Yesaya 38 tentang "Peringatan Allah bagi manusia" Seri Nabi Besar by Febrian

10 Agustus 2025

Image by Freepik.com

Yesaya 38 tentang "Peringatan Allah bagi manusia" Seri Nabi Besar

Yesaya 38:1-21 

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. 

Nabi Yesaya bin Amos datang dan berkata kepadanya, 

“Beginilah firman TUHAN: 

tinggalkanlah pesan kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” 

Hizkia pun memalingkan mukanya ke arah dinding dan berdoa kepada TUHAN, ia berkata, 

“Ya TUHAN, ingatlah kiranya bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan tulus hati; aku selalu melakukan apa yang baik di mata-Mu.” 

Lalu Hizkia menangis dengan pilu. 

Datanglah firman TUHAN kepada Yesaya, 

“Pergi-lah dan katakanlah kepada Hizkia: 

Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: 

Telah Kudengar doamu dan Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang umurmu lima belas tahun lagi. Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini. 

Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: 

Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur sepuluh langkah ke belakang dari jarak yang telah dijalaninya.” 

Pada penunjuk matahari itu sinar matahari pun mundur ke belakang sepuluh langkah dari jarak yang telah dijalaninya.

Syair Hizkia, raja Yehuda, sesudah ia sakit dan sembuh dari penyakitnya:

Aku berkata: 

Pada pertengahan umurku aku harus pergi, aku harus pergi ke pintu gerbang dunia orang mati aku ditentukan untuk sisa hidupku. Aku berkata: 

Aku tidak akan melihat TUHAN lagi di negeri orang-orang hidup; aku tidak akan melihat lagi sesama manusia di antara penduduk dunia. Pondok kediamanku dibongkar dan disingkirkan seperti kemah gembala; hidupku digulung seperti kain tenun digulung penenun, dipotong-Nya seperti sisa benang tenunan. Siang malam Engkau menelantarkan aku, aku berteriak minta tolong sampai pagi, seperti singa demikianlah TUHAN menghancurkan semua tulangku; siang malam Engkau menelantarkan aku. Seperti burung layang-layang demikianlah aku menciap-ciap, suaraku redup seperti suara merpati. 

Mataku lelah menengadah ke atas, ya Tuhan, pemerasan menekan aku; jadilah Penjamin bagiku! Apakah yang dapat kukatakan dan kuucapkan kepada TUHAN? Bukankah Dia yang telah melakukannya? Aku sama sekali tidak dapat tidur karena pahitnya hidupku. Ya Tuhan, karena inilah hatiku! mengharapkan Engkau, tenangkanlah jiwaku, pulihkanlah kesehatanku, biarlah aku tetap hidup! Sesungguhnya, pahit getir yang kurami telah menjadi keselamatan bagiku. Engkau sungguh menghendaki jiwaku lepas dari lubang kebinasaan. 

Sungguh, Engkau telah membuang segala dosaku dari hadapan-Mu. Sebab dunia orang mati tidak dapat bersyukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menantikan kesetiaan-Mu. Akan tetapi, orang yang hidup, ya hanya orang hiduplah yang dapat bersyukur kepada-Mu, seperti aku pada hari ini; kesetiaan-Mu diberitahukan bapak kepada anak-anaknya.

TUHAN berkenan menyelamatkan aku! Marilah kita memetik kecapi, seumur hidup kita di Rumah TUHAN.

Kemudian berkatalah Yesaya, 

“Baiklah diambil sepotong kue ara dan digosokkan pada bisul itu supaya sembuh!” 

Sebelumnya Hizkia telah berkata, 

“Apakah yang akan menjadi tanda bahwa aku akan pergi ke Rumah TUHAN?”

Mari kita perhatikan ayat paralel: 

2 Tawarikh 32:24-33

Tahun-tahun terakhir pemerintahan Hizkia

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada TUHAN, dan TUHAN berfirman kepadanya serta memberinya suatu tanda ajaib. 

Namun, Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya karena ia menjadi tinggi hati. 

Ia dan Yehuda serta Yerusalem pun ditimpa murka. 

Kemudian Hizkia sadar akan keangkuhan hatinya itu dan merendahkan diri bersama penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. 

Hizkia memperoleh kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat tempat-tempat perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal, rempah-rempah, perisai-perisai, dan segala benda yang indah-indah, juga tempat perbekalan untuk hasil gandum, anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai jenis ternak dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. Ia mendirikan kota-kota, memperoleh banyak kambing domba dan lembu, karena Allah mengaruniakan dia harta milik yang amat besar jumlahnya. Hizkialah yang membendung aliran mata air Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala upayanya. 

Demikian juga halnya ketika para utusan raja-raja Babel datang kepadanya untuk menanyakan tanda ajaib yang telah terjadi di negeri. Tetapi, Allah meninggalkan Hizkia untuk mengujinya, supaya segala isi hatinya diketahui.

Selebihnya dari riwayat Hizkia dan perbuatan-perbuatannya yang setia, sesungguhnya semuanya itu tertulis melalui penglihatan Nabi Yesaya bin Amos, dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel. 

Hizkia mendapat perhentian bersama nenek moyangnya. Ia dikuburkan di pendakian ke pekuburan anak-anak Daud. Pada waktu kematiannya seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem memberi penghormatan kepadanya. 

Lalu Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.

Mari kita lihat sejenak apa maksud Allah dengan pengalaman hidup raja Hizkia:

1. Kedatangan Utusan Babel: 

Peristiwa ini adalah pemicu utama. Tiga ayat Alkitab yang mencatatnya adalah: 

  • 2 Tawarikh 32:31 ("...ketika para utusan raja-raja Babel datang kepadanya...") 
  • 2 Raja-raja 20:12 ("...Raja Merodakh-Baladan bin Baladan, raja Babel, menyuruh utusan...") 
  • Yesaya 39:1 ("...Merodakh-Baladan, anak Baladan, raja Babel, menyuruh utusan-utusan...") 
2. Ujian dari Tuhan: 

Ayat-ayat dalam 2 Tawarikh, secara langsung mengungkapkan bahwa ini adalah ujian dari Tuhan, sementara ayat paralel lainnya menunjukkan respons Hizkia terhadap ujian tersebut. 

  • 2 Tawarikh 32:31 menjelaskan motivasi Tuhan: "...Allah meninggalkan Hizkia untuk mengujinya..." 
  • 2 Raja-raja 20:13 dan Yesaya 39:2 mencatat respons Hizkia yang sombong, yaitu ia menunjukkan seluruh kekayaan dan gudang senjatanya kepada para utusan. 
Ini adalah tindakan yang diakibatkan oleh ujian tersebut. 

3. Tujuan Ujian: 

Tujuan ini secara tersirat hanya disebutkan dalam 2 Tawarikh, tetapi kita melihat hasilnya dalam dua kitab lainnya. 

  • 2 Tawarikh 32:31 menyatakan tujuannya: "...supaya segala isi hatinya diketahui." 
  • 2 Raja-raja 20:14-19 dan Yesaya 39:3-8 mencatat hasilnya: Nabi Yesaya datang dan mengkritik Hizkia atas kesombongannya, lalu menubuatkan bahwa semua kekayaan itu akan diangkut ke Babel di masa depan.

Jadi secara tidak disadarinya, Allah sudah berada di masa depan raja Hizkia. Allah melihat ada bahaya yang bakalan terjadi di masa depan raja Hizkia dan Ia memberitahukannya dengan memberi penyakit yang membuatnya hampir mati. Hizkia menangis dan berdoa, kemudian Allah mengabulkannya: umurnya diperpanjang 15 tahun. Akan tetapi, Hizkia dengan pengalaman itu, bukannya sadar, bahwa seluruh hidupnya adalah anugerah dan belas kasihan Allah, namun malahan ia memamerkan semuanya seperti itu hasil kerja kerasnya sendiri. Di situlah ia tidak berkenan kepada Allah. Namun, hingga akhir hidupnya, Hizkia tetap berkenan kepada Allah dan diberi kekayaan berlimpah ruah, karena ia akhirnya sadar dan bertobat.

Pelajaran berharga yang bisa kita ambil hari ini, adalah bahwa Allah juga sudah berada di masa depan kita. Kapan masa depan itu? 10 tahun lagi? 1 tahun lagi? Atau beberapa saat ke depan? Semuanya itu Allah ada di situ. Bagaimana bisa? Allah berada di luar dimensi ruang dan waktu. Kita ibarat ikan yang berada dalam akuarium, seseorang yang di luar akuarium itu bebas bergerak ke mana pun juga. Akuarium kehidupan kita adalah tubuh daging kita, waktu kita, bumi dan alam semesta ini, semuanya itu ada dalam pengawasan Allah Yang Maha Kuasa. Allah mengetahui bahaya apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Bahaya yang terjadi itu bukan hanya mengancam fisik, tetapi juga mengancam kepercayaan Allah terhadap kita, karena dosa.

Mari, kita sadari bahwa peringatan Allah bisa terjadi dengan bentuk apapun dalam kehidupan kita. Jangan jadi orang yang tidak sensitif atau tidak peduli. Jadilah orang yang memiliki hati lemah lembut, sehingga kita bisa melihat pelajaran apa saja yang Allah berikan bagi kita setiap saat.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Roma 8:28

Amin.

   

Komentar