Yeremia 26 tentang "Respons pada waktu mendengar firman Tuhan" Seri Nabi Besar by Febrian

10 November 2025

Image by Freepik.com

Yeremia 26 tentang "Respons pada waktu mendengar firman Tuhan" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai respons para tua-tua Israel, sewaktu mendengar teguran Tuhan yang akan menghukumnya. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Yeremia 26

Yeremia mau dibunuh, karena menubuatkan kemusnahan Bait Suci Nabi Uria dihukum mati 

Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: 

Beginilah firman TUHAN: 

"Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat. 

Jadi katakanlah kepada mereka: 

Beginilah firman TUHAN: 


Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, 
--tetapi kamu tidak mau mendengarkan--
maka 
Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi.

Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. 

Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati! 

Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: 

Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" 

Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. Ketika para pemuka Yehuda mendengar tentang hal ini, pergilah mereka dari istana raja ke rumah TUHAN, lalu duduk di pintu gerbang baru di rumah TUHAN. 

Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri." 

Penjelasan Nabi Yeremia:

Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 

Di bawah ancaman hukuman mati, nabi Yeremia tidak menjadi takut dan menarik perkataannya. Justru sebaliknya ia mencegah agar mereka yang akan membunuhnya, sama dengan membunuh orang yang tidak bersalah, karena ia betul-betul diutus Allah untuk menyatakan segala teguran itu bagi mereka:

Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 

Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, 

bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." 

Dalam kejadian tersebut di atas, berikut ini kita lihat, bahwa ada dua jenis reaksi atau respons dari pemuka dan seluruh rakyat yang mendengar firman yang disampaikan Nabi Yeremia tersebut:

Respons Jenis 1 - Sadar diri

Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: 

"Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita.

Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya: 

"Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat di zaman Hizkia, raja Yehuda. Dia telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda: 

Beginilah firman TUHAN semesta alam: 

Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan. 

Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?"

Jadi perhatikan bagaimana para tua-tua pada awalnya berikhtiar membunuh Nabi Yeremia, namun kemudian setelah mendengarkan pembelaan diri Nabi Yeremia, mereka menyadari diri mereka mungkin keliru, jadi mereka mengurungkan niat mereka untuk membunuhnya.

Dalam kehidupan kita, seringkali kita diperhadapkan pada teguran Allah akan dosa dan kejahatan yang kita lakukan tanpa kita sadari. Jadilah orang yang memiliki hati "lemah lembut" sehingga mudah bagi Allah untuk meletakkan firman Tuhan dalam hati kita.

Perhatikanlah kisah berikut ini, di mana Allah sendiri menyatakan tentang  seseorang yang hatinya lemah lembut, yaitu Musa:

Bilangan 12:1-8

Pemberontakan Miryam dan Harun

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. 

Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. 

Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: 

"Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.Maka keluarlah mereka bertiga. 

Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. 

Lalu berfirmanlah Ia: 

"Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"

Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Jadi sekarang, perhatikanlah bagaimana sikap hati kita dalam menerima firman yang datang kepada kita, apakah tegar tengkuk, keras hati, keras kepala, tidak mau diberitahu, mau benar sendiri, sok tahu, dsb., atau mau belajar menjadi orang yang rendah hati dan mau dengar-dengaran akan segala Firman yang diucapkan Allah?  

Yakobus 1:21

Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Demikianlah sikap hati (respons) kita dalam menerima firman Tuhan, agar pesan yang disampaikan Allah tidak hilang atau sia-sia, melainkan bekerja memperbaiki seluruh kehidupan kita.

Respons Jenis 2 - Menolak firman TUHAN

Ada juga seorang lain yang bernubuat demi nama TUHAN, yaitu Uria bin Semaya, dari Kiryat-Yearim. Dia bernubuat tentang kota dan negeri ini tepat seperti yang dikatakan Yeremia. 

Ketika raja Yoyakim, bersama-sama dengan segenap perwiranya dan semua pemuka, mendengar perkataan orang itu, maka rajapun mencari ikhtiar untuk membunuhnya. Mendengar hal itu maka takutlah Uria, lalu melarikan diri dan tiba di Mesir. Kemudian raja Yoyakim menyuruh orang ke Mesir, yaitu Elnatan bin Akhbor beserta beberapa orang. Mereka mengambil Uria dari Mesir dan membawanya kepada raja Yoyakim. Raja menyuruh membunuh dia dengan pedang dan melemparkan mayatnya ke kuburan rakyat biasa. 

Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh. 

Raja Yoyakim, anak Yosia, memerintah di Yehuda selama 11 tahun (609–598 SM). Masa pemerintahannya menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah Yehuda karena penolakannya terhadap firman TUHAN, penindasannya terhadap rakyat, serta akhir hidupnya yang mengenaskan.

Alkitab menyebutkan secara tegas bahwa Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. 2 Raja-raja 23:36–37 mencatat: “Yoyakim berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan sebelas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, seperti yang dilakukan nenek moyangnya.” Tindakan jahatnya meliputi kesombongan, kekerasan terhadap nabi TUHAN, dan pemberontakan terhadap kekuasaan yang telah ditetapkan Allah.

Kejahatan utamanya terlihat jelas dalam kisah Yeremia 36. Nabi Yeremia, melalui juru tulisnya Barukh, menulis firman TUHAN pada sebuah gulungan kitab dan membacakannya di istana. Ketika isi gulungan itu sampai kepada Raja Yoyakim, ia bereaksi dengan penghinaan luar biasa. Dikatakan dalam Yeremia 36:23, “Setiap kali Yehudi selesai membaca tiga empat lajur, raja memotongnya dengan pisau penulis dan membuangnya ke dalam api perapian, sampai habislah seluruh gulungan itu terbakar dalam api perapian.” Pembakaran firman Allah ini merupakan simbol penolakan total terhadap otoritas TUHAN. Akibatnya, TUHAN berfirman dalam Yeremia 36:30, “Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim, raja Yehuda: Ia tidak akan mempunyai keturunan yang duduk di atas takhta Daud; mayatnya akan dibuang, sehingga panas kena pada siang hari dan beku kena pada malam hari.” Nubuat ini menandakan kehinaan akhir hidupnya—tanpa penguburan yang layak, tubuhnya terbuang di tanah terbuka.

Selain penghinaan terhadap firman TUHAN, Yoyakim juga dikenal karena penindasannya terhadap rakyat. Dalam Yeremia 22:13–14 TUHAN berfirman: “Celakalah orang yang mendirikan istananya dengan kelaliman, dan bilik-bilik atasnya dengan ketidakadilan, yang memeras sesamanya tanpa membayar upahnya, dan tidak memberikan kepadanya upah jerih payahnya; yang berkata: Aku akan mendirikan rumah besar bagiku dan bilik-bilik atas yang luas bagiku.” Ayat ini menunjukkan keserakahan dan ketidakadilan sosial yang ia lakukan terhadap rakyat Yehuda. Dalam Yeremia 22:17 ditegaskan, “Tetapi matamu dan hatimu hanya tertuju kepada niatmu yang serakah dan kepada penumpahan darah orang yang tidak bersalah serta kepada pemerasan dan kelaliman.”

Hukuman TUHAN terhadap Yoyakim mulai dinyatakan melalui invasi Babel. Dalam 2 Raja-raja 24:1–2 disebutkan: “Pada zamannya Nebukadnezar, raja Babel, maju. Yoyakim menjadi hambanya selama tiga tahun, kemudian ia memberontak terhadap dia. Maka TUHAN menyuruh maju melawan dia pasukan-pasukan Kasdim, Aram, Moab, dan Amon. Ia mengutus mereka melawan Yehuda untuk memusnahkannya, sesuai dengan firman yang diucapkan TUHAN dengan perantaraan para nabi-Nya.” Ini menunjukkan bahwa penderitaan bangsa Yehuda merupakan akibat langsung dari dosa dan pemberontakan raja mereka.

Mengenai akhir hidup Yoyakim, catatan Alkitab menunjukkan bahwa kematiannya berlangsung tragis dan penuh kehinaan. Yeremia 22:18–19 mencatat nubuat berikut: “Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda: Mereka tidak akan meratapi dia, katanya: ‘Aduh saudaraku!’ atau: ‘Aduh saudariku!’ Mereka tidak akan meratapi dia, katanya: ‘Aduh tuanku!’ atau: ‘Aduh kemuliaannya!’ Ia akan dikubur dengan penguburan keledai, diseret dan dibuang keluar dari pintu gerbang Yerusalem.” Kalimat “penguburan keledai” menggambarkan kematian yang hina tanpa penghormatan, tubuh yang dibiarkan tergeletak tanpa dikebumikan dengan layak—sebuah bentuk penghukuman moral yang sangat berat bagi raja Israel kuno.

2 Tawarikh 36:6–7 menambahkan konteks politiknya: “Nebukadnezar, raja Babel, maju melawan dia dan mengikatnya dengan rantai tembaga untuk dibawanya ke Babel. Nebukadnezar juga membawa sebagian dari perkakas rumah TUHAN ke Babel dan menaruhnya di istananya di Babel.” Namun, pasal berikutnya (2 Tawarikh 36:8) menyatakan bahwa riwayat Yoyakim lebih lanjut dicatat dalam “Kitab Raja-raja Israel dan Yehuda”, tanpa menyebutkan secara eksplisit detail kematiannya. Tradisi Yahudi dan tulisan sejarawan Yahudi abad pertama, Flavius Josephus, dalam Antiquities of the Jews (Buku X, Bab 6, Ayat 3, ditulis sekitar tahun 93–94 M), mencatat bahwa Yoyakim dibunuh oleh pasukan Babel dan mayatnya dibuang di luar tembok Yerusalem, selaras dengan nubuat Yeremia.

Dengan demikian, akhir hidup Yoyakim adalah gabungan dari hukuman moral dan kehancuran politik. Ia mati dengan hina, tanpa dimakamkan, dan kerajaannya jatuh ke tangan Babel. Takhta Daud yang diwarisinya tidak berlanjut melalui keturunannya, sebagaimana dinyatakan TUHAN dalam Yeremia 36:30. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa penolakan terhadap firman Allah dan penyalahgunaan kuasa tidak hanya membawa kehancuran pribadi, tetapi juga kehancuran bangsa. 

Ingatkah kita akan dosa yang telah dilakukan Raja Daud terhadap Uria Panglimanya? Lihatlah sikap hatinya setelah mendengar teguran Nabi Natan:

2 Samuel 12:13

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 

Jadi sebagai kesimpulan renungan kita hari ini, bahwa dalam setiap kejadian di mana kita diperhadapkan pada teguran Tuhan, maka sikap hati yang benar adalah merendahkan diri dan mohon diampuni atas segala kesalahan kita, sekalipun kita tidak ingat apa perbuatan salah kita. Jangan sekali-kali mencoba membela diri kita di hadapan Allah, karena Allah melihat seluruh jengkal kehidupan kita secara detail, bahkan lebih detail dari kita sendiri yang menjalaninya. 

Marilah jadikan ini sikap hati kita:

Lukas 18:13

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Rendahkan diri kita, akuilah segala kesalahan kita (ingat atau tidak ingat), perbaiki sikap hidup kita, berjalanlah mengikuti segala firman Tuhan.

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Ratapan 3:22-23

Amin.

Komentar