Legacy of Christ: Restoring Joy Ps. Samuel

14 Desember 2025

Dok. Pribadi

Legacy of Christ - Redefining Joy

Ps. Samuel IFGF Jakarta

Lukas 1:46-51

Nyanyian pujian Maria

Lalu kata Maria: 

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Maria yang bersama Elizabeth saudaranya, didatangi malaikat Gabriel dengan berita Allah akan turun sebagai manusia dan lahir di dunia melalui kandungannya. Berita ini sungguh mengejutkan dan beritanya sangat membingungkan. Maria belum menikah tapi akan melahirkan bayi. Namun, setelah mendengar berita itu, ia tidak menolak namun bertanya, bagaimana itu bisa terjafi.

Maria terkejut, bingung, takut dan Malaikat Gabriel menghiburnya. Bagi Allah tidak ada yang mestahil, hingga akhirnya Maria tersadar, bahwa hidupnya sedang masuk dalam programnya Tuhan. 

Jawaban Maria di atas, menunjukkan level iman darinya. Apa yang diucapkannya menunjukan betapa Allah tidak salah memilih Maria sebagai saluran kelahiran Tuhan Yesus. Maria adalah seorang gadis murni kudus yang merelakan hidupnya mengandung bayi dari Roh Kudus. Namun, di balik itu, ada suatu ancaman kejadian yang bisa menimpa nya. 

Dalam hukum Taurat Ibrani pada zaman Injil Lukas, kehamilan seorang gadis yang belum bersuami dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap kesucian moral dan perjanjian keluarga, terutama jika gadis itu sudah berada dalam status pertunangan. Dalam budaya Yahudi abad pertama, pertunangan atau erusin sudah mengikat secara hukum, sehingga pelanggaran kesetiaan pada tahap ini diperlakukan hampir setara dengan perzinahan.

Ancaman hukum yang paling berat tercatat dalam Ulangan 22:23–24. Di sana disebutkan bahwa apabila seorang gadis perawan yang telah bertunangan kedapatan bersetubuh dengan laki-laki lain di dalam kota, maka keduanya harus dibawa ke pintu gerbang kota dan dirajam sampai mati. Alasannya adalah karena gadis itu dianggap tidak berteriak meminta pertolongan dan laki-laki itu dianggap mencemari istri sesamanya. Hukuman rajam menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam tatanan hukum dan sosial Israel kuno.

Masih dalam pasal yang sama, Ulangan 22:13–21 menjelaskan konsekuensi jika seorang suami menuduh istrinya tidak perawan pada saat pernikahan, dan tuduhan itu terbukti benar. Jika orang tua perempuan itu tidak dapat menunjukkan bukti keperawanannya, maka perempuan itu harus dibawa ke pintu rumah ayahnya dan dirajam sampai mati oleh orang-orang sekotanya, karena ia dianggap melakukan perbuatan bejat di antara orang Israel. Ayat ini menunjukkan bahwa kehamilan sebelum menikah, atau ketidakperawanan yang terbukti, memiliki implikasi hukum yang sangat berat.

Untuk konteks gadis yang belum bertunangan, Ulangan 22:28–29 menyebutkan bahwa jika seorang laki-laki tidur dengan seorang gadis perawan yang tidak bertunangan, maka laki-laki itu wajib membayar denda kepada ayah gadis tersebut dan harus menikahinya tanpa hak menceraikannya seumur hidup. Meskipun tidak berujung hukuman mati, peristiwa ini tetap dianggap pelanggaran serius yang merusak kehormatan keluarga.

Dengan latar belakang hukum inilah, kehamilan Maria yang diceritakan dalam Lukas 1:26–38 menjadi sangat dramatis dan berisiko. Secara hukum dan sosial, Maria berada dalam posisi yang berpotensi menghadapi aib publik, perceraian sepihak, bahkan ancaman hukuman mati, karena ia telah bertunangan dengan Yusuf namun mengandung sebelum hidup sebagai suami istri. Narasi Injil Lukas secara implisit mengandaikan ketegangan hukum ini, sehingga pernyataan bahwa kehamilan itu berasal dari Roh Kudus bukan hanya pernyataan iman, tetapi juga penegasan bahwa Maria tidak bersalah menurut hukum Allah.

Maria merelakan kehidupan masa mudanya untuk menanggung risiko besar. Namun sukacita yang ada di dalam hatinya muncul bukan dari dirinya, tapi dari Roh Kudus. 

Maria bersukacita:

  1. Karena Tuhan memilih kita jadi anak-Nya. 
  2. Karena perbuatan-perbuatan Tuhan. 
  3. Karena bersandar pada kesetiaan-Nya
  4. Karena melihat kesetiaan Allah dalam hidup kita.
Sukacita jangan sampai muncul pada saat punya uang, dipromosikan dalam pekerjaan, dsb. 

Harapan seringkali pupus karena yang kita alami berbeda. Hendaknya itu tidak menyebabkan kita kehilangan sukacita kita. 

Percayalah ada kebaikan lain yang Allah kerjakan dalam kehidupan kita. Jangan hanya fokus pada apa uang kita harapkan, melainkan pada Allah.

Amin.

Komentar