Ratapan 5 tentang "Doa mohon pertolongan Tuhan" Seri Nabi Besar by Febrian

29 Desember 2025

Image by Freepik.com

Ratapan 5 tentang "Doa mohon pertolongan Tuhan" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai kesedihan yang dialami bangsa Israel akibat ditinggalkan Tuhan atas perbuatan mereka yang jahat selama ini. Kita diajar untuk bertobat, berbalik dari jalan yang jahat, kemudian berbuat kebaikan. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Ratapan 5:1-22

Umat ​​Yerusalem Berdoa:

Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami. Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing. Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda. Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran. Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat. Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti. 

Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka. Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada. Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami. Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan. 

Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda. Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati. Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu. Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi.  

Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa! Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran. 

Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa! Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

​Karena kita sudah tiba di pasal terakhir dari kitab Ratapan, mari kita lihat ke belakang sebentar. Tujuannya supaya kita bisa lebih merasakan mengapa Nabi Yeremia dan bangsa itu begitu sedih dan hancur hatinya saat menuliskan pasal ini.

1. Awal Mula Kejatuhan: Warisan Kesalahan Masa Lalu

​Dulu, pelayanan Nabi Yeremia dimulai saat Raja Yosia masih memimpin. Raja Yosia adalah orang baik yang mencoba membawa pembaruan agama. Namun sayangnya, perubahan itu tidak bertahan lama. Setelah ia wafat, raja-raja penerusnya justru membawa bangsa itu kembali pada kemerosotan moral. Mereka melakukan kesalahan yang fatal dan bertumpuk-tumpuk.

​Hal ini sangat berhubungan dengan apa yang tertulis dalam Ratapan 5:7: "Bapak-bapak kami berbuat dosa, ... dan kami yang harus memikul kedurjanaan mereka."

Gambaran Sederhana:

Bayangkan sebuah keluarga di mana orang tuanya gemar berhutang demi hidup mewah tanpa memikirkan masa depan. Ketika orang tua itu meninggal, anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba didatangi penagih hutang dan rumah peninggalan itu disita. Anak-anak inilah yang harus menanggung beban akibat keputusan salah orang tua mereka.

2. Hidup di Bawah Tekanan: Hilangnya Harga Diri

​Singkat cerita, kerajaan Babel muncul sebagai kekuatan besar dunia. Yehuda akhirnya kalah dan dijajah. Raja Zedekia sempat mencoba melawan, padahal Nabi Yeremia sudah menasihati agar mereka tunduk saja sebagai bentuk penerimaan hukuman Tuhan. Akibat perlawanan itu, Yerusalem dikepung rapat oleh musuh.

​Kondisi terjajah ini digambarkan dalam Ratapan 5:8: "Pelayan-pelayan memerintah atas kami; tidak ada yang melepaskan kami dari tangan mereka." Harga diri mereka benar-benar jatuh, bahkan bawahan musuh pun bisa memerintah mereka dengan semena-mena.

Gambaran Sederhana:

Bayangkan di tempat kita bekerja atau di lingkungan kita, tiba-tiba datang orang asing yang mengambil alih. Orang yang tadinya mungkin derajatnya lebih rendah atau tidak punya wewenang, tiba-tiba berkuasa dan bisa menyuruh-nyuruh kita dengan kasar. Tentu rasanya sangat menyakitkan dan merendahkan hati.

3. Pengepungan dan Kelaparan yang Hebat

​Pengepungan yang terjadi sekitar tahun 589-586 SM itu sangat berat. Makanan habis, rakyat kelaparan luar biasa, bahkan sakit demam karena kurang makan. Kebutuhan dasar seperti air dan kayu bakar yang dulunya mudah didapat, sekarang harus dibeli dengan harga mahal karena dikuasai musuh.

​Ini tercatat jelas di Ratapan 5:4 "Air kami, kami minum dengan membayar" dan Ratapan 5:10 "Kulit kami panas seperti perapian, karena demam lapar".

Gambaran Sederhana:

Bayangkan situasi krisis yang parah, di mana uang yang banyak sekalipun hanya cukup untuk membeli segenggam beras. Bahkan, untuk mengambil air dari sumur di tanah kelahiran sendiri pun, kita dipaksa membayar mahal kepada orang asing. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan.

4. Kehancuran Kota dan Hilangnya Sukacita

​Puncaknya pada tahun 586 SM, pertahanan kota jebol. Yerusalem dibakar, Bait Allah yang megah diruntuhkan. Raja ditangkap dan dibuat buta. Penduduk yang kuat dibawa ke negeri asing, menyisakan mereka yang lemah di tengah reruntuhan.

​Suasana kota yang dulunya penuh pesta perayaan, seketika berubah sunyi dan penuh tangisan. Ini persis seperti keluhan di Ratapan 5:15: "Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan."

Gambaran Sederhana:

Pernahkah Bapak/Ibu melihat sebuah pesta pernikahan yang sedang berlangsung meriah, namun tiba-tiba terhenti karena kabar duka yang mengejutkan? Musik langsung berhenti, tawa berganti tangis, dan suasana berubah kelabu seketika. Seperti itulah kira-kira suasana Yerusalem saat itu.

Kesimpulan: Kembali Berseru kepada Tuhan

​Kitab Ratapan pasal 5 ini adalah jeritan hati sisa-sisa penduduk yang sudah tidak berdaya. Harta habis, harga diri hancur, dan harapan kepada manusia sudah pupus.

​Namun, di titik terendah itulah mereka sadar bahwa satu-satunya harapan hanya pada Tuhan. Pasal ini ditutup dengan pengakuan iman yang indah di Ratapan 5:19: "Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya."

​Meskipun kerajaan dunia runtuh dan keadaan hancur, takhta Tuhan tetap tegak. Dia tetap berkuasa memulihkan umat-Nya, asalkan kita mau kembali berseru kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

"Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya."

Yesaya 55:7
Amin.

Komentar