Yesaya 23 tentang "Tuhan merendahkan orang yang sombong" Seri Nabi Besar by Febrian

19 Juli 2024


Yesaya 23 tentang "Tuhan merendahkan orang yang sombong" Seri Nabi Besar

Yesaya 23:1-18

Ucapan Ilahi terhadap Tirus dan Sidon

Ucapan ilahi terhadap Tirus. Merataplah, hai kapal-kapal Tarsis, sebab sudah terjadi kehancuran, tiada lagi rumah. Ketika mereka tiba dari negeri orang Kitim hal itu dinyatakan kepada mereka. Berdiam dirilah, hai penduduk tanah pesisir, hai saudagar Sidon; suruhan-suruhanmu mengarungi laut.

Di berbagai perairan barang daganganmu ialah gandum dari Sihor, panen daerah Nil, sehingga kota itu menjadi pasar bagi bangsa-bangsa. Merasa malulah Sidon, hai benteng di pinggir laut, sebab laut berbicara, "Aku tidak pernah menggeliat sakit dan tidak melahirkan, aku tidak pernah membesarkan anak-anak taruna, dan tidak mengasuh anak-anak dara."

Ketika terdengar sampai ke Mesir, mereka akan gemetar seperti ketika mendengar kabar tentang Tirus.

Mengungsilah ke Tarsis, merataplah, hai penduduk tanah pesisir!

Inikah kotamu yang bersukaria, yang asalnya dari zaman purbakala? Bukankah langkahnya telah membawanya ke tempat yang jauh untuk menetap di sana?

Siapakah yang memutuskan ini atas Tirus, si penganugerah mahkota, yang saudagar-saudagarnya pembesar dan pedagang-pedagangnya orang mulia di bumi?

TUHAN Semesta Alam yang telah memutuskan untuk merendahkan kesombongan segala yang semarak, untuk merendahkan semua orang mulia di bumi.

Kerjakanlah ladangmu seperti lahan Sungai Nil, hai Putri Tarsis, sebab galangan-galangan kapal sudah tidak ada lagi!

TUHAN telah mengacungkan tangan-Nya terhadap laut dan membuat kerajaan-kerajaan gemetar; Ia telah memberi perintah mengenai Kanaan untuk memusnahkan benteng-bentengnya.

Ia berfirman, "Engkau tidak akan bersukaria lagi, hai Anak dara yang teraniaya, hai Putri Sidon! Bangkitlah, mengungsilah kepada orang Kitim! Di sana pun tidak akan ada ketenteraman bagimu."

Lihat negeri orang Kasdim! Bangsa itu lah yang melakukannya, bukan orang Asyur. Mereka telah menyerahkan Tirus kepada binatang-binatang gurun, mendirikan menara-menara pengepungan, meratakan puri-puri kota itu, dan membuat kota itu menjadi reruntuhan.

Merataplah, hai kapal-kapal Tarsis, sebab bentengmu sudah dihancurkan!

Pada waktu itu, Tirus akan dilupakan tujuh puluh tahun lamanya, seperti umur seorang raja. Pada akhir tujuh puluh tahun itu akan terjadi atas Tirus seperti dalam nyanyian tentang pelacur berikut ini,

"Ambillah kecapi, kelilingilah kota, hai pelacur yang dilupakan! Petiklah baik-baik, nyanyikanlah banyak nyanyian, supaya engkau dikenang."

Pada akhir tujuh puluh tahun itu TUHAN akan memperhatikan Tirus, sehingga ia kembali mendapat upah pelacurannya, dan ia akan melacurkan diri dengan segala kerajaan yang ada di muka bumi.

Labanya dan upah pelacurannya akan kudus bagi TUHAN, tidak akan ditahan atau disimpan, tetapi dengan labanya itu akan disediakan makanan yang cukup dan pakaian yang indah bagi orang-orang yang diam di hadapan TUHAN.

Bacaan kita hari ini dari Yesaya 23:1-18 mengisahkan tentang nubuat kehancuran Tirus, sebuah kota pelabuhan yang sangat kaya dan berpengaruh pada zamannya. Kisah Tirus ini bukan hanya cerita kuno, melainkan cermin bagi kehidupan kita di masa kini.

Pokok pikiran pertama yang bisa kita ambil adalah bahwa kemegahan dan kekayaan duniawi yang tidak disandarkan pada TUHAN pasti akan runtuh. Ayat 1-4 menggambarkan ratapan atas Tirus, yang tadinya adalah pusat perdagangan dunia. Kapal-kapal Tarsis, yang melambangkan kejayaan maritimnya, kini meratap karena kehancuran Tirus. Kota yang kaya dari perdagangan gandum dari Sihor (Mesir) ini, yang menjadi pasar bagi bangsa-bangsa, kini diliputi rasa malu. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita banggakan di dunia ini, jika tidak memiliki fondasi yang kuat pada kebenaran ilahi, akan rapuh pada waktunya.

Mari sejenak kita membayangkan sebuah bangunan pencakar langit megah dan sangat tinggi, dibangun dengan teknologi Tercanggih dan bahan-bahan termahal. Namun, sekalipun hebatnya struktur bangunan di atasnya, jika Pondasi di bagian bawahnya tidak dibangun dengan kokoh, apalagi tidak mengikuti standar yang benar, maka dengan mudahnya badai besar bisa merobohkan seluruh bangunan. Demikian pula kita dengan segala kekayaan dan pengaruh yang kita banggakan, jika tidak didasarkan pada hidup benar dan iman yang teguh kepada TUHAN, hidup kita bisa runtuh kapan saja.

Dapat kita pelajari juga dari ayat-ayat bacaan di atas, bahwa hanya TUHAN yang berdaulat atas segala ciptaan-Nya. Allah lah yang mengatur dan mengendalikan seluruhnya dalam alam semesta ini. Allah membenci manusia yang menyombongkan dirinya dan akan merendahkan mereka. 

Pada Yesaya 23:8-9 secara tegas Allah berfirman, "Siapakah yang memutuskan ini atas Tirus, si penganugerah mahkota, yang saudagar-saudagarnya pembesar dan pedagang-pedagangnya orang mulia di bumi? TUHAN Semesta Alam yang telah memutuskannya untuk menistakan kesombongan segala yang semarak, untuk merendahkan semua orang mulia di bumi.

Allah memberi peringatan keras, bahwa sehebat apapun pencapaian atau status sosial kita, pada akhirnya, kendali mutlak ada di tangan TUHAN. Dia tidak akan membiarkan kesombongan berkuasa selamanya.

Ada seorang atlet berbakat yang berulangkali memenangi pertandingan yang diikutinya. Lama kelamaan, ia mulai merasa hebat dan sombong, serta meremehkan lawan-lawannya. Pikirnya, bahwa kemenangannya tersebut, semata-mata karena latihan dan kemampuannya sendiri. Hingga terjadilah, dalam suatu pertandingan terpenting semasa kariernya, justru ia terjatuh dan cidera. Ia lupa, bahwa keberhasilan setiap orang, bukan hanya hasil dari latihannya, tetapi termasuk juga penjagaan TUHAN, perlindungan-Nya dan pagar yang Ia berikan. Kekalahan itu menjadi pengingat bagi semua orang, bahwa keberhasilan yang kita raih, semata-mata bukanlah hasil usaha  kita sendiri, dan juga bahwa kesombongan bisa membawa kehancuran bagi semua yang sudah kita rintis sebelumnya.

Firman Tuhan ini juga memberikan kita pengharapan akan pemulihan. Tuhan mau kita bangkit kembali dari keterpurukan yang mungkin kita alami karena didikan-Nya. Namun, waspadalah Allah tidak mau kita pulih dan kembali kepada kesombongan lama, melainkan untuk tujuan yang kudus dan mulia. 

Jika kita perhatikan Yesaya 23:17-18 berbicara tentang Tirus yang telah dilupakan selama 70 tahun, kembali diingat Allah. Allah berfirman bahwa Tirus "kembali mendapat upah pelacurannya". Artinya bahwa Tirus akan dipulihkan kembali, setelah menerima hukuman didikan Allah selama 70 tahun. 

Yesaya 23:18

"Labanya dan upah pelacurannya akan kudus bagi TUHAN, tidak akan ditahan atau disimpan, tetapi dengan labanya itu akan disediakan makanan yang cukup dan pakaian yang indah bagi orang-orang yang diam di hadapan TUHAN." Menunjukkan bahwa setelah masa hukuman, ada kesempatan untuk tujuan yang lebih tinggi—menyediakan berkat bagi umat TUHAN. Allah mau bahwa mereka kembali menjadi bangsa yang kudus di hadapan-Nya dan segala berkat yang mereka terima, bisa menjadi kudus jika dipersembahkan dan dipakai untuk kemuliaan Allah serta mendukung pekerjaan-Nya.

Melihat kisah Tirus ini, coba kita introspeksi diri. Apakah kita saat ini sedang membangun "kerajaan" kita sendiri, dengan merasa bahwa segala yang kita miliki ini adalah hasil usaha kita, sehingga tidak sadar kesombongan dan ketamakan mulai muncul.

Allah mengajar kita untuk membangun hidup kita di atas dasar yang teguh, yaitu Kristus. Biarlah segala pencapaian, kekayaan, dan pengaruh yang kita miliki, senantiasa kita arahkan untuk kemuliaan TUHAN, juga bukan hanya kita yang diberkati, tetapi juga banyak orang lain melalui kita.

"Namun, siapa yang bermegah,
hendaklah ia bermegah di dalam TUHAN."
Sebab bukan orang yang memuji diri
yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji TUHAN.

2 Korintus 10:17–18

Amin.

Komentar