Legacy of Christ - by Ps. Landong Siringo IFGF Bekasi
28 Desember 2025
Legacy of Christ
by Ps. Landong Siringo IFGF Bekasi
Yohanes 1:1-14 (BIMK)
1 Pada mulanya, sebelum dunia dijadikan, Sabda sudah ada. Sabda ada bersama Allah dan Sabda sama dengan Allah.
2 Sejak semula Ia bersama Allah.
3 Segalanya dijadikan melalui Dia, dan dari segala yang ada, tak satu pun dijadikan tanpa Dia.
4 Sabda itu sumber hidup, dan hidup memberi terang kepada manusia.
5 Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan tak dapat memadamkannya.
6 Datanglah orang yang diutus Allah, Yohanes namanya.
7 Ia datang mewartakan tentang terang itu, supaya semua orang percaya.
8 Ia sendiri bukan terang itu, ia hanya mewartakannya.
9 Terang sejati yang menerangi semua manusia, datang ke dunia.
10 Sabda ada di dunia, dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
11 Ia datang ke negeri-Nya sendiri tetapi bangsa-Nya tidak menerima Dia.
12 Namun ada juga orang yang menerima Dia dan percaya kepada-Nya; mereka diberi-Nya hak menjadi anak Allah,
13 yang dilahirkan bukan dari manusia, sebab hidup baru itu dari Allah asalnya.
14 Sabda sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita, dan kita sudah melihat keagungan-Nya. Keagungan itu diterima-Nya sebagai Anak tunggal Bapa. Melalui Dia kita melihat Allah dan kasih-Nya kepada kita.
Ada satu restoran di Eropa namanya Dan's Le Noir. Ini resto unik, karena di resto ini tidak ada lampu sama sekali. Orang yang masuk ke resto itu tidak bisa lihat apa-apa. Uniknya, pelayan-pelayan resto itu adalah tunanetra. Seluruh pelanggan restoran, mutlak bergantung pada mereka. Banyak orang yang mengatakan, makanan mungkin enak, tapi tidak bisa menikmati makanan itu. Berarti terang itu berkaitan dengan hati yang tenang.
Manusia mutlak membutuhkan Terang. Allah menciptakan terang sebelum mencipta segalanya. Bagi kita Kristus adalah terang dalam kegelapan.
Film "Son of God" dibuat dari Injil Yohanes. Berbeda dari film "The passion of Christ" yang diambil dari kitab Lukas.
1. Kristus itu terang yang kekal
Kristologi menerangkan siapa Kristus itu. Ia adalah terang yang kekal. Segala sesuatu diciptakan dari Kristus dan untuk Kristus.
Yesus bukan ciptaan, Ia adalah Allah. Maut tidak berkuasa atasNya. Hanya ada Satu Allah saja.
Segala harta tidak bisa menyelamatkan. Hanya Darah Kristus yang membayar harga kita hingga lunas.
2. Yesus mengalahkan kegelapan dengan terang-Nya yang ajaib
Yohanes 1:4-9
Selama 400 tahun masa kegelapan. Dari jarak Maleakhi ke Matius putus segala nubuat para nabi berhenti Terang Kristus adalah hidup. Yohanes membuka jalan bagi Kristus di dunia.
Masa antara kitab Maleakhi dan Injil Matius sering disebut oleh para teolog dan sejarawan Alkitab sebagai masa “kesenyapan” atau “empat ratus tahun kegelapan”, bukan karena Allah berhenti berkarya, melainkan karena tidak ada lagi firman kenabian tertulis yang diakui sebagai Kitab Suci. Kitab Maleakhi, sekitar pertengahan abad ke-5 sebelum Masehi, menutup Perjanjian Lama dengan nada teguran dan pengharapan. Allah menegur Israel yang kembali jatuh ke dalam ibadah formal tanpa hati, ketidakadilan sosial, dan kenajisan moral, namun sekaligus menjanjikan kedatangan “utusan” yang akan mempersiapkan jalan bagi TUHAN. Setelah suara Maleakhi, Alkitab diam, tetapi sejarah dunia justru bergerak sangat cepat.
Secara rohani, umat Israel hidup dalam ketegangan. Mereka telah kembali dari pembuangan Babel, membangun kembali Bait Suci, namun realitas yang dihadapi jauh dari harapan mesianik. Mereka masih berada di bawah kekuasaan bangsa asing, ekonomi rapuh, dan iman mudah berubah menjadi rutinitas. Dalam ketiadaan nabi, kepemimpinan rohani bergeser dari kenabian ke para imam dan ahli Taurat. Taurat ditafsirkan, dijaga, dan dipagari dengan berbagai tradisi lisan agar tidak dilanggar lagi seperti pada masa sebelum pembuangan. Di sinilah benih-benih legalisme mulai tumbuh: ketaatan yang sangat teliti, tetapi sering kehilangan roh pertobatan dan belas kasihan.
Dari sisi sejarah dunia, kekuasaan Persia yang relatif toleran digantikan oleh gelombang besar penaklukan Aleksander Agung pada abad ke-4 sebelum Masehi. Dalam waktu singkat, wilayah Palestina masuk ke dalam dunia Helenistik. Bahasa Yunani menjadi bahasa umum, budaya Yunani menyusup ke kota-kota, pendidikan, dan cara berpikir. Taurat diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dalam Septuaginta, sebuah peristiwa penting yang kelak memungkinkan Injil dibaca luas di dunia non-Yahudi. Namun helenisasi juga membawa krisis iman, karena banyak orang Yahudi tergoda untuk meninggalkan identitas perjanjian demi budaya dominan.
Setelah kematian Aleksander, wilayah Palestina diperebutkan oleh dinasti Ptolemeus dari Mesir dan Seleukus dari Siria. Di bawah Antiochus IV Epiphanes pada abad ke-2 sebelum Masehi, penindasan mencapai puncaknya. Ibadah Yahudi dilarang, Taurat dibakar, dan Bait Suci dinajiskan. Peristiwa ini memicu pemberontakan Makabe, sebuah perjuangan religius sekaligus nasionalis. Kemenangan Makabe memulihkan ibadah Bait Suci dan melahirkan dinasti Hasmonea, tetapi ironisnya, kekuasaan yang lahir dari kesalehan lambat laun juga tercemar oleh ambisi politik dan konflik internal.
Dari pergolakan inilah muncul berbagai kelompok Yahudi yang dikenal pada zaman Injil. Kaum Farisi menekankan kesalehan hidup dan ketaatan Taurat dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Saduki, yang dekat dengan kekuasaan dan Bait Suci, cenderung konservatif dan politis. Kaum Eseni memilih menarik diri, mengejar kemurnian dan menantikan intervensi Allah. Di bawah semuanya itu, ada kerinduan yang sama: penantian akan Mesias, tetapi dengan gambaran yang berbeda-beda, sebagian politis, sebagian apokaliptik, sebagian rohani.
Ketika Romawi mengambil alih Palestina pada abad pertama sebelum Masehi, stabilitas politik dibayar mahal dengan penindasan dan pajak berat. Herodes Agung memerintah sebagai raja klien Romawi, membangun megah termasuk renovasi besar Bait Suci, tetapi juga dikenal kejam dan paranoid. Dalam konteks inilah Injil Matius dibuka, bukan dengan suasana terang, melainkan dengan dunia yang letih, terpecah, dan haus akan keselamatan sejati.
Secara teologis, masa “kegelapan” ini justru berfungsi sebagai panggung persiapan. Bahasa Yunani menyatukan dunia, jalan-jalan Romawi membuka akses, diaspora Yahudi menyebarkan pengenalan akan Allah Israel, dan kerinduan akan Mesias mencapai titik matang. Ketika Yohanes Pembaptis tampil sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, ia menggemakan tepat nubuat terakhir Maleakhi. Diamnya Allah selama empat abad bukanlah ketiadaan, melainkan keheningan sebelum Firman itu sendiri datang dan menjadi manusia.
Kristus membawa Terang yang menghancurkan Kegelapan itu:
1. Kebingungan berubah jadi arah yang jelas.
2. Kegelapan masa lalu berubah jadi masa depan yang cerah.
3. Ketakutan berubah menjadi pengharapan.
Segala keterikatan kita terhadap dosa, diputus dengan darah Yesus. Segala sisi gelap dalam hidup kita dibuka dengan terang-Nya.
Yohanes 8:12 (BIMK) Yesus berbicara lagi kepada orang banyak, kata-Nya, "Akulah terang dunia. Orang yang mengikuti Aku tak akan berjalan dalam kegelapan, tetapi mempunyai terang kehidupan."
Yohanes 3:19 (BIMK) Ia dituntut berdasarkan hal ini: Terang itu sudah datang ke dunia, tetapi manusia lebih menyukai gelap daripada terang, sebab perbuatan mereka jahat.
Ada berita kejahatan Pendeta: perselingkuhan, pedophilia, menyuap pejabat, dsb. Sedih sekali kita mendengar kabar itu. Namun, itulah sifat dasar manusia.
Yesus adalah terang yang tidak pernah padam.
Kamu adalah terang dunia.
3. Kristus adalah terang yang menyatakan Allah
Kalau kita berhasil, itu bukan untuk kita, namun semata mata untuk kemuliaan Allah. Jadilah terang dalam hidup kita.
Yesus Kristus telah datang ke dunia, mari di kayu salib untuk menjadi juru selamat. Melalui Kristus kita bisa melihat Allah.
Kamu adalah terang dunia
Matius 5:14
Amin.
Komentar
Posting Komentar