Yesaya 56 tentang "Janji keselamatan bagi semua orang" Seri Nabi Besar by Febrian

14 September 2025

Image by Freepik.com

Yesaya 56 tentang "Janji keselamatan bagi semua orang" Seri Nabi Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Kristus yang memberi keselamatan bagi semua orang, serta syarat bagi kita umat manusia dalam menanggapi anugerah Allah tersebut. Kiranya firman Tuhan di atas dapat menjadi berkat buat kita semua.
Tuhan Yesus memberkati.

Yesaya 56 <-- Klik di sini untuk membaca seluruh ayat.

Yesaya 56:1-2

Keselamatan adalah bagi semua orang

Beginilah firman TUHAN: 

Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan.

Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: 

  1. yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan 
  2. yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.
Penjelasan:

1. Yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya

Menurut Latar belakang sejarah Alkitab, Hari Sabat adalah tanda perjanjian Allah dengan Israel (Keluaran 31:13, Yehezkiel 20:12). Sabat menjadi identitas umat Allah, simbol perhentian dan kesetiaan kepada-Nya. Menajiskan Sabat berarti melanggar kekudusan hari itu, misalnya dengan bekerja atau menyalahgunakannya.

Sesuai dengan tulisan dalam bukunya, Pastor John N. Oswalt mengatakan, bahwa penekanan Sabat di sini bukan hanya soal ritus legal atau liturgi kewajiban, tetapi lebih ke arah kesetiaan umat kepada perjanjian mereka dengan Allah. Sabat adalah lambang dari kehidupan umat yang tunduk kepada Allah, dalam artian bukan sekadar menjalani aturan yang berlaku, namun karena cinta dan hormat. 

Prof. Walter Brueggemann dalam bukunya menekankan "Sabat" dalam ayat di atas, sebagai kritik terhadap sistem ekonomi dan politik yang menindas, yaitu bahwa dengan memelihara Sabat, umat Israel dapat belajar mengandalkan Allah, bukan kekuatan mereka sendiri atau mengandalkan harta mereka. Dalam Perjanjian Baru, Sabat digenapi dalam Kristus (Ibrani 4), artinya perhentian sejati ada pada iman kepada-Nya. 

2. Yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat

Prinsip inilah yang diajarkan Allah bagi umat Israel, yaitu hidup mengutamakan Allah dengan senantiasa menjaga kekudusan tubuh.

Nabi Yesaya menekankan, bahwa ketaatan tidak boleh berhenti pada ritual keagamaan, namun harus nyata dalam perilaku moral keseharian. "Menahan diri" berarti menguasai hawa nafsu, hidup jujur dan menolak korupsi, menghindari kekerasan, jauh dari penindasan melainkan murah hati serta menjauhi ketidakadilan sosial.

Menurut Prof. Christopher R. Seitz "iman yang benar" selalu ditandai dengan moralitas hidup yang dapat disaksikan oleh semua orang. Dalam konteks ini, menjalankan ritual Sabat tanpa hidup dalam etika moral yang benar, akan berwujud suatu kemunafikan. Hal ini sama seperti yang dikecam oleh Nabi Yesaya dalam Yesaya 1:13-17

Prof. Terence E. Fretheim menekankan suatu pernyataan dalam bukunya, bahwa "menahan diri dari kejahatan" adalah syarat mutlak dalam keselamatan Allah. Artinya, berkat tidak datang otomatis, tetapi berjalan seiring dengan pilihan hidup yang kudus. Setiap orang yang mengaku dirinya Kristen, wajib menjaga hidupnya kudus dengan kesadaran bahwa segala berkat yang diterima dari Allah adalah karena kasih Allah yang kudus. Tidak bisa kita berkumpul dengan Allah yang kudus, jika kita tidak hidup dalam kekudusan.

Yesaya 56:3-7

Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: "Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering."

Sebab beginilah firman TUHAN: 

  1. Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama—itu lebih baik daripada anak-anak lelaki dan perempuan—, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 
    • Dalam dunia kuno, khususnya di Timur Tengah dan Asia, orang kebiri adalah laki-laki yang dikebiri atau dibiarkan tanpa kemampuan reproduksi. Mereka biasanya dijadikan pelayan istana, penjaga harem, atau pejabat administrasi karena dianggap lebih dapat dipercaya (tidak punya keturunan untuk membangun dinasti sendiri). Dalam hukum Taurat (Ulangan 23:1), orang yang dikebiri tidak boleh masuk dalam jemaat TUHAN. Karena itu, mereka berada di posisi terpinggirkan dalam kehidupan keagamaan Israel. Namun, Yesaya 56 menyatakan bahwa bila mereka memelihara hari Sabat dan berpegang pada perjanjian, Allah akan memberi mereka "nama abadi" dalam rumah-Nya. Menurut teolog John N. Oswalt, bagian ini menandai perubahan besar: keselamatan Allah tidak lagi dibatasi oleh kondisi biologis atau sosial, tetapi oleh iman dan ketaatan. Perjanjian Baru menggemakan hal ini, misalnya dalam kisah sida-sida Etiopia yang dibaptis oleh Filipus (Kisah Para Rasul 8:26-39), sebagai penggenapan nubuat Yesaya 56.
  2. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
    • Secara historis, orang asing adalah bangsa-bangsa non-Israel yang tinggal di sekitar atau dalam wilayah Israel. Mereka sering dianggap tidak tahir, penyembah berhala, dan berada di luar perjanjian Allah dengan Israel. Taurat sendiri memberi aturan khusus tentang bagaimana memperlakukan orang asing (Imamat 19:34: "Orang asing yang tinggal padamu haruslah kamu anggap sama seperti orang Israel asli, dan engkau harus mengasihi dia seperti dirimu sendiri"). Tetapi dalam praktiknya, orang asing sering tetap dipandang sebagai orang luar. Menurut teolog Brevard S. Childs dan Christopher R. Seitz, Yesaya 56 merupakan salah satu teks kunci yang membuka pintu universalitas iman Israel: bahwa rumah Allah akan disebut "rumah doa bagi segala bangsa." Pandangan ini menjadi dasar teologi Perjanjian Baru tentang Injil yang berlaku bagi semua orang, tanpa perbedaan Yahudi atau non-Yahudi (Roma 10:12-13).
Yesaya 56:8-12

Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang:

Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.

Pemimpin-pemimpin yang fasik

Hai segala binatang di padang, hai segala binatang di hutan, datanglah untuk makan!

Sebab pengawal-pengawal umat-Ku adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa; mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak; mereka berbaring melamun dan suka tidur saja; anjing-anjing pelahap, yang tidak tahu kenyang. Dan orang-orang itulah gembala-gembala, yang tidak dapat mengerti! Mereka semua mengambil jalannya sendiri, masing-masing mengejar laba, tiada yang terkecuali.

"Datanglah," kata mereka, "aku akan mengambil anggur, baiklah kita minum arak banyak-banyak; besok akan sama seperti hari ini, dan lebih hebat lagi!"

Para ahli teologi umumnya melihat bagian ini sebagai kontras: janji Allah untuk menghimpun umat-Nya (ayat 8) diikuti dengan kritik tajam terhadap para pemimpin yang fasik (ayat 9–12). 

Prof. John N. Oswalt dalam bukunya "The Book of Isaiah" Versi NICOT, menekankan bahwa Yesaya 56:8 menggambarkan visi Allah, yaitu tidak hanya orang Israel yang kembali dari pembuangan, tetapi juga bangsa-bangsa lain akan ditambahkan ke dalamnya. Hal ini menunjukkan, bahwa rencana keselamatan Allah, melampaui batas etnis dan nasional Israel, namun menjangkau seluruh umat manusia. Namun pada kenyataannya, visi ini segera dikontraskan dengan kenyataan pahit, yaitu sikap dari para pemimpin Israel yang tidak siap menyambut rencana Allah akibat egoisme dan buta secara rohani.

Prof. Walter Brueggemann menulis tentang "Isaiah 40–66", dalam Westminster Bible Companion, yaitu dalam Yesaya 56:9-12 sebagai 'satir pedas' terhadap kepemimpinan religius dan politik Yehuda zaman itu. Istilah “anjing bisu” dan “gembala-gembala yang tidak mengerti”, menggambarkan suatu kepemimpinan yang gagal menjalankan tanggung jawabnya. Bagi Prof. Brueggemann, teks ini adalah kritik sosial-politik, di mana para pemimpin lebih sibuk mencari keuntungan pribadi dan kenikmatan instan (“minum arak banyak-banyak”) dibanding menjaga umat dalam kebenaran.

Prof. J. Alec Motyer dalam bukunya "The Prophecy of Isaiah", menyoroti ironi dalam teks tersebut di atas, yaitu Allah sedang 'mengumumkan' karya pengumpulan umat secara besar-besaran, namun pemimpin-pemimpin yang seharusnya 'menjaga' kawanan justru berubah menjadi 'ancaman'. Istilah “anjing pelahap” menggambarkan sifat rakus yang menjijikkan. Prof. Motyer menyatakan, bahwa pemimpin rohani yang telah kehilangan arah seperti itu, bukan hanya tidak berguna, tetapi malah menjadi berbahaya bagi umat.

Prof. Christopher R. Seitz dalam tulisannya "Isaiah 40–66, Interpretation Commentary",  menegaskan bahwa bagian Alkitab ini menunjukkan kontras secara teologis antara “rencana Allah” (Yesaya 56:8) dan “kenyataan manusia” (Yesaya 56:9–12). Pro. Seitz menyebutnya sebagai “tragedi kepemimpinan Israel,” di mana Allah siap membawa keselamatan, tetapi orang-orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga umat, malah sebaliknya justru menjadi penghalang.

Dengan demikian, para teolog melihat ayat-ayat tersebut bukan sekadar nubuat yang berlaku di zaman itu, tetapi juga sebagai peringatan rohani yang masih tetap relevan di segala zaman, hingga masa kini. Di satu sisi, ada janji besar Allah untuk menghimpun umat-Nya, di sisi lain ada ancaman serius dari kepemimpinan yang korup, buta rohani, dan hanya mengejar keuntungan pribadi. Jujur di zaman modern ini, juga terjadi seperti ini.

Jadi secara keseluruhan dalam Yesaya 56 ini, Allah mengajar kita, bahwa memang betul Allah telah menganugerahkan keselamatan bagi umat-Nya, namun harus ada pembaharuan dalam sikap umat maupun pemimpin umat itu. Kehidupan yang benar, sesuai kehendak Allah lah yang wajib kita jalankan sebagai umat Allah. 

Semoga firman Tuhan ini dapat menjadi berkat bagi kita semua.

Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

2 Samuel 22:3
Amin.

Komentar