Yesaya 60 Part 1 tentang "Yesus adalah terang dunia" Seri Nabi Besar by Febrian

20 September 2025

Image by Freepik.com

Yesaya 60 Part 1 tentang "Yesus adalah terang dunia" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Sion Kota Allah Yang Maha Kuasa. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut.
Tuhan Yesus memberkati.

Yesaya 60 [TB-LAI] <-- Klik di sini untuk membaca ayat

Dari ayat bacaan di atas dapat kita pelajari beberapa hal, seperti di bawah ini:

Yesaya 60:1-4

60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 

60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. 

60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. 

60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. 

Yesaya 60:1-4 merupakan nubuat yang sangat signifikan dalam Perjanjian Lama yang menemukan penggenapan dan penafsiran yang mendalam dalam Perjanjian Baru. Berikut adalah analisis berdasarkan penafsiran teologis yang telah mapan dan didukung oleh para Ahli Alkitab terkemuka.

1. Tuhan Yesus sebagai Penggenapan Terang Itu (Injil Yohanes)

Injil Yohanes secara khusus menekankan Yesus sebagai "Terang" yang datang ke dalam dunia, yang secara langsung menggenapi nubuat Yesaya.

Yohanes 1:4-5, 9

"Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya... Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia."

Yohanes 8:12

"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: 'Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.'"

Prof. Dr. D.A. Carson sebagai teolog ahli Perjanjian Baru mengatakan di dalam tulisannya, The Gospel according to John (1991), bahwa penggunaan tema "terang" oleh Rasul Yohanes adalah referensi yang merujuk kepada nubuat Mesianik dari Nabi Yesaya (Yesaya pasal 9, 42, 49, dan 60), untuk menyatakan identitas dan misi Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias.

Prof. N.T. Wright yang adalah mantan Uskup Agung Anglican dan teolog ahli Perjanjian Baru, mengatakan dalam bukunya Jesus and the Victory of God (1996), bahwa Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai penggenapan Israel sejati yang datang dalam rangka menjalankan misi Allah, yaitu menjadi "terang bagi bangsa-bangsa" seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya.

2. Nabi Simeon Memberi Kesaksian tentang "Sang Terang" itu (Injil Lukas)

Saat bayi Yesus dibawa ke Bait Allah, Nabi Simeon yang telah lanjut usia mengenali Dia sebagai penggenapan nubuat.

Lukas 2:30-32

"sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Ucapan Simeon ini hampir merupakan kutipan langsung dari tema Yesaya 60:3 ("Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu").

Prof. Dr. James D.G. Dunn, seorang teolog Perjanjian Baru terkemuka, dalam karyanya Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation (1980), menjelaskan bahwa pengakuan Simeon merupakan bukti bahwa komunitas Kristen awal memahami Yesus sebagai penggenapan nubuat-nubuat Mesianik dalam Kitab Yesaya. Menurut Dunn, Lukas sengaja menampilkan Simeon sebagai representasi dari Israel yang setia yang mampu mengenali Mesias yang dijanjikan.

Dr. Joel B. Green, dalam The Gospel of Luke (1997) yang merupakan bagian dari seri The New International Commentary on the New Testament, menekankan bahwa kata-kata Simeon menunjukkan sifat universal keselamatan yang dibawa Yesus. Green menulis: "Pengakuan Simeon menegaskan bahwa keselamatan yang dibawa Yesus tidak terbatas pada Israel saja, tetapi diperuntukkan bagi semua bangsa, sesuai dengan nubuat Yesaya."

Prof. N.T. Wright, dalam The New Testament and the People of God (1992), menambahkan bahwa pengakuan Simeon merupakan contoh bagaimana Perjanjian Baru membaca Perjanjian Lama secara kristologis. Wright menjelaskan: "Lukas dengan sengaja menggunakan bahasa Yesaya untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan dari harapan Israel akan terang yang akan menerangi bangsa-bangsa."

Dr. Darrell L. Bock, dalam karya monumentalnya Luke 1:1-9:50 (1994) dari seri Baker Exegetical Commentary on the New Testament, menganalisis bahwa pengakuan Simeon memiliki signifikansi teologis yang dalam. Bock menulis: "Dengan menyatakan Yesus sebagai 'terang bagi penyataan bangsa-bangsa,' Simeon mengidentifikasikan Yesus sebagai hamba Tuhan yang dinubuatkan Yesaya, yang membawa keselamatan tidak hanya untuk Israel tetapi untuk semua orang."

Rev. Dr. John Nolland, dalam Luke 1:1-9:20 (1989) dari Word Biblical Commentary, menegaskan bahwa pengakuan Simeon menghubungkan kelahiran Yesus dengan rencana keselamatan Allah yang bersifat universal. Nolland menjelaskan: "Simeon, yang digambarkan sebagai orang yang benar dan saleh, mewakili Israel yang sejati yang menyambut kedatangan Mesias sebagai penggenapan janji-janji Allah."

Dari banyaknya komentar para ahli tersebut, dapat kita percayai bahwa Nabi Simeon merupakan saksi hidup dari kelahiran sang Juru Selamat manusia yang membawa terang ke dalam dunia yang gelap.

3. Terang untuk Bangsa-Bangsa (Kisah Para Rasul)

Pemahaman bahwa terang Mesias untuk bangsa-bangsa lain adalah pesan inti dalam kitab Kisah Para Rasul.

Kisah Para Rasul 13:47-48

Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Ayat ini secara langsung mengutip Yesaya 49:6, yang memiliki tema identik dengan Yesaya 60:

Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.

Dr. Ben Witherington III, seorang teolog ahli Perjanjian Baru dalam tulisannya The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary (1998), mencatat bahwa para penulis Perjanjian Baru melihat seluruh bagian nubuat Yesaya (40-66) sebagai suatu kesatuan yang digenapi dalam misi Yesus dan gereja. Witherington menjelaskan: "Pemilihan Yesaya 49:6 oleh Paulus dan Barnabas menunjukkan kesadaran mendalam bahwa misi mereka kepada bangsa-bangsa non-Yahudi adalah penggenapan langsung dari nubuat-nubuat Mesianik."

Prof. F.F. Bruce, dalam karya klasiknya The Acts of the Apostles: The Greek Text with Introduction and Commentary (1951), menekankan bahwa penggunaan Yesaya 49:6 dalam Kisah Para Rasul 13:47 merupakan bukti bahwa gereja mula-mula memahami diri mereka sebagai penerus misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Bruce menulis: "Paulus melihat dirinya sebagai bagian dari penggenapan nubuat Yesaya—bahwa melalui pelayanannya, terang keselamatan akan sampai ke ujung bumi."

Dr. I. Howard Marshall, dalam The Acts of the Apostles: An Introduction and Commentary (1980) dari seri Tyndale New Testament Commentaries, menjelaskan bahwa respons positif dari orang-orang non-Yahudi dalam Kisah 13:48 menunjukkan kerja Roh Kudus dalam menggenapi nubuat Yesaya. Marshall mencatat: "Sukacita dan penerimaan orang-orang bukan Yahudi terhadap kabar baik merupakan bukti nyata bahwa terang Mesias memang dimaksudkan untuk semua bangsa."

Prof. Darrell L. Bock, dalam Acts (2007) dari Baker Exegetical Commentary on the New Testament, menganalisis bahwa pengutipan Yesaya 49:6 menegaskan sifat universal keselamatan dalam rencana Allah. Bock menyatakan: "Dengan mengutip nubuat tentang menjadi terang bagi bangsa-bangsa, Paulus menegaskan bahwa injil sekarang secara resmi diperluas melampaui batas-batas Israel kepada semua orang."

Dr. Joseph A. Fitzmyer, S.J., dalam The Acts of the Apostles: A New Translation with Introduction and Commentary (1998) dari Anchor Yale Bible Commentaries, menambahkan bahwa pemilihan Yesaya 49:6 sangat strategis karena teks ini awalnya ditujukan kepada "Hamba Tuhan" dalam kitab Yesaya. Fitzmyer menjelaskan: "Dengan menerapkan teks ini kepada diri mereka sendiri, Paulus dan Barnabas menunjukkan bahwa mereka memahami misi mereka sebagai kelanjutan dari misi Hamba Tuhan yang telah digenapi dalam Yesus."

Rev. Dr. John Stott, dalam The Message of Acts: The Spirit, the Church & the World (1990), menekankan aspek praktis dari teks ini bagi gereja masa kini. Stott menulis: "Panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa bukan hanya untuk Paulus dan Barnabas, tetapi untuk gereja di segala zaman. Kita dipanggil untuk membawa terang Kristus kepada mereka yang masih berjalan dalam kegelapan."

4. Gereja sebagai Penerus Terang Itu (Surat-Surat)

Jadi misi Allah, memerintahkan pada Gereja yang adalah tubuh Kristus, bahwa mereka dipanggil sebagai reflektor penerus terang Kristus ke dalam dunia yang gelap ini.

Efesus 5:8, 14

"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 

Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

Seruan "Bangunlah" (atau "Bangkitlah") dalam ayat 14 sangat mirip dengan seruan pembuka Yesaya 60:1: "Bangkitlah, menjadi teranglah..."

Prof. Walter Brueggemann, seorang ahli Perjanjian Lama terkemuka, dalam bukunya Isaiah 40-66 (2014), secara eksplisit menunjuk pada bagaimana Perjanjian Baru mengadopsi bahasa dan citra dari Yesaya untuk mendefinisikan identitas dan etika komunitas orang percaya. Menurut Brueggemann, teks seperti Yesaya 60 menggambarkan suatu visi pemulihan kosmik di mana terang Allah menjadi pusat kehidupan umat. Gambaran tentang Yerusalem yang dipenuhi cahaya ilahi dan bangsa-bangsa yang datang berduyun-duyun bukan sekadar visi politik, melainkan simbol teologis tentang umat Allah yang dipanggil untuk memancarkan terang itu kepada dunia.

Prof. Brueggemann menekankan bahwa Perjanjian Baru—khususnya Injil Yohanes dengan prolog tentang terang yang datang ke dalam dunia (Yohanes 1:1-14) dan kitab Wahyu dengan gambaran Yerusalem baru yang tidak memerlukan matahari atau bulan karena Allah sendiri menjadi terang (Wahyu 21:23)—secara sadar menggunakan citra dari Yesaya 60. Hal ini menunjukkan kesinambungan visi: apa yang dinubuatkan Yesaya tentang Yerusalem yang dipulihkan menemukan kepenuhannya dalam komunitas mesianik yang hidup dari terang Kristus.

Selain itu, Prof. Brueggemann menafsirkan teks ini sebagai dasar etika komunitas iman. Jika terang Allah telah terbit atas umat-Nya, maka identitas mereka adalah sebagai saksi dan pantulan terang itu. Artinya, komunitas percaya tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi tanda kehadiran Allah di tengah bangsa-bangsa. Dengan demikian, teks ini membentuk pemahaman tentang misi, keterbukaan kepada bangsa lain, dan tanggung jawab etis untuk mencerminkan keadilan, belas kasihan, dan damai sejahtera Allah. Yesaya 60 tidak hanya berbicara kepada Israel pasca-pembuangan, tetapi juga berbicara secara profetis kepada gereja masa kini: identitas dan misi orang percaya bersumber dari terang Allah, dan etika kehidupan sehari-hari harus lahir dari kesadaran akan panggilan itu.

5. Penglihatan Akhir Zaman (Wahyu)

Kitab Wahyu menggunakan gambaran yang sangat mirip dengan Yesaya 60 untuk menggambarkan Kota Suci.

Wahyu 21:23-24

"Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya;"

Prof. Richard Bauckham, seorang ahli studi kitab Wahyu, dalam karyanya The Theology of the Book of Revelation (1993), menjelaskan secara mendalam bahwa Rasul Yohanes dalam Wahyu pasal 21–22 secara sadar dan intensif mengadopsi gambaran dari Yesaya 60 untuk menyingkapkan visi eskatologis tentang Yerusalem Baru. Prof. Bauckham menekankan bahwa Yohanes tidak sekadar mengutip atau meniru nubuat Yesaya, tetapi menggambarkannya dalam terang Kristus sebagai pusat seluruh kemuliaan. 

Jika Yesaya 60 menggambarkan kemuliaan Yerusalem sebagai kota Allah yang dipenuhi cahaya dan bangsa-bangsa yang datang membawa kekayaannya, maka Yohanes melihat penggenapannya dalam Tuhan Yesus Kristus, Sang Anak Domba, yang menjadi terang kekal Yerusalem Baru. Tidak ada lagi matahari atau bulan, sebab kemuliaan Allah sendiri menerangi kota itu, dan bangsa-bangsa berjalan dalam terang-Nya.

Menurut Bauckham, menghubungkan Yesaya 60 dalam Wahyu 21–22, berfungsi bukan hanya untuk menekankan hubungan erat janji Allah dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, tetapi juga untuk memperluas cakupannya, yaitu bahwa Yerusalem Baru bukan sekadar pusat ibadah Israel, melainkan pusat alam semesta dari seluruh umat Allah yang ditebus dari segala bangsa. Dengan demikian, penggenapan dari Yesaya 60 ini mencapai puncaknya di dalam Kristus Yesus, di mana segala bangsa masuk dalam terang dan kemuliaan yang tidak berkesudahan.

6. Umat Allah harus bangkit menjadi terang bagi banyak bangsa

Pastor John Calvin menekankan bahwa panggilan untuk "bangkit dan menjadi terang" bukanlah bersumber dari kekuatan manusia, melainkan berasal dari Allah yang hadir dan menyinari. Ps. John Calvin menuliskan tafsirannya tentang Yesaya 60 tersebut, dalam karya besarnya yang berjudul "Commentaries on the Book of the Prophet Isaiah". Karya ini merupakan bagian dari seri tafsiran Kitab Suci yang ia tulis sepanjang hidupnya, terutama pada periode tahun 1540–1550-an, ketika ia menetap di Jenewa. Tafsiran ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Latin dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, sehingga menjadi salah satu warisan utama Calvin bagi dunia teologi.

Makna dari ungkapan “bukan bersumber dari kekuatan manusia, melainkan berasal dari Allah yang hadir dan menyinari” menekankan teologia anugerah. Ps.Calvin ingin menunjukkan bahwa "kemuliaan" dan "terang" yang dinubuatkan Yesaya tidak mungkin dicapai oleh usaha manusiawi semata. Israel yang kecil, lemah, bahkan tertindas oleh bangsa-bangsa besar tidak mungkin menjadi terang dengan kekuatan politik, ekonomi, atau budaya mereka. Terang itu hanya mungkin muncul karena Allah sendiri turun tangan, hadir, dan menyatakan kemuliaan-Nya. Dengan kata lain, pusat dari kebangkitan Yerusalem adalah karya Allah, bukan prestasi manusia.

Jika dikaitkan dengan latar belakang sejarah Israel, firman ini datang kepada bangsa yang pernah mengalami kehancuran besar: pembuangan ke Babel, hancurnya kota Yerusalem, dan keruntuhan Bait Allah. Situasi ini menimbulkan rasa putus asa dan kehilangan identitas sebagai umat pilihan. Ketika Yesaya bernubuat bahwa terang Tuhan akan terbit atas Yerusalem, hal itu merupakan jawaban langsung terhadap keadaan gelap mereka. Allah berfirman demikian untuk menegaskan bahwa meskipun secara lahiriah mereka hancur, namun Allah tetap setia, Ia akan memulihkan, menyinari, dan mengangkat mereka kembali. 

Pesannya tersebut bukan sekadar untuk bangsa Israel saat itu saja, melainkan pesan universal: umat Allah di segala zaman hanya dapat bangkit dan menjadi terang bila Allah sendiri berkenan hadir dan memancarkan kemuliaan-Nya.

7. Pemulihan hidup umat Allah 

Matthew Henry (1662–1714) adalah seorang pendeta Nonkonformis dan penulis Presbiterian kelahiran Wales yang menghabiskan sebagian besar hidupnya berkarya di Inggris. Karya tafsir terkenalnya berjudul Exposition of the Old and New Testaments, sebuah karya enam jilid yang disusun dan diterbitkan pada awal abad ke-18, umumnya tercatat antara tahun 1704 sampai 1714.

Dalam penafsirannya terhadap Yesaya 60:1-4, Matthew Henry melihat panggilan "bangkitlah dan jadilah terang" sebagai seruan yang menegaskan pemulihan rohani Yerusalem dan peranan umat Allah sebagai pusat terang bagi bangsa-bangsa. Henry menekankan bahwa nubuat ini menunjukkan perubahan radikal dari kegelapan kepada kemuliaan: bukan sekadar kebangkitan lahiriah atau politik, melainkan pemulihan yang menimbulkan kehidupan ibadat, penghormatan bangsa-bangsa, dan kembalinya umat yang tercerai-berai. Ia membaca teks ini dengan nada pastoral dan aplikatif—menyoroti bahwa janji-janji pemulihan Allah tidak hanya bersifat nasional bagi Israel, tetapi memiliki dimensi yang bersentuhan dengan pengalaman jemaat dan kehidupan orang percaya.

Gaya penafsiran Henry cenderung menggabungkan pengamatan historis-tekstual dengan aplikasi praktis. Ia melihat gambaran anak-anak yang datang dari jauh, kekayaan bangsa-bangsa, dan arak-arakan pemulangan sebagai tanda bahwa hadirat Allah memulihkan martabat umat-Nya sehingga mereka menjadi magnet rohani bagi orang lain. Menurut Henry, inti dari panggilan menjadi terang adalah kembalinya hubungan yang hidup dengan Allah sehingga ibadat, kesaksian, dan daya tarik rohani itu menjadi nyata.

Penulisan Henry bersifat pastoral dan ditujukan untuk pembaca gerejawi: tafsirnya berusaha menolong pembaca memahami baik konteks historis nubuat maupun implikasi praktisnya bagi kehidupan iman—sehingga pembaca dipanggil untuk hidup yang mencerminkan terang Allah dalam perilaku, ibadat, dan kesaksian di tengah dunia.

8. Umat Allah adalah saksi yang memancarkan kemuliaan Allah

Sementara itu, teolog kontemporer Pdt. Christopher J.H. Wright melihat nubuat Yesaya 60 adalah misi Allah yang universal, yaitu bangsa-bangsa datang kepada terang Allah, sehingga umat Tuhan berfungsi sebagai saksi yang memantulkan kemuliaan-Nya. Para ahli Perjanjian Lama seperti Brevard Childs juga menekankan bahwa gambaran anak-anak kembali dari jauh menunjukkan kesatuan komunitas yang dipulihkan, menandai karya keselamatan yang menyeluruh.

Refleksi bagi kehidupan kita sekarang adalah bahwa terang Tuhan tetap relevan di tengah kegelapan dunia modern: krisis moral, konflik, dan ketidakpastian. Kita dipanggil untuk tidak tinggal dalam pasifitas, tetapi "bangkit" dan memancarkan terang itu melalui kehidupan sehari-hari: bersikap adil, penuh kasih, jujur, dan membawa pengharapan. Ketika kita hidup memantulkan terang Kristus, orang lain pun akan tertarik dan berduyun-duyun mendekat, menemukan sukacita dan keselamatan yang sejati.

Jadi pesan utama dari Yesaya 60:1-4, adalah bahwa terang Tuhan sudah hadir untuk mengusir kegelapan dan terang itu digenapi dalam diri Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai terang sejati yang datang untuk memberi hidup dan mengalahkan dosa. Gereja sebagai umat Allah dipanggil untuk bangkit dan memantulkan terang Kristus itu kepada dunia, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga sebagai bagian dari misi bagi semua bangsa. Dengan demikian, nubuat ini memberi dasar bahwa Injil adalah kabar baik untuk seluruh umat manusia.

Selain itu, Yesaya 60 juga memberi pengharapan besar bahwa suatu hari nanti, pada akhir zaman, terang itu akan mencapai puncaknya dalam Yerusalem Baru. Di sana, tidak akan ada lagi kegelapan, sebab Allah sendiri menjadi terang yang kekal, dan semua bangsa akan datang kepada-Nya.

Jadi, Yesaya 60:1-4 bukan hanya berbicara kepada Israel pada zamannya, tetapi juga berbicara kepada kita sekarang: untuk hidup dalam terang Kristus, menjadi berkat bagi sesama, dan menantikan penggenapan janji Allah yang penuh kemuliaan.

Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku,
ia tidak akan berjalan dalam kegelapan,
melainkan ia akan mempunyai terang hidup.

Yohanes 8:12

Amin.

Komentar