Ratapan 3 tentang "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN" Seri Nabi Besar by Febrian
27 Desember 2025
Made with Nano Banana Pro Google Gemini AIRatapan 3 tentang "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN" Seri Nabi besar
Ratapan Nabi Yeremia bagian ke-2
Murka Allah terhadap Sion
א (Alef)
3:1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya. 3:2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya. 3:3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.
ב (Bet)
3:4 Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya. 3:5 Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan. 3:6 Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.
ג (Gimel)
3:7 Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat. 3:8 Walaupun aku memanggil-manggil dan berteriak minta tolong, tak didengarkan-Nya doaku. 3:9 Ia merintangi jalan-jalanku dengan batu pahat, dan menjadikannya tidak terlalui.
ד (Dalet)
3:10 Laksana beruang Ia menghadang aku, laksana singa dalam tempat persembunyian. 3:11 Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun. 3:12 Ia membidikkan panah-Nya, menjadikan aku sasaran anak panah.
ה (He)
3:13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya. 3:14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari. 3:15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.
ו (Vav)
3:16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu. 3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan. 3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.
ז (Zayin)
3:19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu." 3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
ח (Khet)
3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
ט (Tet)
3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.
י (Yod)
3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. 3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 3:30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.
כ (Kaf)
3:31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. 3:32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. 3:33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.
ל (Lamed)
3:34 Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia, 3:35 kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi, 3:36 atau orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya, masakan Tuhan tidak melihatnya?
מ (Mem)
3:37 Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? 3:38 Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik? 3:39 Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!
נ (Nun)
3:40 Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. 3:41 Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga: 3:42 Kami telah mendurhaka dan memberontak, Engkau tidak mengampuni.
ס (Samek)
3:43 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan. 3:44 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus. 3:45 Kami Kaujadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa.
פ (Pe)
3:46 Terhadap kami semua seteru kami mengangakan mulutnya. 3:47 Kejut dan jerat menimpa kami, kemusnahan dan kehancuran. 3:48 Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku.
ע (Ayin)
3:49 Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, 3:50 sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga. 3:51 Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku.
צ (Tsade)
3:52 Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 3:53 Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu. 3:54 Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: "Binasa aku!"
ק (Qof)
3:55 "Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. 3:56 Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku! 3:57 Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!"
ר (Resh)
3:58 "Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku. 3:59 Engkau telah melihat ketidakadilan terhadap aku, ya TUHAN; berikanlah keadilan! 3:60 Engkau telah melihat segala dendam mereka, segala rancangan mereka terhadap aku."
ש (Sin/Shin)
3:61 "Engkau telah mendengar cercaan mereka, ya TUHAN, segala rancangan mereka terhadap aku, 3:62 percakapan orang-orang yang melawan aku, dan rencana mereka terhadap aku sepanjang hari. 3:63 Amatilah duduk bangun mereka! Aku menjadi lagu ejekan mereka."
ת (Tav)
3:64 "Engkau akan mengadakan pembalasan terhadap mereka, ya TUHAN, menurut perbuatan tangan mereka. 3:65 Engkau akan mengeraskan hati mereka; kiranya kutuk-Mu menimpa mereka! 3:66 Engkau akan mengejar mereka dengan murka dan memunahkan mereka dari bawah langit, ya TUHAN!".
Ayat bacaan di atas disusun berdasarkan pembagian asli syair dari Nabi Yeremia yang terdiri dari 22 bagian sesuai abjad Ibrani yang berjumlah 22 buah.
Adapun berikut adalah beberapa pokok pikiran yang terkandung dalam ayat bacaan tersebut di atas:
1. Ratapan 3:1-21 - Nabi meratapi penderitaannya sendiri.
Bagian Ratapan 3:1–21 ini lahir dari pengalaman hidup Nabi Yeremia yang sangat nyata dan sangat menyakitkan. Ini bukan puisi penderitaan yang dibuat dari kejauhan, melainkan jeritan batin seorang nabi yang telah lama memikul beban firman Tuhan, ditolak bangsanya, dan akhirnya ikut merasakan kehancuran yang ia nubuatkan sendiri.
Yeremia dikenal sebagai “nabi yang menangis” bukan karena ia lemah, tetapi karena ia terlalu jujur di hadapan Allah. Sejak awal pelayanannya, ia dipanggil untuk menyampaikan pesan yang keras kepada Yehuda: bertobat atau menghadapi kehancuran. Namun peringatannya ditolak. Ia dicemooh, dipukuli, dipenjarakan, bahkan pernah dilemparkan ke dalam sumur berlumpur dan dibiarkan mati perlahan. Semua ini tercatat dalam kitab Yeremia, terutama pasal 20, 37, dan 38. Pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi latar emosional Ratapan pasal 3.
Ketika Yeremia berkata, “Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya,” ia sedang berbicara sebagai saksi hidup dari murka Allah yang nyata. Ia melihat Yerusalem runtuh, Bait Allah dibakar, anak-anak mati kelaparan, dan bangsanya dibuang. Tetapi yang mengejutkan, ia tidak menyalahkan Babel terlebih dahulu. Ia justru melihat tangan Allah di balik semua peristiwa itu. Baginya, penderitaan ini bukan kebetulan sejarah, melainkan tindakan Allah yang mendidik dan menghakimi.
Gambaran-gambaran yang digunakan Yeremia sangat keras dan personal. Ia merasa seperti dibawa ke dalam gelap tanpa terang, seperti tulangnya dipatahkan, seperti jalannya ditutup, doanya tidak didengar, bahkan seperti diburu binatang buas. Ini mencerminkan keadaan batin seseorang yang merasa terputus, terkurung, dan kehilangan arah. Yeremia tidak menyembunyikan perasaannya. Ia berani berkata bahwa doanya seolah-olah diblokir dan harapannya kepada Tuhan hampir lenyap.
Namun penting diperhatikan, semua keluhan ini tetap diarahkan kepada Tuhan. Yeremia tidak berhenti berbicara dengan Allah, meskipun ia merasa Allah diam. Ia tetap mengingat, merenung, dan membawa sengsaranya ke hadapan Tuhan. Ayat 19–20 menunjukkan bahwa ingatan akan penderitaan itu terus menghantui jiwanya, tetapi ayat 21 menjadi titik balik yang sangat penting: “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap.”
Kalimat ini menandai perubahan arah batin Yeremia. Ia belum melihat pemulihan, belum keluar dari penderitaan, tetapi ia memilih untuk mengingat sesuatu yang lebih dalam daripada rasa sakitnya. Di bagian selanjutnya (ayat 22 dan seterusnya), harapan itu akan dinyatakan dengan jelas: kasih setia Tuhan tidak berkesudahan. Namun pada ayat 1–21 ini, kita diajak melihat proses iman yang jujur: dari luka, ke keputusasaan, lalu perlahan menuju pengharapan.
Ratapan 3 mengajarkan bahwa iman sejati bukanlah tidak menangis, tetapi berani menangis di hadapan Allah. Yeremia tidak menyangkal realitas penderitaan, namun ia juga tidak menyerah pada keputusasaan. Ia bergumul, mengeluh, dan hampir putus asa, tetapi ia tetap tinggal di hadapan Tuhan. Dari sanalah pengharapan lahir, bukan dari keadaan yang berubah, melainkan dari cara pandang yang kembali diarahkan kepada Allah yang setia.
Pengalaman Yeremia dalam Ratapan 3 sangat mudah ditemukan kembali dalam kehidupan zaman ini, meskipun bentuknya berbeda. Banyak orang hari ini hidup dalam penderitaan yang sunyi, tidak terlihat, dan sering kali tidak dipahami oleh orang lain. Ada orang yang sudah berusaha hidup benar, bekerja jujur, setia dalam tanggung jawab, namun justru mengalami kegagalan, kehilangan, penolakan, atau ketidakadilan yang bertubi-tubi. Seperti Yeremia, mereka bisa berkata, “Aku sudah berdoa, tetapi rasanya Tuhan diam.”
Dalam konteks modern, penderitaan itu bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, usaha yang bangkrut, rumah tangga yang runtuh, anak yang menyimpang, atau tekanan mental yang membuat hidup terasa gelap tanpa terang. Ada orang yang bangun pagi dengan perasaan hampa, seolah-olah semua jalan tertutup, doanya seperti mentok di langit-langit, dan harapannya perlahan menguap. Pada titik itu, kata-kata Yeremia terasa sangat dekat: hidup terasa seperti dikurung, dilukai dari segala sisi, dan dijadikan tontonan atau bahan ejekan.
Yang membuat Ratapan 3 begitu relevan adalah kejujuran rohaninya. Yeremia tidak berpura-pura kuat. Ia mengakui bahwa ia hampir kehilangan harapan kepada Tuhan. Ini penting, karena banyak orang beriman hari ini merasa bersalah ketika mereka lelah, sedih, atau mempertanyakan Tuhan. Ratapan menunjukkan bahwa iman yang dewasa bukan iman yang menekan perasaan, tetapi iman yang membawa seluruh luka ke hadapan Allah.
Namun refleksi terpenting bukan berhenti pada penderitaan. Seperti Yeremia, orang yang terluka masih memiliki satu pilihan rohani: apa yang akan diingat dan dipegang di tengah kegelapan. Ayat 21 menunjukkan bahwa harapan lahir bukan karena situasi berubah, tetapi karena seseorang dengan sengaja mengarahkan pikirannya kepada kebenaran tentang Allah. Harapan bukan datang dari perasaan, melainkan dari keputusan batin untuk tetap percaya pada karakter Tuhan.
Dalam kehidupan modern, ini berarti belajar berhenti sejenak, jujur di hadapan Tuhan, dan tidak menutup luka dengan kesibukan atau kepura-puraan rohani. Ini berarti mengakui kelelahan, menangis bila perlu, namun tetap datang kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. Seperti Yeremia, orang beriman hari ini dipanggil bukan untuk menyangkal penderitaan, tetapi untuk membiarkan penderitaan itu membentuk kedalaman iman.
Ratapan 3 mengajarkan bahwa Tuhan tidak menolak orang yang remuk. Ia mungkin membiarkan seseorang melewati kegelapan, tetapi Ia tidak pernah kehilangan kendali. Harapan sejati sering kali lahir justru di titik ketika seseorang berkata, “Aku hampir menyerah,” namun masih memilih untuk berharap. Di situlah iman tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi pegangan hidup yang nyata.
2. Ratapan 3:22-36 - Dengan belas kasih TUHAN, dia menumbuhkan pengharapannya.
Ratapan 3:22–36 muncul setelah keluhan panjang Nabi Yeremia tentang penderitaan, kehancuran Yerusalem, dan rasa seolah-olah Allah berdiam diri. Pada bagian sebelumnya, Yeremia berbicara sebagai manusia yang hancur secara batin, penuh luka, kecewa, dan kelelahan rohani. Namun di titik ini terjadi perubahan besar: dari keluhan menuju pengakuan iman. Yeremia tidak menyangkal penderitaan, tetapi ia mengingat kembali siapa Allah itu. Ia menegaskan bahwa kasih setia TUHAN tidak pernah berakhir dan rahmat-Nya tidak pernah habis. Setiap pagi ada pembaruan, bukan karena keadaan berubah, melainkan karena karakter Allah tidak berubah. Harapan Yeremia tidak lagi bertumpu pada situasi, melainkan pada kesetiaan Allah sendiri.
Ayat-ayat ini menunjukkan proses rohani yang jujur. Yeremia tidak melompat langsung dari penderitaan ke kemenangan. Ia melewati penantian, keheningan, dan penundukan diri. Menanti dengan diam, memikul kuk, duduk sendirian, bahkan menerima celaan, semuanya menggambarkan sikap hati yang berserah penuh di bawah tangan Allah. Di tengah penderitaan, Yeremia memahami bahwa Allah tidak pernah menindas dengan senang hati. Hukuman dan kesusahan bukan tujuan akhir Allah, karena kasih setia-Nya jauh lebih besar daripada murka-Nya. Allah melihat ketidakadilan, penindasan, dan air mata manusia; tidak ada satu pun yang luput dari perhatian-Nya.
Perubahan harapan ini terjadi bukan karena penderitaan berhenti, tetapi karena Yeremia kembali menaruh pusat hidupnya pada Allah. Dari “aku menderita” menjadi “TUHAN adalah bagianku”. Inilah titik balik rohani yang penting. Ketika Allah menjadi bagian utama hidup seseorang, maka harapan tidak lagi rapuh oleh keadaan. Kesadaran ini mengubah ratapan menjadi pengharapan yang tenang dan matang.
Refleksi di zaman sekarang sangat relevan. Banyak orang mengalami fase seperti Yeremia: kehilangan, kegagalan, ketidakadilan, atau masa penantian panjang yang melelahkan. Doa terasa hampa, usaha seakan sia-sia, dan masa depan tampak gelap. Namun bagian ini mengajarkan bahwa iman tidak berarti menutup mata terhadap penderitaan, melainkan berani mengingat kebenaran Allah di tengah penderitaan itu. Harapan sejati lahir ketika seseorang tetap bersandar kepada Allah meskipun belum melihat jalan keluar.
Dalam kehidupan modern, sikap “menanti dengan diam” sering dianggap lemah, padahal secara rohani itu adalah bentuk kepercayaan yang mendalam. Tidak semua masalah langsung diselesaikan, tidak semua doa langsung dijawab. Namun Allah tetap bekerja, tetap melihat, dan tetap setia pada janji-Nya. Seperti Yeremia, perubahan terbesar sering terjadi di dalam hati terlebih dahulu, sebelum keadaan di luar berubah. Dari keluhan menuju harapan, dari keputusasaan menuju penyerahan, dari ratapan menuju keyakinan bahwa kasih setia TUHAN tidak pernah berkesudahan.
3. Ratapan 3:37-54 Dia mengakui keadilan TUHAN.
Ratapan 3:37–54 melanjutkan alur perubahan batin Nabi Yeremia yang telah dimulai sebelumnya. Setelah menegaskan bahwa kasih setia TUHAN tidak berkesudahan dan bahwa Allah tidak menindas dengan rela hati, Yeremia kini mengarahkan pandangannya pada kedaulatan Allah atas seluruh peristiwa hidup. Ia menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa seizin TUHAN. Baik kesusahan maupun kebaikan tidak muncul secara kebetulan. Pengakuan ini bukan bentuk pasrah tanpa pikiran, melainkan pengakuan iman bahwa Allah tetap memegang kendali, bahkan ketika manusia tidak memahami jalan-Nya.
Namun kesadaran akan kedaulatan Allah tidak membuat Yeremia menjadi dingin atau acuh. Justru sebaliknya, ia mengajak umat untuk menguji dan menyelidiki jalan hidup mereka, lalu kembali kepada TUHAN. Penderitaan dipahami sebagai momen refleksi rohani, bukan sekadar hukuman buta. Yeremia menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada Allah, melainkan pada dosa dan pemberontakan manusia. Oleh sebab itu, respons yang benar bukan mengeluh tanpa arah, tetapi bertobat dengan sungguh-sungguh dan kembali berharap kepada Allah yang berdaulat dan penuh kasih.
Dalam bagian ini, nada Yeremia kembali menjadi sangat personal. Ia menggambarkan doanya yang seolah tidak didengar, langit yang tertutup, serta rasa tertekan dan dikejar musuh. Gambaran ini menunjukkan bahwa iman tidak menghapus rasa sakit secara instan. Walaupun harapan telah muncul, realitas penderitaan masih nyata. Yeremia tetap menangis, berseru, dan mencurahkan isi hatinya kepada Allah. Namun perbedaannya dengan keluhan sebelumnya adalah arah seruannya. Ia tidak lagi berbicara dalam keputusasaan, melainkan dalam relasi dengan Allah yang ia kenal setia dan adil.
Ayat-ayat ini memperlihatkan iman yang dewasa, yaitu iman yang mampu hidup di antara dua kenyataan: penderitaan yang belum berakhir dan pengharapan yang sudah berakar. Yeremia tidak menyangkal kesesakan, tetapi ia tetap datang kepada Allah sebagai satu-satunya tempat berlindung. Doanya bukan sekadar jeritan emosional, melainkan seruan iman yang percaya bahwa Allah melihat dan mendengar, meskipun belum ada jawaban yang terlihat.
Refleksi di zaman sekarang sangat kuat. Banyak orang hidup dalam situasi di mana doa terasa tertahan, keadilan terasa jauh, dan hidup seperti berada dalam tekanan tanpa jalan keluar. Ratapan 3:37–54 mengajarkan bahwa fase ini bukan tanda Allah meninggalkan, melainkan bagian dari perjalanan iman yang jujur. Allah tidak menolak seruan orang yang datang kepada-Nya dengan hati remuk dan terbuka. Kesadaran akan kedaulatan Allah menolong seseorang untuk berhenti menyalahkan keadaan semata, dan mulai kembali memeriksa arah hidup di hadapan-Nya.
Seperti Yeremia, perubahan sejati sering tidak langsung terlihat dalam situasi, tetapi terjadi dalam cara memandang Allah dan diri sendiri. Dari perasaan ditinggalkan menuju keberanian berseru. Dari kebingungan menuju pertobatan. Dari keputusasaan menuju pengharapan yang bertahan di tengah tekanan. Inilah iman yang tidak lahir dari kenyamanan, tetapi ditempa melalui ratapan yang dibawa dengan jujur ke hadapan TUHAN.
4. Ratapan 3:55-63 Dia berdoa memohon pembebasan,
Ratapan 3:55–63 merupakan penutup yang sangat personal dari rangkaian pergumulan batin Nabi Yeremia dalam pasal ini. Setelah melewati keluhan mendalam, pengakuan akan kedaulatan Allah, pertobatan, dan munculnya harapan, Yeremia kini bersaksi tentang pengalaman konkret doanya kepada TUHAN. Ia mengingat saat ia berseru dari “lubang yang paling dalam”, sebuah ungkapan yang melukiskan keadaan terendah, terasing, dan nyaris tanpa daya. Namun di titik itulah ia menegaskan bahwa TUHAN mendengar suaranya dan tidak menutup telinga terhadap seruannya.
Bagian ini menunjukkan pergeseran yang sangat penting. Yeremia tidak lagi hanya berbicara tentang siapa Allah secara teologis, melainkan tentang apa yang Allah lakukan dalam relasi yang nyata. Ia bersaksi bahwa TUHAN mendekat ketika ia berseru, dan memberikan kelegaan di tengah ketakutan. Ini bukan berarti semua masalah langsung lenyap, tetapi ada kepastian bahwa ia tidak sendirian. Kehadiran Allah menjadi jawaban terdalam atas jeritan jiwa, bahkan sebelum pemulihan lahiriah terjadi.
Selanjutnya Yeremia menyatakan keyakinannya bahwa TUHAN melihat ketidakadilan yang dialaminya. Ia menyerahkan penghinaan, ejekan, dan rencana jahat musuh-musuhnya ke dalam tangan Allah. Ini menandai perubahan sikap yang signifikan dibanding bagian awal pasal ini. Yeremia tidak lagi memendam luka itu sendiri, juga tidak mengambil pembalasan. Ia menyerahkan penilaian dan keadilan sepenuhnya kepada Allah yang Mahatahu. Ratapan berubah menjadi doa yang berserah, dan keluhan berubah menjadi kepercayaan.
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa iman yang sejati tidak selalu berarti bebas dari luka, tetapi berarti membawa luka itu ke hadapan Allah. Yeremia tetap sadar akan ejekan dan kejahatan yang diarahkan kepadanya, tetapi ia tidak membiarkan semuanya meracuni jiwanya. Ia menempatkan penderitaannya dalam terang keadilan Allah. Dengan demikian, pasal ini ditutup bukan dengan kemenangan lahiriah, melainkan dengan ketenangan batin yang lahir dari keyakinan bahwa Allah mendengar, melihat, dan bertindak pada waktu-Nya.
Refleksi di zaman sekarang sangat relevan. Banyak orang mengalami keadaan “lubang terdalam” dalam hidup, ketika doa hanya berupa desahan dan harapan terasa rapuh. Ratapan 3:55–63 menunjukkan bahwa Allah tidak menunggu doa yang sempurna atau iman yang kuat. Seruan dari kedalaman, dari hati yang remuk, tetap didengar-Nya. Allah adalah Allah yang mendekat, bukan Allah yang jauh dan acuh.
Selain itu, bagian ini mengajarkan kedewasaan rohani dalam menghadapi ketidakadilan. Alih-alih terjebak dalam kepahitan atau keinginan membalas, iman mengajak manusia menyerahkan penilaian kepada Allah. Ketika keadilan terasa tertunda, iman tetap percaya bahwa Allah melihat seluruhnya. Dengan demikian, perjalanan Ratapan pasal 3 ditutup dengan sebuah kesaksian: dari ratapan menuju harapan, dari luka menuju doa, dan dari keputusasaan menuju kepercayaan yang tenang di hadapan TUHAN yang setia.
5. Ratapan 3:64-66 Pembalasan kepada musuh-musuhnya.
Ratapan 3:64–66 merupakan penutup terakhir dari seluruh pasal ini dan berfungsi sebagai serah-terima penuh Yeremia kepada keadilan Allah. Setelah ia mengungkapkan penderitaan, menemukan kembali harapan, dan bersaksi bahwa doanya didengar, kini Yeremia membawa persoalan terakhir ke hadapan TUHAN: kejahatan para penindasnya. Ia tidak menyebutkan nama, tidak merinci bentuk pembalasan yang ia inginkan, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah untuk bertindak “menurut perbuatan tangan mereka”.
Bagian ini penting karena menunjukkan bahwa iman yang dewasa tidak meniadakan rasa sakit atau ketidakadilan. Yeremia tidak menyangkal bahwa ia diperlakukan dengan jahat, dihina, dan dikejar. Namun ia juga tidak mengambil posisi sebagai hakim. Permintaannya bukan ledakan emosi, melainkan permohonan agar keadilan Allah ditegakkan sesuai kehendak-Nya. Ia percaya bahwa Allah melihat, mengingat, dan bertindak secara adil, bahkan ketika manusia gagal melakukannya.
Nada ayat-ayat ini bukan balas dendam yang liar, melainkan penyerahan penghakiman. Dalam kerangka iman Perjanjian Lama, menyerahkan musuh kepada keadilan Allah justru merupakan bentuk ketaatan, karena penghakiman adalah hak Allah, bukan manusia. Dengan demikian, Yeremia menutup ratapannya bukan dengan kepahitan, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah adalah Hakim yang benar atas sejarah, bangsa-bangsa, dan hidup pribadi.
Jika seluruh Ratapan 3 dibaca sebagai satu kesatuan, maka ayat 64–66 menunjukkan puncak transformasi batin Yeremia. Ia bergerak dari “aku dipukul dan ditinggalkan” menuju “Allah setia dan penuh rahmat”, dan akhirnya sampai pada “Allah adil dan berdaulat”. Penderitaan tidak membuatnya sinis, tetapi justru memurnikan imannya. Ia belajar bahwa tidak semua keadilan harus disaksikan segera agar iman tetap teguh.
Refleksi bagi zaman sekarang sangat kuat. Dalam kehidupan modern, banyak orang mengalami ketidakadilan yang tidak pernah diselesaikan secara hukum atau sosial. Ratapan 3:64–66 mengajarkan bahwa iman bukanlah menutup mata terhadap kejahatan, tetapi memilih untuk tidak membiarkan kejahatan itu menguasai hati. Menyerahkan perkara kepada Allah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kepercayaan yang mendalam bahwa keadilan sejati tidak pernah luput dari penglihatan-Nya.
Dengan ayat-ayat ini, Ratapan pasal 3 berakhir dalam ketegangan yang sehat: penderitaan masih nyata, musuh belum lenyap, tetapi iman berdiri tegak. Allah tetap memerintah, Allah tetap setia, dan Allah tetap adil. Di sanalah jiwa menemukan ketenangan, bukan karena keadaan berubah, tetapi karena keyakinan kepada siapa Allah itu tidak berubah.
Kitab Ratapan pasal 1 dan 2 membawa kita masuk ke dalam suasana kehancuran yang nyaris tanpa jeda. Yerusalem digambarkan seperti seorang perempuan yang ditinggalkan, dipermalukan, dan menangis sendirian. Kota yang dahulu ramai dan mulia kini sunyi, sementara penderitaan itu dipahami bukan sekadar sebagai musibah sejarah, melainkan sebagai akibat dari murka Allah atas dosa umat-Nya. Ratapan 2 memperdalam gambaran ini dengan bahasa yang lebih keras: Allah sendiri digambarkan sebagai pihak yang merobohkan tembok, membungkam ibadah, dan membiarkan musuh bersorak. Harapan hampir tidak terdengar, yang ada hanya ratapan, kejut, dan kesedihan kolektif.
Ratapan pasal 3 mengubah sudut pandang. Jika pasal 1 dan 2 berbicara dari suara kota dan bangsa, pasal 3 berbicara dari suara seorang manusia yang menderita secara pribadi. Yeremia tidak lagi hanya menyaksikan kehancuran, ia mengalaminya di tubuh dan jiwanya sendiri. Ia merasa dipukul, ditinggalkan, dipenjara dalam gelap, bahkan doanya seakan tidak didengar. Pasal ini jujur tanpa basa-basi, memperlihatkan iman yang sedang remuk, bukan iman yang rapi dan tenang.
Namun justru di titik paling gelap itulah terjadi perubahan. Di tengah keluhan yang panjang, Yeremia berhenti dan mengingat siapa Allah itu. Ia menyadari bahwa kasih setia TUHAN tidak pernah habis, bahwa rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Harapan tidak muncul karena keadaan berubah, tetapi karena cara pandangnya berubah. Ia belajar menanti dengan diam, menerima didikan, dan mempercayakan keadilan kepada Allah, bukan membalas sendiri.
Dengan demikian, Ratapan 3 menjadi jembatan rohani antara keputusasaan Ratapan 1–2 dan iman yang bertahan di tengah kehancuran. Pasal ini mengajarkan bahwa iman sejati bukanlah tidak menangis, melainkan tetap berharap sambil menangis. Allah tidak meniadakan penderitaan, tetapi Ia hadir di dalamnya, mendengar jeritan, dan memegang kendali atas keadilan dan sejarah.
Secara sederhana, Ratapan 1 dan 2 menunjukkan betapa hancurnya hidup ketika dosa dan murka Allah berhadapan, sementara Ratapan 3 menunjukkan bahwa di tengah kehancuran itu, manusia masih bisa menemukan harapan yang tenang dan kokoh, bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena Allah tetap setia.
Kiranya firman Tuhan ini menjadi berkat buat kita semua.
Sebab aku yakin,
bahwa penderitaan zaman sekarang ini
tidak dapat dibandingkan
dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Roma 8:18
Amin.

Komentar
Posting Komentar