Yeremia 39 tentang "Allah menggenapi firman-Nya" Seri Nabi Besar by Febrian
29 November 2025
Image by Freepik.com
Yeremia 39 tentang "Allah menggenapi firman-Nya" Seri Nabi Besar by Febrian
Yeremia 39 [NET]<-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Dari ayat bacaan di atas, dapat kita saksikan beberapa hal penting yang dapat kita jadikan pelajaran:
1. Firman Allah pasti digenapi
Pada akhirnya Tuhan tidak memperpanjang lagi "Grace Period" kepada raja Zedekia yang tetap tidak mau percaya kepada firman Tuhan melalui nabi Yeremia (lihat Yeremia 38). Raja Zedekia dipaksa menyaksikan anaknya dibunuh di depan matanya, beserta seluruh orang-orang terhormat di kerajaannya, hingga akhirnya kedua bola matanya dicungkil, tangannya dirantai dan ia dituntun menuju kerajaan Babel. Hal yang lebih menyedihkan adalah seluruh kota Yerusalem dihancurkan, termasuk Istana dan perumahan penduduk.
2. Belas Kasihan Allah di tengah Ketegasan-Nya
Jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh Yeremia 39:10, ada hal yang unik, Sang Panglima Pengawal Raja, Nebuzaradan, membiarkan orang-orang miskin yang tidak punya apa-apa, tidak diangkut dan tidak dibunuh, melainkan diberikannyalah kebun-kebun anggur dan ladang-ladang kepada mereka. Orang-orang miskin itu mungkin telah berhari-hari tidak makan dan jika diangkut ke Babel, pasti mati di tengah jalan. Jadi Nebuzaradan memperhatikan hal itu, bahkan diberi kebun anggur dan ladang. Artinya mereka akan bisa bertahan hidup dengan itu semua.
Hal ini terlihat kecil dan mungkin hampir luput dari perhatian para pembaca, namun sesungguhnya menunjukkan bahwa sesungguhnya, para "penjahat" itu sedang menjalankan misi dari Allah. Ingatlah firman Tuhan Yesus dalam Matius 14:13-14. Itulah hati TUHAN, Allah kita, Ia mengasihi orang yang lemah dan tak berdaya.
Bukti bahwa bangsa Babel adalah utusan Allah dapat terlihat, pada waktu Nebuzaradan menunjukkan kekejamannya menumpas Bangsa Israel yang membangkang kepada Allah, namun menunjukkan sisi lainnya yaitu berbelas kasihan terhadap orang yang lemah. Jadi sesungguhnya Allah sanggup memakai siapapun yang dikehendaki-Nya dalam rangka menjalankan segala kehendak-Nya, dengan tidak melupakan Kasih-Nya yang tidak pernah berakhir.
3. Yeremia diselamatkan Allah
Selanjutnya dalam Yeremia 39:11-14 Allah mengutus raja Nebukadnezar memerintahkan orang-orang kepercayaannya yaitu Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, untuk menjemput Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.
Siapa Gedaliah bin Ahikam bin Safan yang ditugaskan Allah menjaga Yeremia? Ia adalah seorang bangsawan Yehuda yang berasal dari keluarga yang sangat dekat dengan para nabi dan reformasi rohani. Ayahnya, Ahikam, adalah tokoh yang pernah menyelamatkan Yeremia dari hukuman mati pada masa Yoyakim (Yeremia 26:24). Kakeknya, Safan, adalah pejabat istana yang terkenal karena membaca kitab Taurat yang ditemukan kembali pada masa Raja Yosia, yang kemudian memicu reformasi besar (2 Raja-raja 22).
Ketika Yerusalem runtuh, Nebukadnezar membutuhkan seseorang yang dipercaya, tidak memberontak, dan tidak punya kepentingan politik pribadi untuk memimpin sisa-sisa rakyat Yehuda. Gedaliah dipilih karena ia dikenal moderat, anti pemberontakan, dekat dengan para nabi Tuhan (terutama Yeremia), dan secara moral dapat dipercaya. Maka ia ditempatkan di Mizpa sebagai gubernur sipil yang bertanggung jawab atas rakyat kecil yang tersisa.
Catatan dari para teolog terkenal:
John Calvin (1509–1564), seorang teolog Reformasi, dalam “Commentaries on the Book of the Prophet Jeremiah and the Lamentations” (published 1563), menilai pengangkatan Gedaliah sebagai tindakan bijaksana Babel sekaligus pemeliharaan Allah agar Yehuda tidak lenyap total. Calvin mencatat bahwa Gedaliah adalah “a man of singular moderation” yang berdiri sejalan dengan nubuat Yeremia.
Konrad Schmid, Ph.D., profesor Perjanjian Lama Universitas Zürich, dalam karyanya “A Historical Theology of the Hebrew Bible” (2019), menggarisbawahi bahwa penunjukan Gedaliah mencerminkan strategi administratif Babel yang sering menjaga struktur sosial lokal dengan menunjuk pemimpin yang tidak radikal. Schmid menegaskan bahwa keberadaan keluarga Safan dalam posisi strategis memperlihatkan bahwa kelompok ini sangat dekat dengan gerakan kenabian.
Christopher Wright, Ph.D., dalam bukunya “The Message of Jeremiah” (1995), menulis bahwa Gedaliah berfungsi sebagai perpanjangan dari pesan Yeremia: tunduklah pada kehendak Tuhan melalui disiplin Babel, maka kehidupan akan tetap bersemi. Wright memverifikasi bahwa secara historis hubungan Gedalia–Yeremia adalah hubungan kerja rohani yang nyata.
Gedalia sebagai simbol kasih Kristus
Dalam perspektif keseluruhan Alkitab, Gedalia menjadi gambaran kecil dari bagaimana Tuhan tetap menyediakan “sisa” (remnant) bagi diri-Nya. Peran Gedaliah melestarikan kehidupan, membangun kembali ketertiban, dan menyediakan ruang pemulihan setelah hukuman. Dalam teologi Perjanjian Baru, pola ini menemukan puncaknya dalam Kristus—satu Pribadi yang memimpin bukan dengan kekuasaan brutal, tetapi dengan kelembutan yang membangun kembali umat Allah.
Gedalia juga menjadi cerminan bahwa Tuhan memakai pemimpin yang tidak menonjol, tidak karismatik secara politik, tetapi berakar dalam kesetiaan moral. Ini pola yang sama terlihat dalam kelahiran Yesus—sangat jauh dari pusat kuasa politik, namun menjadi pusat karya pemulihan Allah.
Figur Gedaliah mengingatkan bahwa dalam masa krisis, Tuhan sering memakai orang-orang yang tidak mencari sorotan, tetapi memiliki hati yang lurus. Ketika Bapak memasuki masa menjelang pensiun dan sedang menata kembali arah hidup, sosok ini seperti mengingatkan: Tuhan sering bekerja melalui pribadi yang tidak mengejar jabatan atau pengaruh, tetapi mengejar kesetiaan. Bahkan di tengah kejatuhan total seperti pada Yehuda, Tuhan menaruh pemimpin yang meneduhkan, bukan mengobarkan kekacauan.
Gedaliah berdiri di tempat yang sunyi namun menentukan. Ruang-ruang seperti itulah yang sering menjadi tempat Tuhan membentuk orang untuk fase hidup berikutnya.
4. Allah tidak melupakan orang yang beriman kepada-Nya
Jika kita baca bagian terakhir dari Yeremia 39 yaitu:
Yeremia 39:15-18
Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan
Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya:
"Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel:
Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga.
Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN."
Allah menyuruh Nabi Yeremia untuk mengatakan kepada Ebed-Melekh suatu firman yang meneguhkan dirinya untuk menerima janji keselamatan yang dijanjikan-Nya. Hal ini adalah buah dari imannya kepada Allah, mari kita coba ingat lagi perbuatan Ebed-Melekh yang diingat oleh-Nya:
Ebed-Melekh menyelamatkan Yeremia
Ebed-Melekh muncul dalam Yeremia 38 sebagai seorang kasim Etiopia (Cushite) yang bekerja di istana Raja Zedekia. Dalam situasi yang gelap ketika para pemuka Yehuda menjebloskan Yeremia ke dalam perigi lumpur, justru sosok asing—bahkan dianggap rendah dalam struktur sosial—yang menunjukkan keberanian moral. Ia melangkah menghadap raja, menyatakan bahwa tindakan para pemuka itu jahat, lalu memimpin penyelamatan Yeremia dengan tali dan kain lap agar nabi itu tidak terluka.
Dalam Yeremia 39:15–18, Tuhan memberikan janji pribadi kepadanya: ia akan diluputkan dari perang, tidak mati oleh pedang, dan nyawanya menjadi “jarahan” baginya. Istilah “jarahan” di sini merupakan cara Perjanjian Lama menggambarkan keselamatan yang datang dari Tuhan, bukan dari kemampuan manusia. Janji ini diberikan bukan karena jabatan, tetapi karena imannya—“sebab engkau percaya kepada-Ku.”
John Calvin dalam “Commentaries on the Book of the Prophet Jeremiah” (1563) menekankan bahwa Ebed-Melekh menjadi contoh sarana Allah untuk menegur bangsa-Nya sendiri. Calvin mencatat bahwa keberanian Ebed-Melekh menunjukkan bahwa iman yang sejati tak tergantung garis keturunan Israel, tetapi hati yang takut akan Tuhan.
Walter Brueggemann, Ph.D., dalam “A Commentary on Jeremiah: Exile and Homecoming” (1998), menekankan bahwa tokoh ini menjadi gambaran “outsider with true faith”—orang luar yang justru memahami kehendak Tuhan lebih baik daripada pemimpin Yehuda sendiri. Brueggemann menegaskan bahwa penyelamatan Ebed-Melekh merupakan konfirmasi historis bahwa Allah tidak pernah terikat oleh batas politik atau etnis.
J. A. Thompson, Ph.D., dalam “The Book of Jeremiah” (NICOT, 1980), menuliskan bahwa Ebed-Melekh adalah salah satu figur paling murni dalam kitab Yeremia, sebab tindakannya sepenuhnya berakar pada moralitas, bukan kepentingan pribadi. Thompson memverifikasi bahwa keberanian Ebed-Melekh di istana adalah tindakan berisiko tinggi secara politik, sehingga janji keselamatan dari Tuhan itu benar-benar proporsional dengan bahaya yang ia hadapi.
Ebed-Melekh sebagai “orang luar” yang beriman menjadi pola yang akhirnya disempurnakan dalam Injil. Dalam kehidupan Kristus, pola ini muncul berulang: perwira Romawi yang memiliki iman besar, perempuan Samaria yang menerima wahyu identitas Mesias, dan banyak orang non-Yehuda yang menjadi teladan iman. Melalui Kristus, gambaran Ebed-Melekh menjadi semakin jelas—bahwa keselamatan tidak ditentukan garis keturunan atau status sosial, tetapi oleh kepercayaan yang bersandar pada Allah.
Janji Tuhan kepada Ebed-Melekh—bahwa “nyawamu menjadi jarahan bagimu”—mencerminkan keselamatan pribadi yang bersumber dari anugerah. Dalam Kristus, keselamatan itu mengalami penggenapan penuh: bukan sekadar luput dari perang, tetapi diselamatkan dari kuasa dosa dan maut.
Dari seluruh Yeremia 39 ini, kita dapat mengetahui betapa Allah sangat memegang teguh janji-Nya dan dengan tegas akan melaksanakan hal itu. Namun, di sisi lain Allah tidak pernah meninggalkan belas kasihan-Nya kepada orang-orang yang berjasa dan telah menunjukkan iman mereka kepada-Nya.
Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau,dan engkau akan
mengetahui bahwa Akulah TUHAN
Yehezkiel 16:62
Amin.

Komentar
Posting Komentar