Yeremia 40 Part 1 tentang "Yeremia dibebaskan" Seri Nabi Besar by Febrian

30 November 2025

Image by Freepik.com 

Yeremia 40 Part 1 tentang "Yeremia dibebaskan" Seri Nabi Besar

Yeremia 40 <-- Klik di sini untuk membaca ayat

Yeremia 40:1-6  

Yeremia tinggal pada Gedalya

Firman yang datang dari pada TUHAN kepada Yeremia, sesudah ia dilepaskan dari Rama oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, yang telah menyuruh untuk mengambilnya terbelenggu pada tangannya di tengah-tengah semua orang buangan dari Yerusalem dan Yehuda yang hendak diangkut ke dalam pembuangan ke Babel. 

Kepala pasukan pengawal itu telah mengambil Yeremia dan berkata kepadanya: 

"TUHAN, Allahmu, telah mengancamkan malapetaka ini atas tempat ini, dan Ia telah melaksanakannya. TUHAN telah melakukan apa yang diancamkan-Nya, oleh karena kamu telah berdosa kepada TUHAN dan tidak mendengarkan suara-Nya, sehingga terjadilah hal ini kepada kamu. Maka sekarang, lihatlah aku melepaskan engkau hari ini dari belenggu yang ada pada tanganmu itu. Jika engkau suka untuk ikut pergi dengan aku ke Babel, marilah! Aku akan memperhatikan engkau. Tetapi jika engkau tidak suka untuk ikut pergi dengan aku ke Babel, janganlah pergi! Lihat, seluruh negeri ini terbuka untuk engkau: engkau boleh pergi ke mana saja engkau pandang baik dan benar. 

Engkau boleh kembali kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan yang telah diangkat oleh raja Babel atas kota-kota Yehuda, dan tinggallah bersama-sama dia di tengah-tengah rakyat, atau ke mana saja engkau pandang benar, pergilah ke situ!" Lalu kepala pasukan pengawal itu memberikan kepadanya bekal makanan dan suatu hadiah, kemudian melepas dia pergi. 40:6 Jadi pergilah Yeremia kepada Gedalya bin Ahikam di Mizpa, dan diam bersama-sama dengan dia di tengah-tengah rakyat yang masih tinggal di negeri itu. 

Yeremia—yang selama puluhan tahun ditolak, dipenjara, dibuang ke sumur, dan dianggap pengkhianat—akhirnya dibebaskan oleh pasukan Babel setelah Yerusalem jatuh. Sesuai dengan perintah Allah, pembebasan tersebut diiringi pengakuan rohani dari perwira yang diutus raja Nebukadnezar yaitu Nebuzaradan. Ia mengatakan bahwa kehancuran Yehuda terjadi persis seperti yang difirmankan TUHAN melalui Yeremia. Dengan kata lain, bangsa yang tidak mengenal TUHAN justru mengakui kebenaran firman yang selama ini ditolak umat pilihan. Pada titik ini tampak ironi pahit, namun sekaligus sinar kecil yang menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat dipadamkan meskipun manusia menolaknya.

Nebuzaradan memberikan Yeremia pilihan untuk ikut dengannya ke Babel, atau memilih untuk mengambil kebebasannya penuh untuk menentukan masa depannya, yaitu tinggal bersama Gedalia bin Ahikam bin Safan yang telah diangkat oleh raja Babel atas kota-kota Yehuda, atau mau pergi ke mana pun yang ia kehendaki. 

Yeremia memilih Jadi pergilah Yeremia kepada Gedalya bin Ahikam di Mizpa, dan diam bersama-sama dengan dia di tengah-tengah rakyat yang masih tinggal di negeri itu, bukan demi keamanan, tetapi demi kesetiaan pada panggilan ilahi. Ia tetap bersama umat yang terluka, bukan melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Pilihan itu menunjukkan bahwa pelayanan sejati bukanlah mencari kenyamanan, tetapi kesediaan hadir di tengah puing-puing kehidupan orang lain. Keputusan Yeremia bukan keputusan politik, tetapi keputusan hati yang telah dibentuk kesetiaan panjang terhadap Allah.

Renungan bagi kita, yaitu sering kali setelah badai hidup mereda, Tuhan memberi ruang tenang tempat kita bisa memilih arah, dan pilihan itu justru menjadi ujian ke mana hati kita condong. Yeremia tidak memilih yang mudah, tetapi memilih tetap hadir bagi umat yang lemah. Kadang Tuhan membawa seseorang melalui masalah berat bukan untuk menjatuhkannya, tetapi untuk membentuk karakter yang kemudian menjadi penopang dan penghibur bagi banyak orang. Dalam keteduhan setelah badai, arah kecil yang dipilih dengan setia dapat menjadi jalan panjang menuju pemulihan yang Tuhan siapkan.

Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.

Mazmur 97:10

Amin.

Komentar