangsanya itulah yang paling keras menolak.
  8. Yehezkiel 3:4–11 Penegasan kembali pengutusan kepada Israel. Allah menekankan bahwa Israel lebih keras daripada bangsa asing, namun Yehezkiel tetap dipanggil untuk berbicara dengan keteguhan dan ketaatan.
  9. Yehezkiel 3:12–15 Dampak emosional dan rohani dari panggilan kenabian. Roh Allah mengangkat Yehezkiel, ia mengalami kepahitan batin, dan kemudian tinggal tertegun selama tujuh hari di tengah komunitas buangan, menandai beratnya tanggung jawab kenabian yang ia terima. 

Secara keseluruhan, perikop ini menegaskan bahwa Allah yang Mahamulia hadir di tengah krisis, memanggil manusia fana untuk menjadi alat-Nya, dan tetap berbicara kepada umat-Nya meskipun mereka berada dalam kondisi paling gelap sekalipun.

Semoga kita semua mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut di atas.

Hai manusia fana, perhatikanlah baik-baik dan ingatlah segala yang akan Kukatakan kepadamu. Pergilah kepada bangsamu yang ada dalam pembuangan itu, dan sampaikanlah apa yang Aku, TUHAN Yang Mahatinggi katakan kepada mereka, entah mereka mau mendengarkan atau tidak.

Yehezkiel 3:10-11

Amin.


Komentar